Tamu Kita

Sherly Irawati: Mulanya dari Iseng-iseng

Awal 2015 lalu, Sherly Irawati, S.H, warga Kota Maumere, Kabupaten Sikka, meraih juara dua dalam lomba kerajinan kreasi kreatif di Kupang

istimewa
Sherly Irawati, SH 

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Awal 2015 lalu, Sherly Irawati, S.H, warga Kota Maumere, Kabupaten Sikka, meraih juara dua dalam lomba kerajinan kreasi kreatif generasi muda NTT dalam meningkatkan nilai ekonomi yang berdaya saing.

Lomba digelar di Kupang. Kerajinan yang dibawa Sherly dalam ajang lomba itu berupa aksesoris wanita seperti gelang, kalung dan tusuk konde. Sederhana memang. Namun aksesoris itu menggunakan bahan dari percah-percah kain yang berasal dari kain tenun ikat Sikka.

Itulah yang membuat aksesoris 'ciptaan' Sherly menjadi unik dan menarik. Bagaimana awalnya Sherly membuat aksesoris dari bahan tenun ikat Sikka itu dan apa sebenarnya tujuan utama yang akan diraihnya?

Semuanya dikisahkan Sherly dalam wawancara ekslkusif bersama wartawati Pos Kupang, OMDSMY Novemy Leo, seusai perlombaan di Kupang.

Anda meraih juara dua dalam perlombaan, puaskah Anda dengan hasil perlombaan itu?

Saya melihat kemenangan ini sebagai suatu tanggung jawab moral yang harus saya emban untuk terus meningkatkan upaya pelestarian budaya di Sikka pada khususnya dan di NTT pada umumnya. Terutama dalam hal pengembangan tenun ikat Sikka melalui kerajinan guna meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.

Bisa mengikuti perlombaan ini saja sudah membuat saya sangat bahagia dan bangga. Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa kemenangan saya ini untuk keluarga, suami dan anak saya. Juga untuk seluruh masyarakat Kabupaten Sikka. Kemenangan ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus mengembangkan dan melestarikan budaya Sikka, khususnya tenun ikat Sikka.

Anda mengatakan mengikuti perlombaan saja Anda sudah bahagia, mengapa?
Ya, karena dengan perlombaan ini saya bisa bertemu dengan banyak perajin-perajin dari seluruh daerah di NTT. Saya bisa berkenalan dengan mereka, berbagi pengalaman dan hal ini tentu tidak bisa terjadi setiap hari.

Dan, kerajinan yang mereka bawa dalam perlombaan itu sangat bermacam-macam, kreatif dan bagus-bagus. Di situ kita bisa saling belajar bagaimana mengembangkan kreatifitas dalam diri kita. Saya diberitahu bahwa ada lomba kerajinan dan saya diminta ikut. Semula saya ragu, tapi ibu Evelyn memotivasi agar saya harus ikut sehingga bisa lebih kaya pengalaman dan akhirnya saya ikut lomba itu di Kupang.

Saat teknical meeting saya sempat pesimis ketika tahu bahwa pesertanya adalah orang-orang hebat, seperti pelaku seni budaya, guru, dosen, aktifis, yang semuanya berlatar belakang kesenian, ada juga perajin-perajin. Tentu mereka sangat berpengalaman, sedangkan saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang masih minim pengalaman.

Tapi pikir saya, ya menang atau kalah bukan masalah atau tujuan. Tapi proses perlombaan itu yang sangat bernilai karena bisa menambah pengalaman kita. Saya berusaha tampil maksimal dan saya meraih juara dua. Dan, kemenangan itu saya anggap sebagai bonus, bukan target utama yang harus dicapai.

Bisa ceritakan awal mula Anda membuat kerajinan dari tenun ikat Sikka?
Saya punya usaha toko kecil di Maumere, namanya Jaya Baru di Jalan A Yani, dekat Stadion Gelora Samador. Di toko itu saya menjual berbagai macam barang. Ada juga beberapa aksesoris buatan saya seperti kalung, gelang, yang saya buat dari bahan monte. Saya memang suka membuat aksesoris sejak masih duduk di bangku SMA.

Kemudian sekitar dua bulan lalu, saya menjahit rok modifikasi yang berasal dari kain tenun ikat Sikka. Saat saya mengambil jahitan, ada sisa kain tenun ikat dan itu saya bawa pulang. Sampai di rumah setelah mencoba rok itu, saya melihat percah-percah kain tenun ikat. Pikir saya, apa yang bisa saya manfaatkan dari sisa kain tenun ikat itu.

Dan, iseng- iseng saya membuat kerajinan boneka atau miniatur yang mengenakan busana adat Sikka. Dari situlah ide saya muncul untuk bagaimana cara memodifikasi berbagai bentuk kalung, gelang, anting-anting dan tusuk konde yang terbuat dari bahan tenun ikat Sikka. Dan, akhirnya jadilah seperti sekarang ini.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved