profil
Valentino LC Kusuma : Pusing Langsung Hilang
Usianya baru menginjak 18 tahun, namun remaja lelaki ini sudah memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis.
Penulis: omdsmy_novemy_leo | Editor: omdsmy_novemy_leo
POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Usianya baru menginjak 18 tahun, namun remaja lelaki ini sudah memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis. Tak heran, karena bakat ini "ditularkan" langsung ayahnya, Herlan Effendi Pongkapadang, S.E, M.M, dan Ibu Merry Rinandez Ch Pongkapadang-Mesah.
Sudah empat bulan terakhir ini, Valentino Lionel Cendana Kusuma Pongkapadang, memulai bisnis menjual berbagai selendang tenun ikat khas NTT.
Selendang ikat yang dijual di Ruko Friendship Blok A1 dan A2 Naikoten 1 Kupang atau tepatnya di Depan Hotel Sylvia Kupang itu laku keras. Pembelinya tak hanya orang lokal, tapi juga dari luar NTT hingga mancanegara.
Ditemui di rukonya, awal Juli 2015 lalu, Valen - begitu panggilan akrabnya, mengatakan, promosi yang dilakukan pun efektif, yakni lewat facebook bernama 'Selendang Tenun Ikat NTT.' Hingga kini teman facebook-nya sudah mencapai ribuan orang dan pada umumnya mereka adalah pelanggannya.
Pria yang lahir di Kupang ini mengatakan, sejak kecil dia sudah diajari berbisnis oleh papa mama dan kini ia lakukan dengan enjoy. Papa dan mama Valen juga berbisnis menjual berbagai kain tenun ikat khas NTT dan sudah berjalan sekitar setahun lebih.
"Saya mencoba memulai bisnis ini dan ternyata perkembangannya lumayan. Saya senang jika banyak selendang tenun ikat yang laku terjual. Selain dapat untung juga sekalian ikut mempromosikan tenun ikat NTT kepada masyarakat di dalam maupun di luar NTT," kata lelaki yang suka main alat musik Sasando ini.
Lelaki kelahiran 13 Juni 1989 ini mengatakan, suka duka dirasakan saat menjalankan usahanya itu. Namun semua itu dijalankan penuh sukacita.
"Sukanya, saya bisa cari uang sendiri dan bisa ikut mempromosikan hasil kerajinan tenun ikat khas NTT. Susahnya, memang saya mengalami sedikit kesulitan dalam mengatur waktu belajar. Namun sepanjang ini masih bisa saya atasi," kata anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Pelajar kelas 12 SMA Negeri 3 Kupang, ini punya banyak pengalaman menarik saat "berburu" tenun ikat khas NTT ini ke beberapa daerah. Menurutnya, untuk Flores, Rote dan Sabu, biasanya ada penenun yang datang mengantar ke rukonya. Sedangkan untuk daratan Timor seperti SoE, biasanya dia bersama papa dan mama langsung turun dan membeli langsung ke tempat pembuatan tenun ikat itu.
Valen mengatakan, saat pertama kali pergi ke sebuah desa di Kabupaten TTS itu, dia hampir kapok. Karena selain harus naik bus, kondisi ruas jalan ke desa itu sangat buruk sehingga fisiknya drop.
"Saya sampai pusing karena kendaraannya sangat goyang melewati jalan yang rusak. Tapi, pusing saya langsung hilang saat sampai ke desa itu dan melihat keindahan hasil tenun ikatnya," kata lelaki berambut lurus ini.
Mengenai harga, Valen mengatakan, satu lembar selendang itu bervariasi mulai dari Rp 200.000 hingga Rp 2 juta. Harga tergantung pada motif dan kualitas tenun ikat.
Diakhir wawancaranya, Valen berpesan kepada anak-anak muda di NTT untuk bisa memanfaatkan waktu luang dengan sebaiknya. Dan tidak mengisinya dengan kegiatan yang tidak bermanfaat atau merugikan diri sendiri.
"Gunakan waktumu dengan sebaiknya. Lakukan kegiatan yang bermanfaat yang bisa menghasilkan uang atau yang bisa dapat melestarikan budaya NTT, seperti yang saya lakukan ini," ajak Valen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/valentino-lionel-cendana-kusuma-pongkapadang-1_20150710_114239.jpg)