Tamu Kita

Shirley Manutede Promosi Tenun Ikat Lewat Medsos

Jaksa di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur (NTT) ini sangat fashionable, khususnya ketika sedang tidak bertugas atau di luar kantor.

istimewa
SHIRLEY--Shirley Manutede bersama ibunda, Adriana Kanahebi, dalam sebuah acara, belum lama ini. 

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Jaksa di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur (NTT) ini sangat fashionable, khususnya ketika sedang tidak bertugas atau di luar kantor. Koleksi busana tenun ikat khas NTT dan aksesorisnya lebih banyak menggunakan bahan dari tenun ikat khas NTT. Dialah Shirley Manutede, SH, MH, Kasi 1 Bidang Inteligen Kejati NTT.

Semua itu dilakukan untuk mewujudkan misi atau mimpinya yang sederhana namun penting. Yakni bagaimana dia bisa berperan dalam mempromosikan tenun ikat NTT kepada masyarakat di dalam maupun di luar NTT. Bagaimana cara Shirley mewujudkan mimpinya itu, diceritakannya dalam wawancara eksklusif bersama wartawati Pos Kupang, OMDSMY Novemy Leo, pertengahan Juni 2015 lalu.

Sejak kapan Anda menyukai tenun ikat NTT?
Saya sudah menyukai tenun ikat NTT sejak belasan tahun lalu. Namun baru lima tahun terakhir ini hobi saya itu berkembang. Jika dulu ke gereja dan menghadiri suatu acara, saya mengenakan busana dari toko atau busana jahitan tanpa memodifikasikannya dengan tenun ikat NTT, namun sekarang saya lebih suka mengenakan busana modifikasi tenun ikat khas NTT dalam berbagai acara.

Mengapa Anda sangat menyukai tenun ikat NTT? Apa yang menginspirasinya?
Sebagai seorang jaksa di Kejati NTT, saya sering dimintai tolong menemani tamu Kejati yang akan membeli oleh-oleh khas NTT, mulai dari makanan hingga tenun ikat NTT. Dari situ saya lihat bahwa para tamu sangat menyukai tenun ikat khas NTT dan mereka membelinya puluhan potong dengan nilai belasan hingga puluhan juta rupiah.

Saya heran, hendak dibuat apa karena setahu saya saat itu, bahwa tenun ikat NTT hanya bisa dibuat jadi 'sarung' atau dililitkan di pinggang untuk dijadikan semacam rok. Lalu mereka jelaskan bahwa tenun ikat ini bisa dijadikan busana untuk pria dan wanita dengan cara memodifikasinya. Dari situ kemudian saya mencoba untuk merancang model baju dari kain tenun ikat khas NTT.

Darimana Anda mendapatkan berbagai kain tenun khas NTT itu?
Semula saya hanya punya kain tenun dari Sabu, daerah asal saya karena biasanya kami mendapatkan kain itu dalam acara-acara adat, perkawinan, kematian dan lainnya. Namun, dulu, kain itu hanya jadi 'hiasan' disimpan di lemari dan baru digunakan kalau ada acara adat. Dan, cara mengenakannya masih tradisional, dibalutkan di pinggang hingga menutupi mata kaki seperti sarung dan dipasangkan dengan blus.

Lalu saya mencoba mengambil beberapa kain tenun itu dan merancangnya untuk dijadikan baju, rok, juga gaun. Saya bawa ke penjahit dan ternyata hasilnya sangat menarik dan indah. Sejak itu saya kemudian senang 'berburu' berbagai tenun ikat dari setiap daerah di NTT untuk dijadikan busana modifikasi tenun ikat, termasuk membuat aksesorisnya seperti tas dan sepatu.

Busana modifikasi tenun ikat koleksi Anda sangat indah dan elegan, modelnya sangat berbeda dengan yang ada di toko-toko tenun ikat. Darimana ide untuk merancang busana itu?
Saya hobi menggambar sehingga sering merancang sendiri model busana. Saya pernah bersekolah di sekolah fashion dan kepribadian Jhon Robert Power sehingga ada modal 'seni' dan modal fashion yang didapatkan dari sana. Untuk mengembangkan inspirasi, biasanya saya juga melihat di internet dan majalah yang berkaitan dengan fashion.

Tapi saya mau katakan bahwa sebenarnya kekuatannya bukan semata terletak pada rancangan busananya, namun pada motif, warna dan kualitas dari kain tenun ikat yang akan dijadikan busana itu sendiri. Harus kita akui bahwa motif, warna dan tenun ikat NTT yang kita miliki ini sangat beragam dan indah sehingga busana modifikasi tenun ikat yang dihasilkan juga akan ntmpak elegan jika dikenakan.

Apalagi jika kita tahu bagaimana cara merancang dan menempatkan motif dan warna dengan tepat dan benar untuk sebuah busana itu.

Dari sekian koleksi tenun ikat yang dimiliki, tenun ikat dari daerah mana yang paling Anda sukai. Mengapa?
Saya sudah banyak mengoleksi berbagai tenun ikat dari hampir seluruh daerah di NTT. Tentu setiap daerah di NTT punya ciri khas tersendiri untuk warna dan motif karena menggambarkan sejarah dan budaya masing-masing. Tapi saya lebih menyukai tenun ikat dari daerah Timor, khususnya Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara dan Sumba.

Mengapa? Karena motif dan warna dari daerah tersebut mewakili kepribadian saya yang menyukai warna terang dan motif yang unik. Setiap orang pasti punya selera. Hal lainnya, bahwa tenun ikat dari dua daerah itu kerapatan benangnya lebih padat sehingga busana yang dihasilkan juga akan lebih berkualitas. Saya rasa penenun di daerah lain juga bisa menghasilkan kualitas tenun ikat yang sama seperti Sumba dan Timor, jika mau belajar. Ala bisa karena biasa.

Bagaimana caranya?
Setiap daerah punya 'aturan main' menyangkut motif dan warna, seperti Kabupaten Ende dan Maumere, umumnya berwarna kurang cerah. Kabupaten Ngada dan Manggarai lebih banyak didominasi warna hitam untuk dasarnya. Di Timor didominiasi warna cerah. Juga motifnya ada yang motif hewan, tanaman atau bunga atau motif garis-garis dan lainnya. Nah, bagaimana membuat para penenun itu bisa menghasilkan tenun ikat yang kualitasnya sama.

Kata sama di sini maksudnya bukan menyeragamkan motif dan warna, tapi lebih ke arah kualitas hasilnya, kepadatan atau kerapatan benang dan tidak luntur terlalu banyak. Hal ini yang bisa diintervensi oleh pemerintah. Dan, pasti bisa. Saya tidak mengetahui hal teknis, namun menurut pemikiran saya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved