Minggu, 12 April 2026

175 Siswa SMAN Raimanuk KBM Di Gedung Reot

Salah satu contoh, memasuki tahun ketiga, sebanyak 175 anak bangsa ini yang bersekolah di SMA Negeri 1 Tasifeto Barat kelas jauh Raimanuk di Labur, De

Editor: Alfred Dama
POS KUPANG/EDY BAU
Inilah Bangunan darurat yang digunakan untuk KBM SMAN 1 Tasbar Kelas Jauh Raimanuk di Desa Mandeu, Kabupaten Belu. 

Laporan Wartawan Pos Kupang, Edy Bau

POS KUPANG.COM, ATAMBUA -- Salah satu potret buram masalah pendidikan di Kabupaten Belu soal sarana dan prasarana pendidikan.

Salah satu contoh, memasuki tahun ketiga, sebanyak 175 anak bangsa ini yang bersekolah di SMA Negeri 1 Tasifeto Barat kelas jauh Raimanuk di Labur, Desa Mandeu melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) di gedung reot yang nyaris rubuh.

175 anak ini merupakan jumlah dari lima rombongan belajar dari kelas X dan XI. Tahun ini, akan memasuki tahun ketiga dan sudah pasti jumlah siswa akan bertambah. sementara itu, hingga kini belum ada tanda-tanda akan ada pembangunan gedung baru.

Siapapun yang bertandang ke sekolah ini pasti merasa terenyuh seperti yang dialami Pos Kupang beberapa waktu lalu.

Betapa tidak, ketika ada sebagian anak bangsa di sekolah lain sudah menikmati fasilitas lengkap dan memadai, namun justru 175 anak ini masih menggunakan gedung tak layak itu. Gedung itu sungguh tak layak.

Bangunan darurat ini terletak persis di sebelah Kantor Desa Mandeu, Kecamatan Raimanuk. Terdiri dari dua ruangan kelas. Berlantai semen namun sebagian besar sudah terkelupas sehingga berdebu. Posisi bangunan pun sudah miring.

Dindingnya dari bebak (annyaman daun lontar), bagian depannya sudah copot tak beraturan sehingga tembus pandang.
Meski dengan kondisi seperti itu, anak-anak sekolah ini tetap semangat belajar dan mengikuti KBM. Proses KBMnya dimulai siang hari pukul 12.00 wita sampai sore hari.

Salah satu Ketua kelas, Jemi kepada Pos Kupang mengatakan, meski kondisi bangunan seperti itu mereka tetap bersekolah. Dia menuturkan, jika hari hujan maka seluruh ruangan akan tiris karena atap sengnya bocor. Sedangkan kalau angin, mereka akan berlarian keluar ruangan karena takut bangunan roboh.

"Kalau hujan kami akan duduk pindah-pindah untuk menghindari tirisan air hujan. Tiga tahun sudah kami seperti ini, tapi kami mau buat bagaimana, kami hanya tahu sekolah saja. Kami berharap segera mendapat gedung yang bagus seperti sekolah lainnya," katanya.*

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved