Tamu Kita

Bermimpi Jadikan RSU Johannes Profesional

wanita ini sudah banyak melakukan berbagai perubahan di rumah sakit setempat. Dialah Arizona Ondok, S.H, Wakil Direktur Keuangan dan Umum RSUD Kupang.

PK/VEL
Arizona Ondok, S.H 

POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Sejak ditunjuk dan dilantik menjadi Plt. Direktur RSUD Prof. Dr. WZ Johannes Kupang, tanggal 13 Desember 2014 atau tujuh bulan lalu, wanita ini sudah banyak melakukan berbagai perubahan di rumah sakit setempat. Dialah Arizona Ondok, S.H, Wakil Direktur Keuangan dan Umum RSUD Kupang ini telah memperjuangkan kenaikan insentif dokter, hingga kerja sama dengan sejumlah pihak untuk mengatasi masalah kebersihan, sampah dan ketersediaan air bersih.

Bagaimana Ari melakukan semua itu, diceritakannya dalam wawancara eksklusif dengan wartawati Pos Kupang, Matilde Dhiu dan OMDSMY Novemy Leo, Rabu (29/4/2015) siang di Kupang.

Anda ditunjuk sebagai Plt Direktur RSUD Johannes Kupang sejak Bulan Desember 2013. Bagaimana Anda melihat tanggung jawab itu?
Ditunjuk sebagai Plt Direktur RSUD Prof. Dr. WZ Johannes Kupang merupakan tanggung jawab dan kepercayaan tambahan yang diberikan oleh Gubernur NTT kepada saya. Karena di RSUD ini saya juga adalah Wakil Direktur Keuangan dan Umum. Dua jabatan ini akan saya jalankan dengan sebaik-baiknya.

Saya tidak merasa berat menjalankannya. Ini hanya soal bagaimana cara memanage dengan baik, bagaimana bisa melihat persoalan dan menyelesaikannya dengan baik sesuai mekainisme dan aturan yang berlaku. Khusus untuk jabatan saya sebagai Plt. Direktur RSUD Kupang, saya akan berusaha menjalankannya dengan baik.

Bagi saya memimpin sebuah rumah sakit itu tidak saja soal bagaimana otak itu bekerja tapi juga bagaimana melihat dan menyelesaikan segala persoalan itu dengan hati. Jika menggunakan hati, apapun masalah akan diselesaikan, hasilnya akan baik. Meski demikian, tidak juga mengabaikan aturan dan mekanisme yang ada.

Apakah sebagai Plt Direktur ada persiapan khusus yang Anda lakukan guna meyambut kedatangan Direktur RSUD yang baru?
Tidak ada persiapan khusus. Maksud saya begini, rumah sakit ini, ada atau tidaknya direktur definitif, toh rumah sakit ini tetap berjalan seperti biasanya. Karena struktur rumah sakit ini kan ada direktur dan tiga wakil direktur, yakni Wadir Pelayanan, Wadir Keuangan dan Umum serta Wadir Penunjang Pelayanan.

Dan, saya kira, selama ini, ketiga wadir ini sudah menjalankan fungsi direksi dengan baik. Kami melihat, apa sih urgensinya pergantian direktur? Silakan masyarakat yang menilainya. Apakah di saat ada direktur yang masih aktif dan di saat tidak ada direktur definitif, ada kemunduran dalam pelayanan rumah sakit? Saya kira tidak juga kan. Kami bertiga tetap akan menjalankan fungsi kami dengan baik sambil menunggu direktur yang baru.

Baru tujuh bulan menjabat sebagai Plt Direktur RSUD Kupang, Anda terkesan sering 'melawan' Dewan dan selalu adem ayem meski menuai kritikan pedas dari Dewan maupun masyarakat. Mengapa?
Saya melihat itu bukan sebagai bentuk 'perlawanan' terhadap Dewan. Jika ada persoalan yang harus diklarifikasikan di Dewan, tentu saya akan mengklarifikasikannya dengan baik. Jika memang kami (RSUD) bersalah, maka akan kami akui.

Tapi jika tidak, maka akan kami pertahankan. Saya juga selalu mendapat kritikan dari media dan masyarakat atau pasien, namun semua itu saya terima dengan lapang dada, sabar. Saya tidak anti dengan kritikan sepanjang kritikan itu baik dan bukan kritikan yang by desain. Bagi saya kritikan itu merupakan masukan berharga yang harus kami perhatikan dan kami perbaiki.

Apa saja program yang sudah Anda lakukan selama menjadi Plt Direktur RSUD?
Bekerja pada organisasi atau lembaga pemerintahan ini semuanya sudah ada mekanisme dan prosedur tetap (protap) serta aturan, sehingga kami tinggal menjalankannya saja. Dan, saya juga meneruskan program yang sudah ada.

Puji Tuhan selama tujuh bulan ini ada beberapa hal yang sudah berhasil kami perjuangkan bersama mitra di DPRD NTT. Pertama, menaikkan insentif dokter spesialis yang tidak pernah berubah sekitar 10 tahun. Dalam perjuangan menaikan insentif dokter itu saya berupaya mengilustrasikan bagaimana beratnya beban kerja para dokter spesialis, sementara insentif yang mereka peroleh sangat kecil dibandingkan dengan dokter di provinsi lain.

Kenaikan insentif dokter ini bagi beberapa kalangan tertentu mungkin tidak begitu besar, tetapi bagi dokter kenaikan itu sudah cukup membuat mereka merasa senang. Kedua, RSUD Kupang mulai membuka diri, transparan. Ketiga, kami mulai membenahi masalah sampah, ketersediaan air bersih dan kebersihan di RSUD ini dan hal itu sudah mulai berjalan dan menunjukkan perubahan.

Keempat, untuk perawat, kami meneruskan yang selama ini sudah ada yakni program-program peningkatan kualitas SDM dengan workshop, diklat, seminar, bimtek baik di daerah maupun diluar daerah.

Ibu Ari, selama ini pasien dan keluarga pasien seringkali mengeluhkan soal pelayanan RSUD Kupang khususnya soal pelayanan dari sejumlah perawat yang masih jutek. Bagaimana Anda meminimalisir hal ini?
Ya, keluhan itu banyak saya dengar ya. Ketika saya menjadi wadir di bulan kedua, ada kejadian di RSUD terkait ada oknum pegawai yang berbuat ulah. Lalu kami dipanggil oleh DPRD untuk mengklarifikasikannya.

Halaman
1234
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved