Breaking News:

Daripada Kirim TKI, Jadi Petani Ubi Pun Bisa Sejahtera

lebih baik membuka lapangan pekerjaan daripada mengirim TKI keluar negeri.

POS KUPANG/THOMAS DURAN
Calon Bupati-Wakil Bupati TTS, Alex Kase dan John Oematan, bersama istri saat kampanye di Stadion Kobelete, Kota SoE, Sabtu (28/9/2013). 

POS KUPANG.COM, SOE--Wakil Ketua II DPRD TTS, Alex Kase, menilai, lebih baik membuka lapangan pekerjaan daripada mengirim TKI keluar negeri. Alex mengungkapkan hal ini terkait niat Pemkab TTS mengikuti jejak Provinsi Banten mengirim TKI sekaligus bersekolah di negara tujuan.

"TKI ilegal yang diamankan pihak berwajib dari TTS cuma tamatan SD, tidak memiliki keterampilan apa-apa. Daripada dipaksakan dikirimkan ke luar negeri hanya bermodal ijazah kesetaraan, lebih baik mereka diberdayakan di daerah sendiri. Tentunya untuk melakukan hal ini, pemerintah perlu membuka lapangan pekerjaan," ungkap Alex di SoE, Selasa (14/4/2015).

Membuka lapangan pekerjaan, kata Alex, tidak harus dengan membuka pabrik atau mendirikan perusahaan, cukup dengan mendorong masyarakat menjadi petani atau peternak yang penting bisa sejahtera.

"Siapa bilang jadi petani atau peternak tidak bisa sejahtera. Teman-teman saya sudah banyak yang buktikan dengan menjadi petani atau peternak bisa hidup sejahtera menyekolahkan anak sampai keperguruan tinggi, bahkan ada yang sampai S2. Yang perlu didorong adalah bagaimana mendorong masyarakat menjadi petani atau peternak yang profesioal mulai dari mutu produk sampai pada pengelolahan hasilnya," ujar Alex.

"Hampir semua masyarakat TTS menanam ubi kayu, menjual ubi itu hanya dalam bentuk ubi, tidak diolah menjadi suatu produk yang bernilai ekonomis tinggi. Inilah yang perlu diubah. Petani harus diberikan keterampilan untuk mengolah hasil pertanian tersebut. Mulai dari menjadikan ubi sebagai tepung ubi sampai membuat kripik ubi. Di sinilah peran pemerintah mulai dari menyediakan alat sampai pada pelatihan keterampilan," tambahnya.

Diakui Alex, ia sudah menawarkan kepada teman-temannya di DPRD untuk menjadi contoh bagi masyarakat TTS bahwa dengan beternak bisa hidup sejahtera. "Saya ini juga peternak babi walaupun dalam jumlah yang tidak banyak tetapi kalau sekali panen dari penjualan anak atau penjualan babi dewasa saya bisa terima Rp 8 juta sampai Rp 12 juta. Saya rasa itu jumlah yang cukup besar. Saya rasa kita harus menjadi contoh dulu baru masyarakat mau ikut," ujarnya. (dd)

Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved