Tidak Dapat Bantuan Rumah, Pengungsi Palue Lapor Polisi

Mereka mendesak polisi mengusut oknum-oknum yang diduga menjadi aktor yang memanipulasi

Tidak Dapat Bantuan Rumah, Pengungsi Palue Lapor Polisi
AFP
Gunung Rokatenda di Palue-Sikka memuntahkan asap tebal ketika meletus pada 10 Agustus 2013 lalu.

POS KUPANG.COM, MAUMERE -Merasa tidak adil karena tidak mendapatkan jatah bantuan rumah di Kelurahan Hewuli, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, pengungsi asal Palue didampingi kuasa hukum melapor ke Polres Sikka, Selasa (14/4/2015).

Mereka mendesak polisi mengusut oknum-oknum yang diduga menjadi aktor yang memanipulasi bantuan rumah bagi pengungsi.
Abdul Salam, S.H.M.H, kuasa hukum pengungsi Palue yang ditemui di Polres Sikka, Selasa (14/4/2015), mengatakan ia mendampingi pengungsi melaporkan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi dalam penyaluran rumah bantuan pemerintah.

"Kami datang melapor terkait bantuan rumah pengungsian yang tidak tepat sasaran itu. Warga yang punya hak merasa tidak adil karena sampai sekarang belum dapat rumah bantuan. Ada kejanggalan-kejanggalan seperti adanya SK ganda, pemalsuan dokumen. Parahnya lagi ada warga yang tidak punya hak diberi rumah sedangkan warga yang punya hak malah tidak dikasih rumah. Dengan laporan ini, kami meminta kepolisian mengusut ketidakjelasan ini. Hak warga untuk bantuan tersebut harus jelas, tidak boleh dipermainkan seperti ini,''ujar Abdul.

Dalam pertemuan singkat dengan Kapolres Sikka tersebut, ia berharap agar kepolisian secepatnya bertindak mengusut oknum-oknum maupun pihak yang diduga bermain dalam realisasi bantuan rumah bagi pengungsi akibat meletusnya Gunung Rokatenda di Pulau Palue tersebut.

"Melalui beberapa keterangan saksi kemudian alat bukti yang kita sampaikan, selanjutnya tugas pihak kepolisian untuk mendalami. Intinya siapa saja, baik pejabat maupun pemerintah desa yang sudah kita laporkan akan segera dipanggil. Pihak kepolisian merespon baik dan ini tidak main-main karena terkait hak warga,'' kata Abdul.

Thomas Tonge (42), warga Desa Nitunglea, Kecamatan Palue mengaku kesal karena sebagai warga pengungsian yang seharusnya berhak memperoleh bantuan sampai sekarang belum mendapatkan rumah bantuan seperti warga lainnya.

"Bagaimana tidak jengkel, kami yang jadi korban tidak dapat rumah, sedangkan bukan warga pengungsian dikasih rumah. Orang baru pulang merantau dikasih rumah, warga dari luar juga dapat rumah, terus kenapa kami yang jadi korban tidak dikasih rumah,''ujar Thomas.

Menurut Thomas, masih banyak korban yang belum menerima bantuan rumah. "Selama ini kami diam karena tidak tahu mau ke mana. Sudah sering kami keluhkan ke Kepala Desa Nitunglea tapi kepala desa diam saja. Kepala Desa priotaskan warga luar yang bukan warga pengungsian. Kami yang warga pengungsian cari tempat tinggal sendiri. Kalau diam terus kapan didengar, mereka bermain api kami jadi korban malah jadi korban lagi,'' kata Thomas.

Kades Nitunglea, Markus Mego, dalam pertemuan di Kantor BPBD Sikka, Selasa (7/4/2015) siang, mengaku siap menghadapi laporan pengungsi atas dugaan manipulasi data pengungsi guna mendapatkan rumah. (jj/ris)

Penulis: PosKupang
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved