Eksekusi Terpidana Mati Bali Nine

Andrew dan Myuran Masih Bisa Tersenyum

Tak terlihat raut wajah cemas dari dua terpidana mati asal Australia Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

Editor: Benny Dasman

POS KUPANG.COM, JAKARTA - Tak terlihat raut wajah cemas dari dua terpidana mati asal Australia Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Andrew dan Myuran yang dikenal dengan jaringan Bali Nine ini, tenang, menyalami satu persatu petugas Lembaga Pemasyararakatan (Lapas ) Kereobokan, Badung, Bali, Rabu (4/3) dini hari waktu setempat.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Hukum dan HAM Bali, Nyoman Putra Surya mengungkap, keduanya tersenyum dan terlihat ikhlas, meninggalkan lapas yang sudah ia huni selama sepuluh tahun lebih.

"Mereka hanya mengatakan terima kasih. Terima kasih kepada kami karena mereka telah merasakan pelayanan yang baik saat di penjara. Semua jalur hukum mereka, kami tindaklanjuti. Kami telah menindaklanjuti semua permintaan mereka, " kata Surya di Denpasar, Rabu (4/3/) kemarin .

"Saat mereka masuk ke ruangan, mereka bertemu semua pejabat, mereka tersenyum, berjabat tangan dengan semua orang. Mereka siap, " kata Surya seraya mengucapkan kata-kata keduanya, saya sudah bangun hari ini.

Sekitar pukul 04.30 Wita, Andrew dan Myuran kemudian dijemput sipir penjara sela.
Duo Bali Nine ini dijemput oleh lima sipir penjara dari sel mereka pada pukul 04.30 Wita. Keduanya sempat makan roti sebelum dipindahkan ke Lapas Nusakambangan, disalah satu ruangan isolasi sebelum menjalani eksekusi. Sukumaran juga sempat berpesan kepada sesama narapidana untuk melanjutkan program rehabilitasi dan saling menjaga.

Digambarkan, sebelum keduanya -sambil membawa alkitab- dibawa ke LP Nusakambangan, para narapidana lain yang menyaksikan kepergiannya untuk terakhir kalinya, dalam suasana yang penuh haru. Tak sedikit dari narapidana, teman Andrew dan Myuran yang tidak mau mengucapkan kata-kata perpisahan, selamat tinggal. Keduanya tetap tabah, bahkan saat makan malam bersama dengan Kalapas Kerobokan pada Selasa malam.

Saat memindahkan Andrew dan Myuran ratusan personel dari TNI dan Polri diturunkan. Sistim pengamanan yang diberlakukan untuk kedua terpidana mati cukup ketat. Keduanya diborgol pada bagian tangan dan kaki selama proses pemindahan berlangsung. Personel Polri dan TNI yang mengawal semua proses pemindahan dipersenjati dengan beberap jenis peralatan dan senjata canggih. Kapuspenkum Kejagung, Tony Spontana memastikan, selain Andrew dan Myuran, satu lagi terpidana mati sudah berada di LP Nusakambangan yang didatangkan dari Lapas Madiun untuk kemudian langsung ditempatkan di lapas isolasi.

Selain Andrew dan Myuran, rencananya ada delapan terpidana mati lain yang akan menjalani eksekusi tahap dua. Kedelapan terpidana lain yang dimaksud adalah; Rodrigo Gularte (WN Brazil), Mary Jane Fiesta Veloso (WN Filipina), Zainal Abidin (WN Indonesia), Raheem Agbaje Salami (WN Spanyol), Serge Areski Atlaoui (WN Perancis), Martin Anderson alias Belo (WN Ghana), Silvester Obiekwe Nwolise (WN Nigeria), Okwudili Oyatanze (WN Nigeria).

Siapkan Eksekutor
Jaksa Agung HM Prasetyo memastikan, proses eksekusi terhadap terpidana mati akan segera dilakukan sambil menunggu kesiapan regu tembak yang sudah dipersiapkan sebelumnya. "Kita harus siapkan regu tembaknya, lokasi tempat eksekusinya. Koordinasi dengan pihak-pihak, kesiapan mereka," kata Prasetyo

Satu regu tembak nantinya diisi oleh 13 orang. Pihak kejaksaan masih terus berkoordinasi dengan kepolisian untuk menyiapkan regu tembak. Selain menunggu kesiapan regu tembak, Prasetyo juga mengungkapkan, kejaksaan masih menunggu pemindahan terpidana mati lainnya yang masih ada di Madiun dan Yogyakarta. "Kami lihat lagi laporan terakhir di lapangan seperti apa. Saya juga akan cek, kami cek setiap saat. Yang pasti sudah dievakuasi duo Bali Nine dari Krobokan ke Nusa Kambangan," kata Prasetyo.

Sementara itu, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Marciano Norman meminta kepolisian Australia dan badan intelijen Australia mengamankan kawasan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) "Mereka (polisi dan badan intelijen) bertanggung jawab untuk mengamankan KJRI," ujar Marciano.

Aksi pelemparan cat merah darah di KJRI Sydney, Senin (2/3) lalu yang dilakukan oleh orang tidak dikenal lantaran kecewa dengan keputusan Indonesia tetap mengeksekusi mati Andrew Chan dari kelompok Bali Nine harus menjadi perhatian. Pemerintah Indonesia, Marciano memastikan, telah meminta atensi agar aparat kepolisian dari negara itu memberikan pengamanan. "KJRI itu dilempar oleh orang tidak dikenal. Dan itu pasti ungkapan ketidakpuasan pada eksekusi," ungkap Marciano. (tribun/ther/yat)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved