Kata Dokter tentang Obat Herbal dan Antibiotik

Saya rajin mengonsumsi berbagai obat herbal. Khasiatnya saya baca dari iklan dan brosur yang ada. Ada obat herbal untuk rematik, kencing manis, bahkan

Kata Dokter tentang Obat Herbal dan Antibiotik
www.shutterstock.com
Ilustrasi obat 

Oleh dr Samsuridjal

Saya rajin mengonsumsi berbagai obat herbal. Khasiatnya saya baca dari iklan dan brosur yang ada. Ada obat herbal untuk rematik, kencing manis, bahkan juga untuk kanker. Di kemasan juga tercantum bahwa obat herbal tersebut telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Belum lama saya terkena batuk-batuk dan demam. Dokter mengatakan bahwa saya menderita bronkopneumonia, saya harus segera minum obat antibiotika. Obat antibiotika tersebut cukup keras.Di samping minum antibiotik, saya juga minum obat herbal. Saya berharap agar lebih cepat sembuh. Harga obat herbal yang saya gunakan lumayan mahal melebihi harga obat antibiotik generik. Syukurlah bronkopneumonia saya dalam seminggu sembuh.

Dokter mengatakan karena umur saya sudah enam puluh tahun saya rentan terkena bronkopneumonia dan jika menderita bronkopneumonia berisiko menjadi berat. Apakah boleh saya minum antibiotik bersamaan dengan obat herbal? Apakah untuk mencegah bronkopneumonia saya perlu minum obat herbal terus-menerus? Adakah cara lain untuk mencegah bronkopneumonia? Mohon penjelasan dokter. Terima kasih.

A di C

Obat herbal memang sedang dikembangkan di negeri kita. Sumber obat herbal melimpah dan juga masyarakat kita sudah lama mengenal obat herbal melalui kebiasaan nenek moyang kita minum jamu. Pemerintah sekarang mempunyai program saintifikasi jamu. Di rumah sakit, jamu atau obat herbal disediakan dan digunakan dengan pengawasan. Obat herbal yang disediakan di antaranya obat herbal untuk penambah nafsu makan, memperbaiki fungsi hati, membantu agar lebih mudah tidur dan lain-lain. Obat tersebut digunakan oleh dokter seperti obat kimia, ditetapkan dosisnya, cara pemakaiannya serta lama penggunaannya. Melalui cara ini, akan didapat kesan mana obat herbal yang jelas manfaatnya dan mana obat herbal yang tak jelas manfaatnya. Obat herbal yang terkesan bermanfaat akan diteruskan pemakaiannya serta diselidiki lebih lanjut komposisinya sehingga didapatkan zat aktifnya sehingga zat aktif tersebut yang akan digunakan sebagai obat.

Sudah tentu sebelum digunakan di masyarakat, zat aktif harus dinilai manfaat dan keamanannya melalui penelitian yang disebut uji klinik. Ilmu kedokteran amat terbuka terhadap obat baru, baik yang merupakan obat dikembangkan melalui proses kimiawi maupun obat herbal yang berasal dari alam. Bahkan ilmu kedokteran telah lama memanfaatkan obat herbal yang kemudian dikembangkan menjadi obat kanker, misalnya.

Jadi potensi penggunaan obat herbal di dalam pencegahan dan penyembuhan penyakit amat terbuka. Untuk menerapkan obat baru, baik obat kimia maupun obat herbal, diperlukan bukti yang sahih mengenai manfaat dan keamanannya. Meski bermanfaat, kalau tidak aman atau mempunyai efek samping yang berat obat kimiawi tak boleh digunakan. Begitu pula obat herbal jika tidak jelas manfaatnya juga seharusnya tak perlu dikonsumsi. Keamanan obat herbal relatif lebih terjamin karena biasanya obat herbal, apalagi jamu, telah lama digunakan oleh nenek moyang kita. Masyarakat dapat memanfaatkan keberadaan obat herbal, tetapi perlu memahami dengan baik posisi obat herbal dalam pencegahan atau pengobatan penyakit. Obat herbal yang didaftarkan di Badan POM pada umumnya sebagai obat meningkatkan kekebalan tubuh. Obat herbal tak didaftarkan sebagai obat kencing manis, obat darah tinggi, apalagi obat kanker. Jika produsennya mendaftarkan obat herbal produksinya untuk terapi kencing manis, misalnya, produsen tersebut perlu menunjukkan penelitian yang menunjukkan memang obat tersebut mampu menurunkan gula darah secara nyata.

Setahu saya baru obat herbal penurun tekanan darah yang pernah mendapat izin dari Badan POM karena memang uji klinik yang dilakukan menunjukkan obat tersebut aman dan bermanfaat untuk mengendalikan tekanan darah. Masyarakat dapat menanyakan ke Badan POM apakah obat herbal yang mencantumkan indikasi yang bermacam-macam memang benar indikasi tersebut sudah diakui oleh Badan POM. Kebanyakan produsen obat herbal mendaftarkan obatnya secara umum, namun mencantumkan berbagai indikasi pada informasi obatnya. Badan POM sebagai pengawas obat dan makanan mengadakan berbagai pemeriksaan. Adakalanya obat herbal dicampur dengan obat kimia, nah jika obat herbal ini diminum terus-menerus, berarti orang yang meminum obat tersebut juga mengonsumsi obat kimia yang dicampurkan. Keadaan ini dapat berisiko menimbulkan efek samping, bahkan gangguan fungsi organ tubuh, seperti ginjal atau hati. Masyarakat harus berhati-hati jika mengonsumsi obat herbal impor karena acap kali komposisi obat tersebut tidak jelas karena dituliskan dalam bahasa asing.

Ada kemungkinan obat herbal tersebut mengandung bahan yang berisiko bagi tubuh, terutama jika diminum terus-menerus. Terapi pilihan bronkopneumonia adalah antibiotika. Pada usia lanjut, pilihan antibiotika harus dilakukan lebih cermat. Obat tersebut harus cukup kuat membunuh kuman, tetapi juga harus cukup aman bagi pasien berusia lanjut karena pasien berusia lanjut mengalami penurunan fungsi organ tubuh, misalnya ginjal, jantung, dan paru. Pencegahan bronkopneumonia adalah dengan menghindari sumber penularan. Kuman penyebab bronkopneumonia ditularkan melalui butiran ludah pada waktu pasien batuk. Penggunaan masker pada pasien atau orang sekitar dapat mengurangi risiko penularan. Salah satu cara yang efektif dalam mencegah bronkopneumonia adalah dengan menjalani imunisasi pneumokok. Vaksin ini amat dianjurkan bagi kelompok usia lanjut (mereka yang berusia di atas 60 tahun) dan mereka yang mempunyai penyakit kronis, seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus, penyakit paru obtruktif menahun, gagal ginjal, dan sirosis hati.

Bagaimana posisi obat herbal dalam pemeliharaan kesehatan kita? Obat herbal mungkin bermanfaat untuk meningkatkan kebugaran tubuh. Namun untuk terapi penyakit yang sudah jelas ada obatnya, obat herbal belum mampu menggantikan antibiotika. Untuk membunuh kuman, perlu obat yang cukup kuat dengan dosis yang jelas serta lama penggunaan yang ditetapkan sesuai hasil uji klinis. Obat herbal belum dapat menggantikan antibiotika, obat antiviral, atau obat anti jamur. Menggunakan obat herbal saja tanpa antibiotika untuk terapi bronkopneumonia berbahaya, bronkopneumonia dapat berlanjut dan semakin parah. Jika akan digunakan sebagai obat tambahan, kita juga perlu mempertimbangkan harga obat herbal. Saya sering menghadapi pasien yang menggunakan obat herbal sebagai tambahan harga obat herbalnya lebih mahal daripada obat utama. Kita ketahui bahwa selain ongkos produksi, dalam komponen harga obat biaya iklan juga cukup besar.

Editor: Alfred Dama
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved