Breaking News:

Human Trafficking

Manusia Ala Barang Postmodern

Setiap makhluk yang berwajah manusia memiliki martabat dan berhak mendapatkan pengakuan atasnya

Editor: Benny Dasman
Manusia Ala Barang Postmodern
ilustrasi

Oleh Yudel Fon Neno
Anggota KMK-Aeropagita Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang

MENGUATNYA era postmodern ini, membeberkan banyak fakta sebagai konsekuensi dari menguatnya kebenaran fragmentaris ala individualistik-hedonistik-pragmatistik dan konsumeristik. Apa yang benar dan baik dapat dipahami sejauh itu berguna demi kenikmatan dan keuntungan pribadi atau segelintir orang. Nilai tukar menjadi lebih penting dan selalu dideklarasikan sehingga berimbas pada adanya praktek relativisme perlakuan perongrongan terhadap martabat manusia.

Perongrongan ini sebagai praktek para aktor ekonomis dan kaum hedonis, sebab dengan tujuan utama mereka adalah demi eksploitasi dan kenikmatan. Dan demi konspirasi alasan ini, kegiatan perdagangan banyak kali telah dilumrahkan secara membabi buta. Manusia diperjualkanbelikan selayaknya barang. Pertanyaannya? Apa benar manusia itu sama begitu saja dengan barang ekonomis? Bagaimana membicarakan tentang martabat pribadi dan etika sosial atau sosialitas sebagai eksistensial ketika berhadapan dengan maraknya fenomen perdagangan manusia seperti ini?

Ini menjadi menarik tidak hanya untuk diperherankan tetapi juga harus disikapi secara tegas dan intens oleh siapa saja. Sebab pembiaran terhadap fenomen ini suatu kelak akan melahirkan suatu negara besar di mana para penghuninya akan sangat suka memasang spanduk dan slogan pembelaan dengan kaca mata hedonis dan pragmatistik menglumrahkan banalitas kejahatan kemanusiaan dalam jumlahan eksploitatif. Letak pembanalan ini tidak hanya ada oleh karena para agen dan para majikan tetapi juga karena adanya fungsi pengawasan dan penanggulangan yang sengaja diperlemah atau diperlonggarkan oleh pihak-pihak tertentu, sebagai akibat dari konspirasi akan keuntungan ekonomis.

Filsafat akhirnya dengan pijakan martabat manusia dan melalui seruan microfon etika speaking dan etika writing serta etika atitudional, tak henti-hentinya berusaha untuk mengkaji dan menemukan upaya-upaya sebagai bentuk penyadaran dan  penolakan. Filsafat ketika mengkaji tentang martabat manusia, dipandang sebagai titik tolak pendasaran norma-norma. Martabat adalah identitas yang in se. Dan, maksudnya adalah manusia sebagai makhluk yang berharga karena akal budi dan kehendak bebasnya. Ia harus bebas dan bertanggung jawab dengan dirinya tanpa tekanan dari siapa dan apa pun.

Tentang konsep martabat manusia sesungguhnya bukanlah konsep baru. Cicero (106-43 SM) sejak Romawi Kuno misalnya sudah bicara tentang konsep martabat manusia. Menurutnya, martabat manusia melekat pada kodrat manusia sebagai makhluk berakal budi. Kodrat intelektual ini membuat manusia menempati posisi khusus di tengah alam ciptaan dan di antara makhluk ciptaan lainnya. Dalam refleksi filosofis dan teologis abad pertengahan basis pemahaman martabat manusia adalah ide tentang manusia sebagai gambaran Allah yang menjadi titik pijak partisipasi dalam akal budi Ilahi.

Immanuel Kant pernah menulis demikian: "Manusia dan bahkan setiap makhluk rasional hidup sebagai tujuan dalam dirinya, bukan sekedar alat yang dipakai untuk keinginan tertentu, ia harus dipandang sebagai tujuan dalam semua tindakannya baik yang diarahkan untuk dirinya maupun untuk orang lain." Sebuah tujuan dalam dirinya tidak sama dengan barang di pasar yang memiliki harga atau objek selera yang bisa selalu berubah-ubah. Setiap manusia memiliki nilai dalam dirinya yang tak dapat diukur dengan apapun.  Karena itu `melampaui segala harga" manusia tidak pernah boleh dijadikan sebagai instrumen. Manusia adalah makhluk yang ada dan bertindak sebagai dirinya sendiri. Itulah esensi manusia sebagai manusia yang juga dikenal sebagai humanitas.

Bertolak dari pemahaman ini, maka dari diskursus filsafat mencermati praktek human trafficking sungguh sangat melecehkan dan merongrong martabat manusia sebagai manusia. Manusia bukan dilihat lagi sebagai manusia melainkan alat yang dipakai untuk keinginan tertentu. Manusia dilihat sebagai objek pemuasan semu. Manusia seolah-olah disamakan dengan barang yang diperjualbelikan. Kant berpandangan bahwa barang siapa melecehkan martabatnya sendiri, ia melanggar kewajiban moral terhadap diri sendiri. Sedangkan yang melukai martabat sesama, ia mengabaikan bukan saja kewajiban moral tetapi juga kewajiban hukum kodrat terhadap yang lain.

Pelecehan martabat manusia di mana saja dan kapan saja dipandang jahat. Basis etis pengakuan martabat manusia adalah keanggotaan pada genus manusia. Setiap makhluk yang berwajah manusia memiliki martabat dan berhak mendapatkan pengakuan atasnya. "Karena itu stop jual manusia! Anda yang menjual manusia adalah yang melecehkan martabat manusia." *
 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved