Kamis, 9 April 2026

In Memoriam Hendrik Fernandez

Ini Kenangan Ungkapan Hendrikus Fernandez Saat Launching Pos Kupang

Nama Hendrikus Fernandez tercatat dalam sejarah berdirinya Harian Umum Pos Kupang. Tanggal 1 Desember 1992 dilakukan syukuran nasi tumpeng

Penulis: PosKupang | Editor: Alfred Dama

POS KUPANG.COM -- Nama Hendrikus Fernandez tercatat dalam sejarah berdirinya Harian Umum Pos Kupang.  Tanggal 1 Desember 1992 dilakukan syukuran nasi tumpeng  secara kecil-kecilan di Kantor Pos Kupang, diikuti dengan launching secara terbuka di Resto Pantai Timor, Jalan Sumatera, yang dihadiri Gubernur NTT saat itu, dokter Hendrikus Fernandez.

Namun jauh sebelum tanggal itu, proses menuju kelahiran koran harian pertama di NTT itu sudah berlangsung lama. Adalah Om Damyan Godho, Om Valens Goa Doy, Om Julius Syaranamual dan beberapa nama lagi, adalah tokoh penting, para idealis yang nekad  melahirkan sebuah harian di NTT.

Mereka adalah orang-orang yang percaya, yakin, dan bernazar untuk mempertaruhkan semua kemampuan dan potensi diri mereka demi  hadirnya sebuah media harian di NTT. Dan, Tuhan berpihak kepada sikap nekad para pendiri SKH Pos Kupang.

Pada saat melaunching Pos Kupang 1 Desember 1992, Gubernur Hendrik Fernandez menyebut para pendiri dan wartawan Pos Kupang adalah orang-orang gila yang bermodalkan nekat dan semangat untuk mendirikan koran di Kupang.

Mengapa disebut orang gila? Sebab dengan kondisi Kupang dan NTT saat itu belum memungkinkan untuk membuka bisnis koran.

Masyarakat belum akrab dengan yang namanya wartawan. Benar-benar mengagetkan. Membuat banyak orang terheran-heran. Kok ada koran.

Menimbulkan kecemasan pada segelintir orang. Banyak pihak baik sebagai subyek maupun obyek pemberitaan saat itu belum siap dengan perubahan dengan hadirnya SKH Pos Kupang. Bagaimanapun Pos Kupang harus terbit, meski awalnya akan banyak menemukan keterangan narasumber tidak bersedia menyebutkan identitasnya.

Yang menggelikan adalah banyak instansi pemerintah bahkan sampai melakukan hal yang konyol: menempelkan pengumuman pada selembar kertas "TIDAK MENERIMA WARTAWAN".

Para pejabat yang hendak dijadikan narasumber bersembunyi dari wartawan. Mereka takut diwawancarai.

Ada pula yang berani dan berapi-api memberi keterangan. Begitu diberitakan, lalu  ada pihak yang keberatan dan protes, yang bersangkutan ketakutan dan buru-buru menyalahkan wartawan. Untunglah wartawan melengkapi diri dengan alat perekam. Itulah kondisi saat itu. (disarikan dari tulisan Paul Bolla tentang, "Selamat Datang Perubahan)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved