Mengenal Sejarah Kota Kupang
Lima Pancasila yang Memudar
Kegiatan Gowes Asik Tribun-Pos Kupang dengan tema Bike to Heritage alias bersepeda mengunjungi situs sejarah ini baru pertama kali digelar di Kupang.
POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Minggu (24/8/2014), ratusan masyarakat mendayung sepedanya mengunjungi 11 situs sejarah yang ada di wilayah Kota Kupang-NTT. Kegiatan Gowes As'ik Tribun-Pos Kupang dengan tema Bike to Heritage alias bersepeda mengunjungi situs sejarah ini baru pertama kali digelar di Kupang.
Sebelas situs sejarah yang dilalui peserta yakni Benteng Concordia yang sekarang merupakan markas Yonif 743/SYB Kupang, Tugu Pancasila, Kota 'Tua' Kupang, Pabrik Es Minerva, Bioskop Raya, Gereja Katedral, Masjid Raya Nurussa'adah, Kantor Bupati Kupang, Toko Pertama Kupang, Gereja Kota Kupang dan Pantai Lai-Lai Besi Kopan (LLBK) Kupang.
Sebelas situs sejarah di Kupang itu tentu memiliki nilai sejarah dan ceritanya masing-masing yang menarik untuk diketahui. Sebut Benteng Concordia yang dibangun sejak tahun 1600-an oleh Bangsa Portugis dan Tugu Pancasila yang dibangun tahun 1946 oleh pejuang asal NTT.
Untuk mengetahui sejarahnya, Pos Kupang akan mengulasnya satu persatu mulai minggu ini. Data-datanya diambil dari laman net dan beberapa saksi sejarah yang masih hidup.
* Tugu Pancasila (Four Freedom's)
Pertempuran heroik tanggal 10 November 1945 di Surabaya, ternyata memiliki mata rantai hingga ke Kupang-NTT. Saat itu banyak sekali kisah heroik para pemuda Indonesia yang merobek bendera merah-putih-biru menjadi merah-putih saja. Ada lagi pertempuran melawan agresi kedua Sekutu di Surabaya.
Banyak pejuang-pejuang yang lahir dari kisah itu, baik pejuang yang berasal dari Kota Surabaya sendiri, termasuk masyarakat dari luar Surabaya, termasuk masyarakat dari NTT yang bermukim di sana dan ikut berjuang saat itu.
Meski tak terekam namanya, namun jejak perjuangan masyarakat NTT yang berjuang saat 10 November di Surabaya itu tertancap kokoh melalui sebuah tugu atau monumen yang dibangun di pusat Kota Kupang, Ibukota NTT.
Seusai bertempur, tahun 1946, masyarakat NTT yang berjuang di sana bersama-sama pulang ke Kupang dan memprakarsai pembangunan monumen yang mereka beri nama 'our Freedom's' atau empat kebebasan.
Monumen yang berdiri di simpang tiga, tak jauh dari Jalan Soekarno-Kupang itu, sekilas tampak sederhana.
Padahal sebenarnya monumen itu sarat makna.
Makna yang sangat esensial terkait 'Human Right' atau hak asasi manusia (HAM). Dari segi penamaan, Four Freedom's bermakna kebebasan, anti kolonialisme dan imperialisme. Bahkan, Peter A Rohi sebagaimana dikutip dari laman net, menyebutkan, sebelum deklarasi of human right tahun 1948, monumen ini sudah lebih dulu ada. "Monumen ini dibangun tahun 1946," ujar wartawan senior itu.
Disaksikan Pos Kupang awal Agustus 2014 lalu, monumen setinggi kurang lebih 17 meter itu di atasnya berbentuk meruncing. Warnanya didominasi putih. Di bawahnya terdapat lima garis yang diberi cat warna merah.
Garis itu melambangkan lima sila dalam ideologi negara kita, Pancasila. Karenanya tak heran jika monumen empat kebebasan itu juga disebut sebagai Tugu Pancasila.
Pada salah satu dinding, terpampang plakat yang sudah samar tapi terbaca jelas bertuLiskan, 17 AUG 1945 - 23 DEC 1949.
Di bawah tulisan tahun pembuatan, tertera tulisan SATU: BANGSA! BAHASA! BENDERA! TANAH AIR! LAGU KEBANGSAAN!.
Sementara di dinding tugu sebaliknya, terpampang plakat kuno bertuliskan EMPAT KEMERDEKAAN" - FOUR FREEDOM'S", dikuti empat kebebasan di bawahnya: DARI RASA KETAKUTAN, DARI KEKURANGAN, BERIBADAT, BERBICARA.
Di sebelah teks bahasa Indonesia, tertulis: FOUR FREEDOM'S: FROM FEAR, FROM WANT, OF WORSHIP, OF SPEECH.
Sungguh, satu monumen sederhana dengan makna yang begitu kaya. Dan, monumen ini menjadi lebih bermakna, karena monumen dibangun tak jauh atau menghadap ke benteng pasukan Australia (pro Hindia Belanda) yakni Benteng Concordia - yang sekarang menjadi Markas Yonif 743/SYB Kupang.
Maknanya bahwa monumen itu menentang penjajahan, dan menantang pasukan penjajah yang masih bercokol dan tetap ingin bercokol di Tanah Air-Kupang-NTT.
Karena itu, tak mengherankan jika dalam setiap kunjungan ke Kupang, hal yang pertama kali akan dilakukan Bung Karno adalah berjalan menuju monumen yang berada di Kelurahan LLBK Kecamatan Kota Lama-Kupang itu, lalu meletakkan karangan bunga dan memberi hormat sekhidmat-khidmatnya.
Roso Daras dalam laman net menulis, saya masih SD tahun 1950, ketika Bung Karno pertama kali ke Kupang. Saya ikut berbaris menyambut dan menyaksikan Bung Karno turun dari pesawat catalina, yang ketika itu letaknya di bibir jalan yang terletak monumen `Empat Kemerdekaan' itu. Dia langsung menuju monumen itu dan meletakkan karangan bunga serta memberinya hormat."
Ironisnya, nilai-nilai sejarah itu sepertinya tak berlanjut oleh penguasa negara penggantinya. Pada zaman Orde Baru, monumen itu dicat hitam pekat, menutup plakat bersejarah yang ada di kedua bagian monumen.
Saat ini, Agustus 2014 kondisi monumen sudah dicat putih bersih. Pada kelima garis, dicat warna merah. Namun dasar monumen sebagiannya sudah tenggelam karena ditimpa peninggian aspal jalan.
Bahkan kini di era pemerintah Provinsi NTT, Gubernur dan Wagub NTT, Drs. Frans Lebu Raya-Dr.Beny Litelnoni serta di era pemerintahan Walikota dan Wakil Walikota Kupang, Jonas Salean-dr. Herman Man, tugu itu makin tak terawat.
Tak ada sentuhan perawatan untuk tugu itu meski pun baru-baru ini NTT-Indonesia, melewati perayaan HUT ke- 69 tahun Indonesia Merdeka tanggal 17 Agustus 2014. Kondisi cat putihnya sudah memudar, begitupun cat warna merah sebagai lambang nilai Pancasila pun sudah memudar dan terkelupas.
Tugu itu kini hanya 'ditunggui' oleh para tukang ojek yang 'parkir' menunggu penumpang yang hendak menggunakan jasa mereka.
* Benteng Concordia
Tak jauh dari Tugu Pancasila terdapat sebuah Markas Yonif 743/SYB Kupang. Markas itu dulunya adalah sebuah benteng pasukan Australia (pro Hindia Belanda) yang diberi nama Benteng Concordia.
Sejarah benteng ini dimulai tahun 1613 dimana VOC yang berkedudukan di Batavia mulai melakukan kegiatan perdagangannya di NTT dengan mengirim tiga kapal yang dipimpin oleh Apolonius Scotte menuju Pulau Timor dan mendarat di Teluk Kupang.
Mereka diterima oleh Raja Helong, yang sekaligus menawarkan sebidang tanah untuk keperluan markas VOC. VOC belum mempunyai kedudukan yang tetap di Pulau Timor.
Pada tanggal 29 Desember 1645 seorang Padri Portugis yang bernama Antonio de Sao Jasinto mendarat di Kupang. Beliau mendapat tawaran yang sama dari Raja Helong, dan tawaran tersebut disambut baik oleh Antonio de Sao Jasinto dengan mendirikan sebuah benteng kecil di tempat tersebut. Namun benteng tersebut ditinggalkan karena terjadi perselisihan di antara mereka.
VOC semakin menyadari penting wilayah NTT bagi kepentingan perdagangannya, sehingga pada tahun 1625-1663 VOC melakukan perlawanan ke daerah kedudukan Portugis di Pulau Solor. Dengan bantuan orang-orang islam di Solor, benteng Portugis Ford Henricus Concordia berhasil direbut dan jatuh ke tangan VOC.
Pada tahun itu juga terjadi gempa bumi yang dahsyat di Pulau Solor, sehingga benteng tersebut runtuh. Pada tahun 1653, VOC melakukan pendaratan di Kupang dan berhasil merebut bekas benteng Portugis Ford Henricus Concordia yang terletak di muara sungai Teluk Kupang - yang sekarang berada di Kelurahan Fatufeto, Kecamatan Kota Lama-Kupang - di bawah pimpinan Kapten Johan Burger.
Kedudukan VOC di Kupang pada waktu itu langsung dipimpin oleh Openhofd J van Der Heiden. Selama VOC menguasai Kupang dari tahun 1653 hingga tahun 1810 telah menempatkan 38 orang Openhofd di Kupang, dan yang terakhir adalah Stoopkert yang berkuasa dari tahun 1808 hingga tahun 1810.
Saat ini, Benteng Concordia menjadi Markas Yonif 743/SYB Kupang. Yonif 743/Pradnya Samapta Yudha berdiri tanggal 19 Maret 1965. Kesatuan ini berada di bawah Komando Korem 161/ Wira Sakti Kupang, Kodam IX/Udayana. Yonif 743/PSY memiliki empat kompi masing-masing Kompi A dan B di Naibonat, Kabupaten Kupang, Kompi C di Ende dan Kompi D di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur.
Berbagai operasi militer telah dijalani. Sejak Orde Lama, pasukan Infanteri 743 Kupang telah menunjukkan pengabdiannya kepada negara. Seperti operasi penumpasan kaum pemberontak Republik Maluku Selatan (RMS) 1950 menjadi awal tonggak peran sertanya.
Kemudian penumpasan pasukan DI/TII di Sulsel tahun 1953 yang terus berlanjut hingga operasi penumpasan pemberontakan G30S/PKI tahun 1965.
Sedangkan selama masa pemerintahan Orde Baru, pasukan Infanteri 743 Kupang yang tergabung dalam tugas Udayana membantu operasi pemulihan keamanan Irian Barat tahun 1968. Geografis Provinsi NTT yang berbatasan langsung dengan Provinsi Timtim yang tengah bergolak, tugas amat berat dipikul Batalyon Infanteri 743 Kupang.
Dalam suatu operasi di bulan Desember 1975, yang dipimpin Danyon Mayor (Inf) Sukrisno, lima personel batalyon gugur dalam tugas negara itu. Mereka adalah Pelda M Lagawurin, Serma Matheus Mado, Kopda Paulus Bere Mau, Kopda Markus Loe dan Prada I Wayan Rusmadi.
Sedangkan menurut cacatan sejarah Batalyon Infanteri 743, personel yang gugur selama Operasi Seroja sejak tanggal 31-12-1967 sampai 16-5-1977 sebanyak delapan orang.
Komandan Yonif 743/SYB Kupang, Letkol (Inf) Budi Prasetyo, kepada Pos Kupang, Selasa (12/8/2014) siang, menjelaskan, markas Yonif 743/SYB Kupang sering dikunjungi masyarakat baik pelajar maupun masyarakat umum. Kedatangan mereka yang melakukan kegiatan studi sejarah itu dilayani oleh Yonif setempat.
"Banyak pelajar dan mahasiswa yang datang ke Yonif ini untuk 'belajar' soal sejarah Benteng Concordia. Pintu kami selalu terbuka untuk WNI yang ingin melakukan kegiatan studi sejarah di sini dan memotret bukti sejarah masa lalu. Namun untuk orang asing (WNI) yang ingin masuk ke sini, haruslah ada izin dari pusat," kata Letkol Budi.
Di area Yonif 743/SYB itu terdapat sebuah bunker atau Benteng Concordia serta sebuah kuburan sejarah yang berada di area depan pintu gerbang keluar.
Terdapat pula sejumlah meriam sisa peninggalan Portugis dan VOC yang sudah dipindahkan dari tempat aslinya, semula di belakang Yonif, kini diletakkan di sejumlah area di depan Yonif 743/SYB.
