Selasa, 28 April 2026

Jokowi Presiden Terpilih

Investor Menanti Kabinet Jokowi-JK

164 saham tercatat turun. Sementara 120 saham naik dan 106 saham stagnan. Adapun nilai transaksi hari ini mencapai Rp 5,35 triliun

Editor: Benny Dasman

POS KUPANG.COM, JAKARTA -  Usai Mahkamah Konstitusi menolak seluruh permohonan yang diajukan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Kamis (21/8) kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru loyo di akhir pekan. Aksi profit taking alias ambil untung membuat IHSG terdampar di bawah level 5.200. Indeks ditutup turun 7,24 poin (0,14 persen) pada 5.198,89.

164 saham tercatat turun. Sementara 120 saham naik dan 106 saham stagnan. Adapun nilai transaksi hari ini mencapai Rp 5,35 triliun dengan volume 5,08 miliar lot saham.

Saham-saham yang memberati indeks di zona merah, antara lain, United Tractors (UNTR) melorot 2,69 persen, Matahari Department Store (LPPF) turun 2,06 persen, Adaro Energy (ADRO) melemah 1,95 persen, dan Lippo Karawaci (LPKR) terkoreksi 1,71 persen.

Sementara itu, saham-saham yang masih bertahan di jalur positif, di antaranya, Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) menguat 2,79 persen, Surya Citra Media (SCMA) naik 2,56 persen, Indocement Tunggal Prakasa (INTP) meningkat 1,81 persen, dan Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) bertambah 1,68 persen.

Tanda-tanda melemahnya indeks terjadi saat jeda makan siang. Saat itu indeks juga ditutup melemah 18,48 poin atau 0,35 persen di posisi 5.187,65. Indeks loyo setelah menguat beberapa saat. Sebanyak 130 saham ditutup menguat, 131 saham melemah dan 90 saham stagnan. Volume perdagangan mencapai 3,11 miliar lot saham senilai Rp 3,14 triliun.

Saham-saham yang memberikan turnover positif terbesar bagi pemegang saham adalah DILD (Rp 540), MYRX (Rp 660), WSKT (Rp 935), PTBA (Rp 13.575), dan SCMA (Rp 3.985). Adapun saham yang melemah yaitu TLKM (Rp 2.675), BMRI (Rp 10.475), ASII (Rp 7.675), UNTR (Rp 2.3650), dan BBNI (Rp 5.325).

Sementara itu, dari sepuluh sektor saham, tujuh di antaranya melemah, yakni pertambangan (-0,15 persen), aneka industri (-1,16 persen), konsumer (-0,41 persen), infrastruktur (-0,68 persen), keuangan (-0,38 persen), perdagangan (-0,29 persen), dan manufaktur (-0,4 persen).

Di sisi lain, sektor yang menguat adalah agribisnis (0,22 persen), industri dasar (0,35 persen), serta properti (0,13 persen).

Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi CSA sekaligus Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta menilai, indeks belum banyak berubah lantaran menanti kabinet Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Indeks ditengarai bertengger di kisaran level 5.200 hingga 5.250.

"Sekarang yang dipantau susunan kabinetnya, minimal untuk posisi strategis seperti menko perekonomian, menteri keuangan, menteri perdagangan, dan lain-lain," ujarnya.

Menurutnya, jajaran kabinet dengan posisi strategis tersebut bakal membantu Jokowi dan Jusuf Kalla menentukan kebijakan moneter di masa mendatang. Bila susunan kabinet memikat pasar, IHSG pun bakal lebih perkasa.

Menyangkut rupiah, Reza menilai nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bakal berotot. Dolar AS bakal bertengger di kisaran Rp 10.950 di akhir tahun ini.

"Rupiah itu kita berharap bisa berada di kisaran Rp 11.400 sampai Rp 10.950 di akhir tahun,"  ujarnya seraya menjelaskan, investor juga mewaspadai situasi di dalam dan luar negeri, terutama soal suku bunga di negeri Uwak Sam.

The Federal Reserve alias bank sentral AS saat ini tengah menggelar persamuhan selama dua hari di Jackson Hole, Wyoming. Pada akhir pertemuan, Gubernur The Fed Janet Yellen akan mengambil sikap soal suku bunga AS yang selama ini ditahan rendah.

"Kalau sampai suku bunga naik itu akan positif buat dolar dan bisa menguat. Tapi kalau dari dalam negeri juga sentimennya bagus, nanti bisa mengimbangi penguatan dolar itu," paparnya.

Sepanjang pekan ini dan pekan lalu dolar AS bergerak di kisaran Rp 11.700-11.800. Pergerakan dolar AS masih tinggi karena keputusan MK waktu itu belum keluar.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Juda Agung berharap, pemerintahan baru mempersiapkan kebijakan di bidang ekonomi moneter. Ada beberapa catatan yang menjadi bahan rekomendasi kepada pemerintah baru. Namun, isu utama yang diangkat adalah perihal reformasi subsidi.

"Siapa pun tahu kalau subsidi di sektor energi BBM (bahan bakar minyak) dan listrik sudah sangat membebani negara. Jadi jalan satu-satunya adalah reformasi subsidi dengan melakukan realokasi (pengalihan) subsidi ke sektor lain seperti ke sektor infrastruktur," ujar Juda di Gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta.

Selain itu, Ia mendesak perbaikan reformasi struktural di sektor perdagangan ekspor dan impor. Apalagi, curent account masih defisit lantaran disumbang transaksi impor migas yang tetap tinggi. 

"Sehingga di sini yang harus direformasi," ungkapnya.

Ia menjelaskan, pemerintah baru mesti mendorong terwujudnya diversifikasi atau keanekaragaman energi di Tanah Air. "Kalau bisa didiversifikasi, maka ketergantungan minyak bisa dikurangi, impor minyak berkurang, ketimpangan neraca karena banyak impor minyak tadi juga bisa dikurangi," imbuhnya. (tribunnews/rif/kps)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved