Reporter RRI Atambua Wakili NTT ke Jakarta
Reporter RRI Atambua, Febby Leo Lede, terpilih menjadi reporter teladan mewakili NTT mengikuti upacara HUT ke-69 RI di Istana Negara,17 Agustus 2014
POS-KUPANG.COM, ATAMBUA --- Reporter RRI Atambua, Febby Leo Lede, terpilih menjadi reporter teladan mewakili NTT mengikuti upacara HUT ke-69 RI di Istana Negara, 17 Agustus lalu.
Dirinya terpilih setelah melewati rangkaian tahapan seleksi di antara reporter radio yang ada di perbatasan negara melalui tulisan yang bernuansa perbatasan.
Febby Leo Lede (27), kepada Pos Kupang di Atambua, Rabu (20/8/2014), menuturkan, dirinya tidak pernah membayangkan jika terpilih menjadi salah satu reporter untuk ke Jakarta mengikuti upacara HUT RI.
Dalam sejarah hidupnya dan selama tiga tahun menjadi reporter RRI Atambua, ini merupakan kado istimewa yang tak akan pernah terlupakan. Dan, yang mengharukan, kata Febby, menuju Jakarta harus melewati tahapan seleksi yang cukup ketat melalui tulisan yang bernuansa perbatasan.
"Saya lolos seleksi dan terpilih sebagai reporter teladan asal Belu, NTT, bersama 2.245 orang reporter lain di wilayah perbatasan Negara Indonesia, yang terpilih dari 9 Kementerian. Ketika saya mendapat informasi kalau saya juga lolos, hanya ucapan puji Tuhan yang bisa kupanjatkan. Saya bersama reporter lain dari daerah perbatasan di Indonesia diundang hadir di Gedung DPR RI untuk mengikuti pidato kenegaraan Presiden dan upacara 17 Agustus di Istana Negara," tuturnya.
Febby yang menjadi reporter RRI Atambua tahun 2012 ini merasa bangga dapat mewakili NTT ke Jakarta. Terpilihnya dia sebagai reporter teladan setelah dinilai dari pengiriman berita dan pembuatan ficer tentang kemerdekaan di daerah perbatasan antarnegara.
Dia mengangkat tema mengenai kecintaan warga perbatasan RI-RDTL walaupun hidup dalam kesusahan tapi tetap berada dalam bingkai NKRI. Untuk kawasan Indonesia Timur, dirinya bersama reporter dari Papua, Yorid Godem, dari Bovendigul daerah perbatasan dengan Negara Papua Nugini.
Febby menuturkan, yang memotivasi dirnya membuat tulisan tentang daerah perbatasan karena wilayah perbatasan RI-RDTL masih jauh dari perhatian pemerintah pusat. Di wilayah perbatasan ini, infrastruktur pembangunan seperti jalan raya, listrik, air bersih dan pendidikan masih jauh dari harapan.
Ketika dirinya di Jakarta, permasalahan inipun disampaikan bahwa perbatasan RI-RDTL adalah NKRI dan wajib hukumnya untuk diperhatikan, sehingga "kue pembangunan" bisa dinikmati bersama-sama sebagai anak-anak yang lahir dari kandungan Bumi Pertiwi.
"Saya juga ucapkan terima kasih untuk para jurnalis senior maupun yunior yang bertugas di perbatasan RI-RDTL yang selalu memotivasi saya dalam bekerja. Kepada rekan kerja di RRI Atambua, pimpinan RRI Atambua yang turut mendukung sehingga saya bisa mewakili NTT sebagai reporter teladan," ujar alumna Undana Kupang ini.