Renungan Ramadan
Kualitas Puasa
Acapkali penekanan ibadah hanya asalkan sah, bukan diterima oleh Allah SWT.
Oleh KH Cholil Nafis Ph D
SEMESTINYA Indonesia menjadi negara yang paling aman, baik dan sejahtera. Bagaimana tidak, Indonesia berpenduduk muslim terbesar di dunia. Jumlah umat Islam, menurut data BPS pada 2010, sekitar 87,18 persen dari 237.641.326 penduduk.
Seharusnya salat, haji, dan puasanya memberi efek baik pada kehidupan. Jika salatnya benar dan memberi efek baik, bukan hanya menjadikan orang baik tetapi juga dapat mencegah orang lain dari berbuat keji dan mungkar. Jika puasanya berjalan baik, maka tidak ada caci maki, fitnah, kedengkian, dan korupsi.
Sayang, ibadah umat Islam tidak selalu mencapai tujuan syariahnya. Kadangkala ibadah hanya untuk menggugurkan kewajiban atau melepaskan tanggung jawab. Acapkali penekanan ibadah hanya asalkan sah, bukan diterima oleh Allah SWT. Ibadah yang dapat memperbaiki kehidupan itu jika ibadahnya dilakukan secara sah dan diterima oleh Allah SWT.
Meskipun melakukan ibadah pada hari dan waktu yang sama belum tentu bernilai sama kualitasnya. Kualitas ibadah ditentukan oleh iman dalam hatinya dan syariah dalam pelaksanaannya. Seperti ibadah puasa yang dilaksanakan oleh beberapa orang dalam satu keluarga, pasti kualitasnya berbeda-beda tergantung pada kadar iman dan praktik puasanya.
Ada beberapa tipe dalam menghadapi dan melewati bulan Ramadhan sehinggga ada efek dalam kehidupannya. Pertama, terus menanjak naik derajatnya karena puasa Ramadhan. Mereka adalah orang-orang saleh dan bersih hatinya sedari sebelumnya. Ikhlas dan beramal saleh namun bertambah kebaikannya karena dilipat gandakan oleh keutamaan bulan Ramadhan.
Kedua, orang yang meningkat derajatnya dengan datangnya bulan Ramadhan. Mereka adalah orang-orang beriman yang beramal saleh sekadarnya, namun terus meningkatkan amal baiknya di bulan Ramadhan. Ketiga, kebaikannya meningkat karena bertemu bulan Ramadhan dan setelahnya menurun derajatnya.
Di bulan Ramadhan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat, sedangkan pada bulan lainnya pahala tidak selelalu dilipat gandakan. Karenanya, meskipun amalannya sama di bulan Ramadhan dengan bulan lainnya, tetapi derajatnya lebih tinggi di bulan Ramadhan.
Keempat, menjadi baik karena bertemu bulan Ramadhan. Mereka adalah orang yang selalu lalai dan bermaksiat kepada Allah SWT, namun ketika bertemua dan beribadah di bulan Ramadhan Allah SWT member hidayah sehingga setelahnya berubah dari orang zalim menjadi baik. Derajatnya bisa terus naik jika pada bulan Ramadhan tahun-tahun berikut terus meningkatkan kebaikannya.
Kelima, menjalani puasa Ramadhan secara konvensional. Mereka yang melewati Ramadhan hanya sekadar tradisi atau biasa-biasa saja. Puasanya sekadar ikut-ikutan, tarawihnya hanya sekadar ikut rame-rame, bahkan maksiatnya terus dijalani. Mereka tidak mendapatkan derajat apapun di bulan Ramadhan. Bahkan bisa jadi tambah zalim pada dirinya sendiri dan kepada Allah SWT pada bulan-bulan berikutnya.
Puasa yang bisa memberi efek baik jika puasanya tidak sekadar tidak makan, tidak minum, dan tidak menyelurkan syahwat seks, tetapi lebih dari itu semua panca indran dan organ tubuhnya menunaikan kontrol diri dari perbuatan buruk dan keji. Bahkan hati dan pikirannya menunaikan puasa dari dengki dan zalim.
Teriring doa mudah-mudahan Allah SWT senantiasa mengaruniai taufik dan memberi hidayah agar senantiasa hati dibimbing menuju keyakinan dan langgeng, agama yang lurus, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, amal saleh, dan kebaikan yang banyak. Amin ya Rab. * (Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PB NU/Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia Pusat)