Salam Pos Kupang

Budaya Malu Kita Memang Rendah

NTT daerah kering, miskin, dan disebut serba minus, namun subur dalam hal praktek korupsi. Mengapa?

Budaya Malu Kita Memang Rendah
istimewa
ilustrasi korupsi

KASUS korupsi di negeri semakin marak dan menjadi-jadi.  Menjadi perbincangan media massa lokal dan nasional. Harian ini tak melewati hari-harinya dengan pemberitaan kasus-kasus korupsi. Hal ini mengindikasikan kasus korupsi juga marak terjadi di NTT. Daerah kering, miskin, dan disebut serba minus, namun subur dalam hal praktek korupsi. Mengapa?

Penyebabnya bermacam-macam. Mulai dari masalah ekonomi,  rendahnya penghasilan hingga gaya hidup konsumtif. Yang terakhir ini menjadi penyebab yang dominan. Pasalnya, para pelaku yang terlibat korupsi kebanyakan oknum pejabat.

 Ada mantan bupati, mantan walikota. Kalau pun dari kalangan swasta, mereka adalah oknum pengusaha, kontraktor. Mereka bukan orang miskin. Gaji kurang? Tidak. Apa yang kurang dari seorang mantan bupati, mantan walikota. Mereka mempunyai segala-galanya. Tabungan juga banyak. Lalu apa yang mau dicari.

Ya, itu tadi ketamakan, rakus, tidak mensyukuri apa yang ada. Tidak puas dengan apa yang ada. Sudah ada kalung emas di leher, anting emas di telinga, jam tangan emas di tangan, bahkan  kaki pun dibaluti kalung emas. Toh masih tidak puas. Kalau baju dan celana yang terbuat dari emas, pasti mereka membelinya juga.

Gaya hidup berjuis ini terlihat dari hasil penyelidikan beberapa kasus dugaan korupsi yang kini sedang ditangani aparat Kejaksaan Tinggi NTT. Ada tersangka yang memiliki rumah mewah, mobil mewah lebih dari dua unit, bahkan membeli speed boat.

Demi hidup mewah orang tega bermental menerabas. Pendek kata, korupsi sudah membudaya dan sudah menjadi kebiasaan. Karenanya orang tak malu lagi untuk melakukannya. Paling-paling tinggal di penjara hanya satu atau dua tahun. Namun duit yang dikorup sudah bisa menghidup keluarga untuk beberapa tahun.

Budaya malu kita memang rendah. Ini pemicunya. Pun sanksi hukum lemah karena tidak mampu menimbulkan efek jera, penerapan hukum yang tidak konsisten dari institusi penegak hukum, dan kurangnya pengawasan hukum. Belum lagi saling main mata antara para pihak dengan aparat penegak hukum membuat korupsi semakin terjun bebas. Harapannya polisi dan jaksa semakin komit memberantas korupsi. Tidak menjadi kasus sebagai ATM. Taruhannya citra.*

Penulis: Benny Dasman
Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved