Calon Presiden 2014

Akbar Minta Luhut Mundur dari Jabatannya

Kalau ada kader yang tidak setuju, semestinya bisa mendatangi ketua umum dan tanyakan baik-baik.

Editor: Benny Dasman

POS KUPANG.COM, JAKARTA--Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung, mempertanyakan Luhut. "Sebenarnya, kan Rapimnas sudah memutuskan hak dan kewenangan penuh kepada Ketua Umum Saudara Aburizal Bakrie untuk menjadi calon presiden, atau calon wakil presiden, atau menjalin koalisi. Karena itulah memutuskan berkoalisi dengan Gerindra. Kalau ada kader yang tidak setuju, semestinya bisa mendatangi ketua umum dan tanyakan baik-baik," ujar Akbar, mantan Ketua Umum Partai Golkar.
Dia pun meminta Luhut mundur saja dari jabatannya jika memiliki sikap berbeda dari partai. "Posisi dia (Luhut) tidak bisa dipisahkan sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan. Kalau Wakil Ketua Pertimbangan saja begini, bagaimana kader di bawah. Atau sekalian dia minta mundur, sehingga tidak terikat lagi," ujar Akbar sembari mempertanyakan dedikasi, dan loyalitas Luhut.
Mengomentarari pernyataan Akbar, Luhut mengatakan, sebaiknya Akbar tidak perlu mengajarinya dalam hal urusan loyalitas. "Senin lalu, saya sudah sampaikan kepada ketua umum. Saya pamit dan sampaikan sikap politik saka mendukung Jokowi - Kalla. Jadi saya tidak membelot, sebab sudah seizin ketua umum," ujar penerima Adimakayasa (lulusan terbaik) di antara lulusan Akmil 1970 itu.
Penyebab utama yang mendorong Luhut berbeda sikap dari Partai Demokrat karena alasan etika berpolitik. "Saya tidak setuju politik transaksional. Hal lebih penting, jangan sampai berperilaku tidak baik. Jangan berpura-pura di depan baik, padahal di belakang negosiasi kekuasaan atau jabatan. Saya  sebagai perwira mau mengajarkan kepada yang muda-muda tentang sikap berpolitik yang tidak semata-mata transaksional," ujar Luhut.
Luhut pun mengaku sudah mengundurkan diri dari jabatan di Partai Golkar. "Saya mundur dari Wakil Ketua Dewan Pertimbangan, lebih pada pertimbangan supaya tidak terjadi perpecahan. Saya sudah pamit ke ABR, Senin lalu. Saya sudah sampaikan surat. Saya fair," kata Luhut, mantan Duta Besar RI untuk Singapura. Luhut menjelma menjadi jenderal konglomerat dengan induk perusahaan Toba Sejahtera.
Luhut mengatakan, perbedaan pilihan politik tak membuat hubungannya dengan Ical menjadi buruk. Luhut dan Ical tetap menjalin hubungan baik. Luhut tidak ingin terjadi perpecahan gara-gara perbedaan pilihan politik.
Luhut juga tetap mendukung kepemimpinan Golkar. Menurutnya, ada beberapa orang Golkar mengajaknya menggulingkang Ical. "Tapi saya tidak mau. Saya tidak setuju. Itu tidak baik, biarlah kepemimpinan partai berakhir pada waktunya," ujarnya. (tribun/amb/yog/nic)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved