Parodi Situasi

Parodi Situasi: Kampanye Jurus Jepang-Solo

Kata ibunya, Pancasila itu milik orang Jepang. Meskipun teman-temannya mati-matian bertahan bahwa Pancasila itu dasar negara Indonesia.

Parodi Situasi: Kampanye Jurus Jepang-Solo
DOK POS KUPANG
Maria Matildis Banda

Oleh Maria Matildis Banda

POS-KUPANG.COM ---  Kata ibunya, Pancasila itu milik orang Jepang. Meskipun teman-temannya mati-matian bertahan bahwa Pancasila itu dasar negara Indonesia, milik orang Indonesia.

Hanya satu di dunia  made in Indonesia, tiada duanya, dan lain-lain, dia tetap bertahan bahwa Pancasila itu milik orang Jepang. Rupanya ini terjadi gara-gara you tube yang memancarkan Mata Nazwa dalam episode 'menatap yang menata' wawancara dengan Bupati Bantaeng, Sulawesi Selatan. Gara-gara ilmu dumai alias dunia maya, yang ditangkapnya segera sesaat setelah Mata Nazwa tayang Rabu, 12 Maret lalu. 

Diungkapkan Bupati bahwa aplikasi Pancasila ada di Jepang. "Orang Jepang itu malunya tinggi, gengsinya kurang, dan pantang berbohong," kata Pak Bupati yang mengalami Jepang sepanjang masa kuliah dan dengan rendah hati berkata, "itulah yang mengubah karakter saya."  
                                                        ***
"Siapa nama bupatinya?"

"Prof. Dr. Ir. HM Nurdin Abdullah, M.Agr guru besar Universitas Hasanudin Makassar, master dan doktor lulusan Kyushu University Jepang, yang jadi bupati karena dipaksa rakyat Bantaeng dan ditolak mentah-mentah istri dan anak-anaknya, yang mendapat 50 penghargaan  dari karya-karyanya, yang terkenal dengan program Brigade Siaga Bencana dimana dokter dan paramedis yang datang ke rumah pasien, yang mengubah semak belukar menjadi taman, yang atasi banjir melalui cekdam, yang berhasil membuat Bantaeng mengekspor ubi talas ke Jepang, yang mewakafkan jiwa raga dan hartanya untuk Bantaeng, yang mendapat gelar Silahturami Nasional dari ormas Pemuda Pancasila, yang dalam pilkada periode kedua menang telak, 87 persen, yang diusulkan Komite Bangsa Peduli Indonesia menjadi capres 2014," panjang lebar Nona Mia menjelaskan siapa Bupati Bantaeng.

"Ditambah lagi yang jalan menuju kursi bupati mirip Jokowi."

"Tetapi Pancasila tetap milik Indonesia," kata Jaki. "Bagaimana kalau Jepang mengklaim bahwa Pancasila milik mereka? Wah, ini isu yang bagus sekali untuk mulai kampanye. Kita harus bela mati-matian kita punya negara, jangan sampai ada yang curi pancasila dari kita."

"Tidak ada yang mencuri," sambung Benza. "Pancasila milik kita, namun kita jarang mengaplikasikannya dalam hidup. Sedangkan orang Jepang memang tidak punya Pancasila, tetapi kehidupannya pancasilais. Itu maksudnya."

"Tiga kunci yang mengubah karakter Bupati Bantaeng," kata Nona Mia. "Bekal yang bagus buatmu yang akan mulai kampanye: satu, punya rasa malu yang tinggi dan dua, pantang berbohong, juga tiga, upayakan kurangi gengsi."                                    

                                          ***

Halaman
123
Editor: omdsmy_novemy_leo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved