Oepura Dulu Jadi Pusat Kerajaan

Sejak masih berstatus Desa Oepura, wilayah ini sudah menjadi pusat pemerintahan Propinsi NTT dan juga Kerajaan Helong.

Oepura Dulu Jadi Pusat Kerajaan
POS KUPANG/APSON BENU
Inilah Sonaf Kerajaan Foenay yang terletak di Jalan Anggrek, Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa. Gambar diabadikan, Kamis (13/3/2014).

POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Oepura sudah lama dikenal orang. Sejak Propinsi NTT terbentuk, nama Oepura sudah ada. Sejak masih berstatus Desa Oepura, wilayah ini sudah menjadi pusat pemerintahan. Oepura menjadi pusat pemerintahan Propinsi NTT dan juga Kerajaan Helong.

Kolan Foenay dan Mince Foenay yang ditemui terpisah di kediamannya, Kamis (13/3/2014), mengaku, Oepura memiliki cerita panjang dalam sejarah NTT dan Kota Kupang. Keduanya mengatakan, Oepura yang dulunya hanya sebuah desa kecil, berkembang sangat cepat dan bahkan sekarang sudah jadi dua kelurahan. Wilayah pecahan Oepura adalah Kelurahan Naikolan.

Kolan Foenay menuturkan, pusat pemerintahan kerajaan Suku Helong berada di Oepura. Padahal, di Oepura sendiri kala itu penduduk terbanyak adalah Suku Sabu. "Dulu pusat Kerajaan Helong itu ada di sini. Suku terbanyak waktu itu adalah Sabu. Waktu itu Raja Helong, yakni Kolan mempercayakan salah satu dari mereka bernama Barnemeng untuk mengontrol tuak (pohon lontar, red) yang ada di sini," katanya.

Kerajaan Helong yang berpusat di Oepura dulunya mempunyai dua wilayah kekuasaan yaitu yang dipimpin Welhelmus Foenay mencakup Bolok, Kuanheum dan beberapa daerah lainya. Kerajaan Sonbay Kecil yang dipimpin Eben Foenay mencakup Baumata, Oehani, Besmarak, Oben dan Kolhua.

Seiring berjalannya waktu, Foenay membentuk sistem pemerintahan yang terbagi dalam beberapa camat yaitu Amarasi yang dipimpin oleh Veki Koroh dan Kupang Timur yang dipimpin oleh Eben Sonbay. Amfoang dipimpin oleh Nailius yang kemudian berkembang dengan pemekaran yang pesat hingga saat ini.

Sonaf yang merupakan pusat kerajaan Foenay, seiring waktu dan perubahaan sistem pemerintahan negara semakin memudar. "Dulu kalau warga di sini memanggil kami Amlahi (sapaan untuk bangsawan), namun kami tidak terlalu terikat dengan panggilan itu. Keinginan kami agar bisa lebih dekat dekat masyarakat, jadi kita bergaul seperti biasa saja," tutur Kolan.

Mince Foenay yang tinggal di Sonaf Foenay, mengatakan dulunya sonaf tersebut pernah dibom oleh tentara Sekutu. Sekutu, katanya, berpikir kalau sonaf tersebut menjadi tempat persembunyian para penjajah.

"Sonaf ini dibangun tahun 1910 beratap genteng kemudian alang-alang. Setelah dibom oleh sekutu, dibangun lagi menggunakan atap seng," ungkap Mince Foenay.

Konon, sonaf tersebut merupakan tempat penyelesaian semua perkara yang terjadi dalam masyarakat. Sonaf itu juga sebagai tempat pelaksanaan kegiatan adat seperti pernikahan dan acara lainnya.

Sonaf atau Istana Kerajaan Foenay terletak di Jalan Anggrek Kelurahan Oepura ini masih berdiri kokoh. Bangunan ini berbentuk klasik namun sudah direhab di beberapa bagian. Nampak pepohonan yang berumur ratusan tahun masih berdiri kokoh di halaman sonaf yang cukup luas itu.  (aa)

Editor: Sipri Seko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved