Opini

Pulsa Adalah Palsu

Tulisan ini bermula dari cerita seorang teman. Katakanlah namannya Hermen

Oleh Lasarus Jehamat
Sosiolog Undana; Anggota Forum Sophia

TULISAN ini bermula dari cerita seorang teman. Katakanlah namannya Hermen. Konon tiap hari handphone (HP) Hermen berdering silih berganti. Kadang sekadar missed call, pesan masuk dalam bentuk short message service (SMS) atau benar-benar berbicara melalui udara. Menarik, demikian Hermen, isi pesan singkat atau akhir setiap obrolan selalu ditutup dengan kalimat, "Om/Kaka/Bapa/Too/Ama/Kraeng/Eja, kirim pulsa e....saya tunggu...". Awalnya Hermen meladeni setiap permintaan orang di dunia seberang tersebut, tetapi lama kelamaan, Hermen kewalahan, uang bulanannya nyaris habis untuk membeli pulsa. Pengalaman Hermen mungkin pernah dialami oleh kita semua dengan level yang bervariasi.

Memang, pulsa menjadi jargon seksi saat ini. Pulsa  menjadi terminologi yang selalu hidup dan menemani kita sampai ke ruang-ruang pribadi manusia yang menggenggam atau menenteng HP. Menurut Tesaurus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (2008) pulsa berarti  debar, degub, denyut, detak, renyut, getaran, vibrasi. Pengertian itu dari perspektif semantik linguistik kebahasaan. Jika merujuk perspektif media dan budaya, pulsa selalu berhubungan dengan komputer dan teknologi informasi.

Meskipun demikian, saat ini, pulsa tidak hanya dilihat dari dua kategori itu. Pulsa harus diperiksa melalui banyak kategori mulai dari kategori budaya, politik, sosial dan terutama ekonomi.

Moral tulisan ini adalah mengingatkan masyarakat modern agar tidak mudah ditipu oleh ragam janji dan istilah dalam ruang budaya teknologi informasi. Hakikatnya, pulsa adalah uang. Getaran dalam bahasa semantik. Tetapi pulsa sebetulnya adalah uang di ruang virtual. Ketika rezim kapitalis tidak berani mengatakan bahwa pulsa adalah uang maka pada titik itu rezim kapitalis adalah penipu. Dalam langgam yang sama, ketika pulsa tidak didefinisikan sebagai uang, maka pada titik itu, pulsa adalah palsu.

Memeriksa Pulsa
Sebagaimana dijelaskan di atas, pulsa tidak bisa hanya dipahami dari aspek semantik atau teknologi saja. Dia harus dilihat dari banyak aspek; sosial, budaya, politik dan ekonomi. Fenomena pulsa muncul seiring dengan berkembangnya teknologi informasi. Nyaris semua orang saat ini gandrung dengan yang namanya HP tanpa dibatasi oleh usia, etnis, geografis bahkan kelas sosial. Saat ini sulit dibedakan, mana pebisnis, mana mana ibu rumah tangga; mana siswa, mana mahasiswa; mana gubernur, mana cleaning service; mana orang kantoran dan mana pengangguran. Semua menggenggam benda ajaib itu. Jika pespektif sosiologis boleh dimasukan di sini, maka HP menjadi batasan untuk mengatakan bahwa semua manusia berada di kelas sosial yang sama. Yang membedakan satu dengan yang lain hanya soal jumlah dan merk serta tipe HP. Sebab, untuk beberapa orang, kepemilikan sebuah HP dianggap belum cukup dan oleh karena itu perlu ditambah tergantung jumlah operator yang menyediakan layanan komunikasi nirkabel tersebut.

Di ruang budaya, pulsa menjadi indikator budaya modern. Salah satu kritik yang digencarkan kaum posmodernis terhadap logika modernisme adalah perilaku masyarakat industri dalam ruang modernitas. Masyarakat industri adalah buah kandung dari modernisme. Modernisme itu sendiri menjadi narasi besar kaum rasionalis-positivistis. Tepanya, rasionalitas instrumen menurut kaca mata Weber. Teknologi merupakan wujud aktual dari kerja nalar-rasionalitas tersebut. Argumentasi kaum posmomdernis adalah dunia rasional yang dibayangkan kaum modernis ternyata menghasilkan dua akibat kontradiktif. Yang satu membuat masyarakat semakin dipermudah oleh teknologi dan yang lain membuat masyarakat menjadi budak teknologi.

Budaya konsumsi adalah buah dari budaya teknologi sebagaimana kritikan kaum kritis terhadap modernitas. Masyarakat konsumsi adalah tipe masyarakat yang dicirikan oleh kekuatan konsumsi melebihi aktivitas produksi. Begitu kuatnya dominasi konsumsi sampai-sampai batas antara jumlah pemasukan dengan pengeluaran tidak pernah diperhitungkan lagi. Ketika kekuatan ini menjadi milik individu sekaligus masyarakat maka muncullah apa yang oleh Baudrillard (2006) sebagai masyarakat konsumsi. Pulsa bisa dilihat dalam kategori itu menurut perspektif budaya.
Dalam pandang Baudrillard, masyarakat konsumsi terbentuk oleh kekuatan luar diri manusia terutama oleh kekuatan kapitalisme global. Fenomena ini dicirikan oleh perubahan pola pikir masyarakat tentang konsumsi (needs and want). Dalam perspektif ekonomi, kegiatan konsumsi adalah kegiatan untuk memakai atau menggunakan produk barang atau jasa yang dihasilkan dari kegiatan produksi. Konsep tersebut saat ini mengalami pergeseran untuk tidak menyebut distorsi. Saat ini konsumsi dipahami sebagai kemampuan manusia menciptakan kebutuhan sebanyak mungkin barang untuk dinikmati. Kata menciptakan perlu diberi perhatian khusus, sebab kebutuhan saat ini tidak didasarkan oleh pertimbangan seberapa besar kegiatan produksi yang telah dicapai untuk kemudian memenuhi tuntutan biologis dan psikis masyarakat. Oleh rezim kapitalisme global, kebutuhan kemudian sengaja diciptakan guna memenuhi target pasar dalam bingkai akumulasi kapital.

Untuk Kita
Berangkat dari beragam penjelasan dan analisis di atas, sulit untuk tidak mengatakan bahwa pulsa itu adalah palsu. Palsu karena terang menipu dan menghipnotis masyarakat. Kita semua mengaku diri sebagai manusia rasional. Manusia yang memproduksi handpone berikut yang merancang pulsa (getaran) sebagai satuan untuk mengukur waktu penggunaan alat tersebut. Aneh rasanya jika pulsa mendikte manusia rasional itu.

Pembahasan ini tidak untuk menegasikan peran alat teknologi secara fungsional. Yang ingin diberitahukan di sini adalah penggunaan alat itu berikut satuan berupa pulsa di luar batas kekuatan sosial, ekonomi dan budaya. Jika handphone benar-benar digunakan untuk tujuan fungsional (menelpon, mengirimkan pesan dan gambar, dan lain-lain), hemat saya harus diamini. Malapetaka muncul ketika modernitas dan manusia yang mengaku diri modern itu berusaha merongrong naluri manusia agar keluar dari bingkai kebutuhan untuk tunduk di bawah keinginan semata.

Lepas dari itu, ketika penggunaan handphone justru menjauhkan sesama yang duduk dekat dengannya maka pada titik itu, alat ini harus dikutuk. Pada bagian lain, ketika alat ini menjadi kebutuhan pokok menggantikan nasi, beras atau jagung; dan oleh karena ketiadaan handphone maka manusia harus mencuri misalnya maka titik itu handphone dan pulsa menjadi hantu yang harus dikutuk dan ditakuti.

Kutukan harus dilakukan karena alat dan satuan ini justru menghegemoni manusia rasional. Hanphone dan pulsa menghegemoni manusia sampai ke ruang pribadi sekalipun. Tidak hanya alat yang dikutuk. Rezim yang menyebabkan masyarakat terbuai pun harus diperiksa. Rezim itu bernama kapitalisme dan neoliberalisme. Masyarakat harus segera sadar bahwa pulsa adalah uang dan bukan sekedar satuan pemakaian jasa telekomunikasi. Setiap kali kita bertanya tentang pulsa di handphone kita, jawabannya selalu mengacu pada satuan mata uang. Itulah dosa rezim kapitalisme global dan neoliberalisme. *

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved