Opini

Propinsi Jagung Minus Etnosains NTT

Pos Kupang tanggal 19 Januari lalu membeberkan beberapa realitas terkait program Propinsi NTT yang belum berhasil

(Mengkritisi Program Propinsi Jagung NTT)

Oleh Dasion Agustinus, SS.MA
Alumnus Pascasarjana Fisip Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta

POS Kupang tanggal 19 Januari lalu dan beberapa hari sebelumnya secara cukup mendetail membeberkan beberapa realitas terkait program Propinsi NTT yang belum berhasil. Yang lebih mencengangkan lagi adalah bahwa program ini telah dimulai sejak tahun 2008 dan telah menghabiskan Rp 105 miliar. Dengan dana yang cukup besar, diharapkan program ini dapat berjalan secara cepat sekaligus cepat. Namun realitas membuktikan lain. Memasuki tahun keenam program ini, NTT masih menjadi propinsi yang selalu "mengimpor" jagung dari daerah lain. Realitas pedagang jagung NTT yang membeli jagung dari Jawa dan Sulawesi membenarkan bahwa program ini belum berhasil.

Pertanyaan dasarnya adalah apakah ada segi yang terlupakan sehingga program propinsi jagung NTT belum terrealisasikan hingga sekarang? Tesis dasar tulisan ini adalah banyak program yang dicanangkan hingga masih terpusat pada sebuah teori-teori pertanian yang pada umumnya dikuasai oleh teori-teori global tanpa memberi ruang pada pengetahuan lokal atau etnosains yang telah terbukti memberikan dampak yang signifikan pada persediaan jagung selama berabad-abad di NTT.

Etnosains Propinsi Jagung
Istilah etnosains berasal dari kata ethnos dari bahasa Yunani yang berarti "bangsa" dan kata scientia dari bahawa Latin yang berarti "pengetahuan" (Werner and Fenton, 1970: 537). Istilah ini baru muncul pada ilmu antropologi budaya di Amerika Serikat sekitar tahun 1060-an. Sedangkan di Indonesia, ilmu ini belum terlalu dikenal. Etnosains dimengerti sebagai pengetahuan yang dmiliki oleh suatu bangsa atau suku bangsa  atau kelompok sosial tertentu. Etnosains didefinisikan sebagai "system of knowledge and cognition typical of a given culture". Dengan demikian secara sederhana, etnosains dimengerti sebagai pengetahuan lokal yang unik, khas dan berbeda, yang dapat menjawab segala tantangan realitas kehidupan pada kelompok masyarakat tertentu. Etnosains juga dikaitkan dengan apa yang disebut dengan etnoteknologi yakni berupa segala teknologi lokal yang digunakan untuk mempermudah sekaligus menjawab tantangan hidup bersama alam.

Realitas kurang berhasilnya program propinsi jagung yang digencarkan oleh Propinsi NTT harus dilihat secara lebih kritis. Penulis mempercayai bahwa dengan sudah menggelontorkan begitu banyak uang, "seharusnya" program tersebut dapat berjalan sesuai dengan rencana awal jika aspek etnosains (sekaligus etnoteknologi) diteliti terlebih dahulu. Sebelum mempraktekkan program ini kepada masyarakat, dinas terkait harus berani turun ke lapangan dan meneliti semua secara detail etnosains (dan etnoteknologi) di seluruh pelosok NTT demi mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh. Dasar dari paradigma di atas adalah bahwa setiap kelompok msayarakat mempunyai pengetahuan sekaligus teknologi yang dasar dan berbeda dalam mengolah tanah dan menanam jagung. Dengan demikian program yang dilakukan pemerintah, mulai dari pemberian benih, penyediaan traktor dan sebagainya tidak berbenturan dengan etnosains atau pengetahuan lokal yang telah terbukti menyiapkan jagung lokal sejak dahulu. Tidak hanya itu, etnosains memberikan pengetahuan lokal tentang cuaca, cara pengairan yang cocok, hingga mengolah tanah sesuai dengan struktur tanah yang ada menjadi beberapa lokus pembahasannya. Pengetahuan global dan teknologi modern tidak bisa dipakai secara mutlak di seluruh jenis tanah sebag tidak bisa menjawab beberapa struktur tanah yang "anomali" sehingga butuh etnosains untuk menjawab tantangan tersebut.

Tanpa melihat apakah program propinsi jagung NTT tepat sasar atau tidak, tetapi program ini seharusnya menjadi dasar dalam pengembangan sektor pertanian di NTT. Etnosains (sekaligus etnoteknologi) menjadi dasar untuk  menjawab segala kegagalan program ini sebab dana yang begitu banyak akan tidak ada artinya jika tidak pelaksanaannya tidak didasarkan pada pengetahuan lokal (etnosains). *

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved