Opini

Pemain Timnas Lahir dari Timdes

Yabes Roni Malaifani adalah salah seorang pemain sepakbola Timnas U-19 asal Alor, Provinsi NTT yang desanya tidak ada di dalam peta

Oleh Johni Lumba
Pengamat Sepakbola

YABES Roni Malaifani adalah salah seorang pemain sepakbola Tim Nasional (Timnas) U-19 asal Kabupaten Alor, Provinsi NTT yang desanya tidak ada di dalam peta, demikian kata Indra Sjafri saat bertemu dengan salah seorang anggota dewan di Jakarta baru-baru ini. Kehadiran Indra semata-mata meminta dukungan para wakil rakyak tersebut agar membantu menyelenggarakan pertandingan di desa karena para pemain sepakbola yang hebat kebanyakan berasal dari desa (Timdes). Sebagai contoh, kata Indra, Yabes Roni Malaifani adalah Putra Alor asal NTT yang secara nasional melalui peta desanya tidak terlihat dan terbaca, tetapi dari situlah lahir seorang pemain yang kini menempati Timnas U-19. Untuk itu menurut Indra sudah saatnya bersama-sama mencari pemain sepakbola dengan menyelenggarakan turnamen antar desa atau kampung  di seluruh Indonesia.

Keberhasilan Indra Sjafri dalam mencari pemain sepakbola U-19 sudah terbukti dengan melakukan seleksi menggunakan sistem tour ke daerah-daerah di seluruh Indonesia, termasuk NTT. Teknik talent scouting dengan  IPTEK Jalanan itulah Indra mendapatkan salah satu pemain Timnas U-19 asal Alor yang tidak pernah dipikirkan oleh semua pelatih bahkan masyarakat NTT. Ternyata para pemain sepakbola asal NTT juga bisa tetapi pengelolaan dan pelatihan di klub serta kualitas pelatih dan pendekatan emosional dengan klub-klub dan pelatih-pelatih di luar NTT itulah yang lemah dan kurang.  Ternyata mutiara-mutiara HITAM asal NTT berasal dari desa-desa di seluruh wilayah FLOBAMORA.

Kondisi seperti ini sebenarnya membuka mata seluruh pelatih/pembina dan masyarakat pecinta  bola untuk melihat bahwa sebenarnya talenta-talenta pemain muncul dari pertandingan sepakbola antar desa, dan sudah saatnya para Kepala desa diberikan perhatian lebih untuk melaksanakan pertandingan antar desa, sehingga pernyataan Indra Sjafri yang dibuktikan dengan kehadiran Yabes di Timnas tidak diragukan lagi.

Bupati Ngada, Marianus Sae, telah membuktikan sebuah sistem pertandingan antardesa. Menurut informasi saat saya berada di Bajawa bahwa ketika ada acara pelantikan kepala desa di seluruh wilayah Ngada, maka bupati selalu membawa tim sepakbola dengan para pemain berstatus pejabat  untuk bertanding dengan pejabat-pejabat di desa, mungkin inilah langkah awal agar ke depan bukan lagi bupati dengan para pejabat yang bertandingan tetapi bupati dan tim bertanding dengan para pemain-pemain usia remaja, sehingga akan muncul pemain-pemain berbakat dari desa yang berada di wilayah Bajawa bahkan diharapkan ke depan para bupati dan walikota se-Provinsi NTT menyiapkan dana untuk mengadakan pertandingan di setiap desa untuk mencari bibit-bibit pemain sepakbola potensial seperti Yabes.

Kehadiran Indra Sjafri di NTT ketika mendapatkan Yabes melalui seleksi IPTEK JALANAN memberikan angin segar bagi masyarakat NTT karena Yabes menunjukkan kualitasnya dengan mencetak gol, dan saat itulah Yabes membuka tabir sepakbola Indonesia bahwa ternyata NTT juga bisa. Pelajaran berharga dari Indra Sjafri buat semua pelatih, pengelola olahraga di NTT dan Indonesia bahwa untuk mencari atlet atau pemain berbakat di setiap cabang olahraga mulailah berawal dari turnamen/kompetisi atau pertandingan di setiap desa  yang biasa di sebut Tarung Antar Kampung (TARKAM).

TARKAM memberikan pelajaran berharga bagi setiap kita bahwa talenta-talenta atlet sebenarnya berasal dari desa ketika keadaan fisik, teknik, taktik dan mental yang  alamiah mereka miliki dan belum terkontaminasi pola kehidupan perkotaan yang penuh dengan berbagai macam pengaruh seperti gaya hidup, pola makan, pergaulan dan berbagai aspek yang muncul secara karbitan. Faktor geografi dan topografi serta budaya kehidupan dan pergaulan di desa turut menentukkan alamiahnya aspek motorik, psikologi, biomekanika, fisiologi, anatomi dan antropometrik para atlet. Semua aspek fisik dan non fisik sudah terjadi adaptasi sehingga dari sisi kualitas para pemain yang masih bersifat alamiah di poles dengan sentulan IPTEKS akan membuat pemain atau atlet tersebut menjadi modern dengan cabang olahraga yang ditekuni.

Pemain-pemain yang berasal dari TIMDES (tim desa) tentu mereka akan bermain secara alamiah yang notabene masih kehilangan sentulan IPTEK, namun naluri manusia yang ada dalam diri seorang pelatih (coach) yang memiliki Indra dan pelatih-pelatih lainnya yang di sebut indra ke-enam akan menjadi modern seperti yang dilakukan oleh Indra Sjafri kepada YABES melalui seleksi dengan pendekatan IPTEK JALANAN.

Tidak seorang pun tahu bahwa satu saat Yabes akan mengharumkan nama Alor dan NTT di level nasional jika Indra Sjafri tidak pernah datang ke bumi Flobamora untuk mencari pemain-pemain berbakat. YABES telah menjadi bukti bukan angan-angan saja  kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya para pelatih di NTT bahwa untuk mendapatkan pemain atau atlet-atlet usia dini yang berbakat sebaiknya harus mengorbankan tenaga dan biaya untuk turun ke desa-desa di seluruh pelosok Flobamora sebab banyak talenta-talenta brilian yang terpendam. Sebagai pemain atau atlet untuk seluruh cabang super prioritas, prioritas, dikembangkan dan ditingkatkan yang jika dicari, digali, ditemukan, dibuat dan dipoles akan mencari permata yang memiliki makna ganda yaitu mengharumkan nama pribadi dan keluarga, serta nama daerah dan bangsa di level dunia.

Saatnya kita jangan lagi saling menyalahkan tetapi bersatu dengan tekad mengangkat harkat dan martabat masyarakat NTT ke level nasional dan internasional dengan mengesampingkan seluruh kepeningan pribadi dan golongan sambil membawa panji olahraga dengan Tekad PRESTASI yang di mulai dari proses talent scouting menggunakan IPTEK Jalanan yang berawal dengan melaksanakan atau membuat pertandingan antar desa disinilah letak keberhasilan kita untuk menjawab apa yang dikatakan oleh pelatih Timnas U-19 Indra Sjafri bahwa YABES RONI MALAIFANI lahir dari desa yang jika di lihat di PETA Indonesia desanya tidak terlihat. Ini sentuhan halus tetapi sangat membantu dan memotivasi seluruh masyarakat NTT dan Indonesia sebab prestasi itu akan ada jika belum adanya kontaminasi dari berbagai aspek kepada para pemain/atlet pemula. Terima kasih buat coach Indra Sjafri NTT akan selalu mengenang pola dan kemungkinan besar mengadopsi yang sudah di tunjukkan semoga bisa dilaksanakan.

Saatnya kita semua meninggalkan sikap saling menjatuhkan, melecehkan, menghina dan menjelekkan satu dengan yang lain. Perbedaan suku, agama, kemampuan dan kompetinsi itulah anugrah Tuhan, gunakanlah itu sebagai sebuah kekuatan untuk membangun NTT menjadi provinsi yang kuat, hebat, bisa dan gudang atlet.

Untuk membangun olahraga di NTT tidak mesti kita harus jadi pemimpin, apapun juga status kita itulah tanggung jawab besar kita sebagai warga NTT untuk membangun daerah ini lebih baik, kalau bukan kita sebagai masyarakat yang mencintai NTT? Siapa lagi dan kalau bukan sekarang ini kapan lagi. *

Sumber: Pos Kupang cetak, Selasa (3/3/2014)

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved