Opini

Metafisika Politik

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti upacara adat pelepasan seorang pemuda yang ingin bertarung dalam kontestasi politik beberapa bulan mendatang

Oleh Lasarus Jehamat
Sosiolog Undana; Anggota Forum Sophia

BEBERAPA waktu lalu, saya mengikuti upacara adat pelepasan seorang pemuda yang ingin bertarung dalam kontestasi politik beberapa bulan mendatang. Inti upacara itu sebetulnya pada doa permohonan dan dukungan politik dari nenek moyang agar perjalanan menuju proses perebutan kekuasaan dapat berjalan lancar dan berujung pada kesuksesan. Dalam proses itu, ketika tetua adat selesai mendaraskan doa adat kepada arwah nenek moyang, seekor kupu-kupu datang dan hinggap di kepala sang pemuda. Semua mengatakan bahwa ini tanda kesuksesan. Dalam pengalaman yang lain, ketika seorang politisi datang ke kampung untuk meminta doa dari tetua adat, seekor ayam jantan berkokok setelah tetua adat mendaraskan doa adat. Semua orang mengatakan bahwa itu tanda kesukesan. Itulah realitas metafisis. Bahwa ada kebenaran yang muncul di saat akhir momen politik sulit dibantah. Yang dimaksudkan di sini adalah, kemenangan sang politisi itu dalam kontestasi politik di level lokal; entah dalam pemilihan kepala desa, bupati atau anggota legislatif. Meskipun demikian, ketika ditelisik lebih jauh, realitas seperti itu perlu didiskusikan. Bukan untuk menggugat posisi metafisika dalam ruang politik atau posisi adat dalam konteks kehidupan sosial masyarakat.

Tulisan ini ingin mendiskusikan fenomena sosial dan budaya dalam ruang politik kita. Yang ingin dijelaskan adalah realitas hal-hal metafisis yang turut mengikuti gerak laju politisi dalam berbagai kesempatan. Dengan kata lain, yang ingin didiskusikan adalah soal strategi politisi dalam menggaet massa untuk mendapat dukungan yang berujung pada kekuasaan. Bahwa ternyata politisi kita merupakan kumpulan manusia irrasional. Dalam konteks ini, irrasional harus dipahami sebagai kekuatan supranatural di luar kekuatan akal. Ketika itu yang terjadi maka ruang politik kita menjadi sangat fleksibel dan serba akal-akalan. Ketika politisi sibuk membujuk masyarakat dengan cara-cara seperti itu maka yang terjadi adalah politik menjadi sangat manipulatif.

Metafisika
Menyebut metafisika, bayangan kita tertuju pada sebuah cabang filsafat yang berupaya mencari sebab ada (being) segala suatu. Banyak pendekatan yang digunakan di sana mulai dari etika, agama, adat, budaya dan sebagainya. Metafisika adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari dan memahami `sebab ada' segala sesuatu. Ketika masuk ke ruang politik, metafisika politik berhubungan dan berkaitan erat dengan berbagai perilaku aneh politisi dan elit kekuasaan yang menggunakan cara-cara di luar batas kesadaran (rasio) untuk menarik simpati rakyat. Ketika ayam, pohon, mimpi dan berbagai atribut lain di luar politik dijadikan alat untuk mendapatkan dukungan maka pada titik itu, politisi kita masih berpandangan  tradisional. Bahwa yang tradsional tidak selamanya salah sulit dibantah. Meskipun demikian, ketika atribut tradisional dimanfaatkan untuk tujuan politik maka level itu politik menjadi sangat manipulatif dan akal-akalan sifatnya. Itulah sebabnya, mengharapkan sesuatu yang produktif dari orang-orang itu sama saja seperti pungguk yang merindukan bulan. Tidak hanya itu, ketika masyarakat ditipu dengan diikutsertakan dalam momen-momen tradisi seperti itu maka pada titik itu, politik kita lebih banyak diisi oleh manusia hipokrit yang tidak memiliki rasa percaya diri. Itulah irrasionalitas rasional menurut perspektif kaum kritis dan mazhab Frankfurt. Bahwa manusia yang mengaku diri rasional ternyata harus kembali menggali kubur tua kearifan lokal.

Gugatan utamanya adalah mengapa proses penggalian itu baru dilakukan sekarang di saat momen politik tiba dan bukan dalam praktik hidup sehari-hari di ranah  sosial dan politik? Harus dipahami bahwa di setiap momen politik entah kontestasi politik entah persaingan politik atau apa pun namanya, kita akan berhadapan dengan banyak realitas. Selanjutnya, proses untuk mendapatkan kekuasaan di negeri yang masih berkutat dengan banyak persoalan sosial dan ekonomi, masalah politik akan bersinggungan dengan dunia lain seperti budaya. Dalam beberapa kasus, ketika kontestasi politik muncul, manusia kembali memikirkan bahwa kekuatannya menjadi tidak bermakna tanpa mendekatkan diri pada realitas di luar dirinya. Itulah sebabnya, selain fenomena sebagaimana dijelaskan di atas,  mengapa kemudian menjelang pemilu atau pemilukada atau momen-momen lainnya, pekuburan, makam, dan tempat pemakaman umum lainnya menjadi sangat ramai dikunjungi orang. Lilin dan bunga menjadi tanda utama ketika itu. Bahkan, kalau boleh agak ekstrim, kekuatan cahaya lilin melampaui ke kekuatan matahari sekalipun. Luar biasa.

Untuk Kita
Pengalaman sebagaimana diceriterakan di atas mungkin juga menjadi pengalaman beberapa dan banyak teman yang lain. Kalau pun masih ada teman yang belum merasakan pengalaman seperti itu, siap-siap saja jika nanti diundang untuk mengikuti acara keluarga berlabel politik. Menarik dan sungguh aneh. Politisi seperti malaikat pembawa berkat; yang siap memberikan bantuan apa pun. Masyarakat akan dibuat terbuai dan tidak berdaya. Politisi kita memang cerdas membuat kesadaran manusia rasional menjadi kesadaran palsu. Seolah-olah tanpa melaksanakan berbagai ritual itu, aktivitas politik menjadi hancur berantakan. Argumen seperti itu benar adanya sejauh politisi tersebut memiliki perhatian serius kepada hal-hal yang berbau tradisi. Malah, jika itu benar, politisi itu laik dipilih mewakili konstituennya. Perkara utama yang terjadi di masyarakat kita adalah, aktivitas seperti itu merupakan kerjaan dadakan dan terlampau insidental. Baru muncul ketika ada momen politik. Dalam langgam interaksionisme simbolis, politik dan politisi yang disebut sangat rasional itu toh harus tunduk pada hukum dan kekuatan alam di luar dirinya.

Fatalnya, ritual adat dilakukan hanya pada saat momen politik. Padahal, manusia dan alam sekitar merupakan satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Manusia dan realitas makrokosmos merupakan satu paket yang tidak bisa dihubungkan hanya dengan aktivitas politik semata.

Maka, masyarakat jangan sampai terjebak dalam buaian politisi. Tetua adat harus bertindak arif dan jujur. Menolak semua permintaan politisi jika orang tersebut baru muncul atau kembali ke kampung menjelang kontestasi politik. Kita tidak boleh ditipu oleh manusia yang mengaku diri rasional dan modern. Simbol dan artefak budaya harus benar-benar fungsional sesuai peruntukannya. Yang paling ekstrem, tidak memilih orang itu di hari pemilihan nanti. *

Sumber: Pos Kupang cetak, Selasa (3/2/2014)

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved