Opini

Super Ball dan Spiritualitas Sepak Bola

TANGGAL 16 Januari 2013 lalu, telah lahir "Super Ball" koran nasional bola terbesar di tanah air.

Oleh Isidorus Lilijawa, S.Fil, MM
Anggota DPRD Kota Kupang

TANGGAL 16 Januari 2013 lalu, telah lahir "Super Ball" koran nasional bola terbesar di tanah air. Kehadirannya tentu bukan kebetulan. Bukan juga sekadar menjawab kebutuhan warga pada informasi sepak bola, yang saat ini dapat juga diakses melalui media elektronik dan media online kapan saja. Hemat saya, ada nilai yang diperjuangkan oleh kelahiran media cetak ini. Nilai itu adalah spiritualitas sepak bola.

Membaca Nilai-Nilai
Jika kita membaca "Super Ball", maka tidak cukup membaca koran sebagai koran. Kita mesti sampai pada kondisi membaca koran sebagai proses pembacaan nilai-nilai. "Super Ball" mengimplisitkan beragam nilai yang tidak begitu saja diperoleh sekali baca. Ia mesti dibaca berulang-ulang dengan penuh kesadaran. Berita sepak bola antara klub di liga manapun adalah menu biasa di koran sepak bola. Namun, membaca berita hingga menemukan nilai-nilai di balik peristiwa itu adalah hal yang luar biasa dari sebuah berita sepak bola.

Ketika kita berbicara tentang spiritualitas sepak bola, dua nilai yang sangat fundamental adalah eros dan agon. Spiritualias sepak bola selalu mengandaikan eros dan agon. Supaya permainan sepak bola itu disebut sunguh-sungguh sebagai permainan, diperlukan dua unsur pokok itu. Permainan tidak menjadi permainan lagi jika kedua unsur itu dilebih-lebihkan atau ditiadakan. Eros berarti cinta. Eros inilah yang menyatukan si pemain dengan pemain lainnya. Inilah juga yang menggembirakan dan membahagiakannya. Tetapi eros tidak bisa dan tidak berpisah dari unsur yang lain yang disebut agon. Agon adalah dinamika untuk mengalahkan perlawanan, atau untuk mencapai keagungan ksatria-pahlawan. Tanpa agon, tidak ada eros, dan tidak ada permainan lagi.  

Kedua unsur di atas haruslah seimbang. Artinya, kita tidak boleh terlalu tenggelam dalam eros. Eros tidak boleh dilebih-lebihkan, sebab kalau hal itu sampai terjadi, serentak juga hilanglah permainan itu. Tetapi agon juga tidak boleh dilebih-lebihkan. Melebih-lebihkannya hanyalah mengakibatkan kekerasan saja. Mengurangi apalagi meniadakan keduanya, juga membuat permainan menjadi bukan permainan lagi. Permainan haruslah tetap untuk permainan dan bukan untuk memuaskan nafsu manusia.

Dalam sepak bola, eros itu sangat penting. Tanpa rasa cinta pada sepak bola, seorang pemain tidak akan bertanggung jawab terhadap kepercayaan yang diberikan kepadanya di lapangan. Dengan eros, seorang pemain mengalahkan individualitasnya dan menerima pemain lain dari negara, suku, warna kulit, ras yang berbeda sebagai sahabat dan rekan satu tim. Dengan eros, seorang pemain bola bisa menghidupi manajemen perbedaan dan menerima pluralitas. Eros mempersatukan keragaman asal usul pemain, agama, etnis ke dalam satu ikatan batin dan cita-cita kolektif yang solid. Eros tak sempurna tanpa agon. Agon untuk seorang pemain bola adalah pengorbanan diri dan peleburan diri individu menjadi diri tim. Semangat rela berkorban, berkanjang dalam latihan, disiplin, mentaati aturan main, berjuang secara maksimal adalah nilai-nilai agon dalam sepak bola. Agon juga adalah kerelaan menerima kekalahan, mengakui keunggulan orang lain dan mau belajar dari tim yang lain. Seorang pahlawan bukan saja dia yang memenangi pertempuran, tetapi dia yang berani menerima kekalahan untuk sebuah kemenangan besar yang bakal menyusul.

Waspada
Berkaitan dengan dua unsur ini, dalam berbagai peristiwa sepak bola kita perlu mewaspadai fenomen mengagung-agungkan kemenangan sebagai yang utama. Keadaan ini sebenarnya menunjukkan betapa unsur agon itu terlalu ditekankan. Ketika kemenangan telalu ditekankan, bahayanya nilai-nilai lain yang lebih luhur daripadanya dikorbankan. Bahkan tidak jarang manusia (sesama pemain) dikorbankan untuk mencapai kemenangan itu. Keadaan ini seringkali diperkuat oleh semangat balas dendam, semangat tidak mau mengaku kalah, serta agresivitas yang terdapat pada setiap orang. Untuk konteks sepak bola dan konteks hidup kita, ekses agon adalah nafsu untuk memiliki uang dengan cara-cara yang berlebihan. Nafsu untuk hidup seenak-enaknya dan semudah-mudahnya (easy-going) dengan pengorbanan yang sekecil mungkin. Sejalan dengan ini adalah "sifat hampir mahakuasa" yang diberikan kepada uang. Benar-benar tidak mudah menemukan sesuatu yang tidak diperjualbelikan dengan uang sekarang ini.  

Selamat membaca "Super Ball". Semoga kita sekalian sanggup menjadi pembaca super. Pembaca yang dapat menyelami kedalaman nilai-nilai spiritual sepak bola. Kiranya pedoman permainan yang sehat ini sanggup menyehatkan 'aksi bermain' kita dalam setiap lini kehidupan. "Bermainlah dalam permainan, tetapi janganlah main-main. Mainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi permainan yang dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidaksungguhannya, sehingga permainan yang dipersungguh, tidaklah sungguh lagi. Mainlah dengan eros, tetapi janganlah mau dipermainkan eros. Mainlah dengan agon, tetapi janganlah mau dipermainkan agon. Barang siapa mempermainkan permainan, akan menjadi permainan-permainan. Bermainlah untuk bahagia, tetapi janganlah mempermainkan bahagia."

Sumber: Pos Kupang Cetak, Kamis (23/1/2014)

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved