Opini

Drama (Turgi) Politik Lokal

Dua drama politik, dari dua aktor berbeda. Bupati Ngada, Marianus Sae, memblokir bandara.Bupati Flotim, Yoseph Lagadoni Herin lain lagi.

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

Oleh Fidel Hardjo
Mahasiswa Pasca Sarjana Komunikasi, Tinggal di Jakarta

DUA drama politik, dari dua aktor berbeda. Bupati Ngada, Marianus Sae, memblokir bandara. Heboh. Bupati Flotim, Yoseph Lagadoni Herin lain lagi. Rela banting duit 20 juta dari dompetnya. Heroik. Selamatkan 4 orang ibu dari sanksi kurungan 2 bulan, lantas bandel jual miras. Dua drama politik menyisahkan "ruang tanya" publik.

Drama Politik
Apa pesan murni di  balik kedua drama ini? Dua drama politik menggarap pesan berbeda. Tapi tingkah kedua aktor mengerucut pada karakter sama. Kedua-duanya menunjukkan ke-"hero"-an seorang pemimpin. Bupati Ngada menunjukkan karakter, hero yang "berkuasa". Bupati Flotim menampilkan karakter, hero "berbelas kasih".

Erving Goffman adalah seorang filsuf Inggris. Goffman sangat terkenal dengan teori interaksi simboliknya yang disebut "dramaturgi". Teori dramaturgi ini dikupas secara  detil dalam bukunnya "The Presentation of Self in Everyday Life" (1956).  Goffman coba menerjemahkan (inter-)aksi sosial kita ke dalam sebuah panggung real drama.

Interaksi sosial kita adalah sebuah interaksi dramatik. Setiap presentasi diri (perfomance) kita disebutnya sebagai drama di atas panggung. Ada aktor, ada audiens. Presentasi diri kita adalah upaya membangun kesan baik (good impression) kepada publik. Layaknya, seorang aktor drama, yang "memanipulasi" mata audiens.

Menurut Goffman, struktur interaksi sosial terdiri atas dua panggung utama. Ada panggung depan (front stage). Ada pula panggung belakang (back stage). Panggung depan adalah wilayah berhadap-hadapan dengan audiens. Karena itu, wilayah ini sangat menentukan bagaimana membangkitkan rasa "chemestry" dengan penonton.

Tutur dan tingkah kita pun di-setting baik. Agar pada akhirnya, presentasi diri (tutur-tingkah) kita selekasnya mendapat kesan baik audiens. Tutur dan tingkah dikemas sedemikian menarik agar perfomance itu berakhir dengan "happy ending" untuk audiens. Meski, audiens tak sadar bahwa semua itu hanya manipulasi semata-mata.

Semua aksi di depan panggung bukan kebetulan. Tetapi semua aksi itu sudah di-setting dan di-editing di panggung belakang (back stage). Karena itu, menurut Goffman, presentasi diri kita dalam interaksi sosial, mirip mekanisme kerja aktor panggung. Setiap aksi kita di depan publik telah disetting untuk memagneti audiens.

"The Self"
Lalu, bagaimana dengan aksi Bupati Ngada dan Lembata? "Kesan" apa yang hendak dibangun dari aksi heboh mereka kepada publik? Pertama, Bupati Marianus Sae muncul dengan memblokir bandara. Setidaknya, lewat pemblokiran bandara, Bupati Marianus membangun sebuah kesan bahwa dirinya yaitu  "penguasa hebat".

Halaman
123
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved