Opini

Indikator Kompetensi Sikap Dieksplisitkan?

Kurikulum 2013 yang mulai diterapkan semakin intensif dicermati berbagai kalangan terutama dari dunia pendidikan sendiri.

(Suatu Kontribusi Pemikiran bagi Implementasi Kurikulum 2013 di NTT)

Oleh Florianus Dus Arifian
Dosen STKIP St. Paulus Ruteng; Sedang Studi Pascasarjana di Universitas Negeri Yogyakarta

KURIKULUM 2013 yang mulai diterapkan saat ini semakin intensif dicermati berbagai kalangan terutama dari dunia pendidikan sendiri. Di kampus-kampus pendidikan, di sekolah dasar dan menengah, dan di berbagai instansi pendidikan lainnya, kalangan akademisi dan praktisi pendidikan semakin gencar memperbincangkan kurikulum ini baik melalui forum resmi maupun melalui obrolan santai. Hal ini tentu positif  bagi terwujudnya pemahaman dan implementasi yang semakin sukses ke depan. Diharapkan pula perbincangan itu dapat melahirkan gagasan rasional kritis bagi pemantapan kurikulum yang masih berusia muda ini.

Di NTT, perbincangan tentang Kurikulum 2013 masih terbatas seiring dengan terbatasnya akses informasi dan jumlah sekolah sasaran implementasi selama ini. Mungkin juga keterbatasan perbincangan itu disebabkan oleh resistensi, sikap ingin bertahan pada yang lama dan enggan mencoba yang baru. Biasanya sikap resisten semakin tebal ketika kita hanya bisa mencela sesuatu yang baru tanpa adanya kemauan untuk mempelajarinya. Sikap resisten dalam menghadapi perubahan, dalam konteks tertentu, justru kontra produktif dengan salah satu kompetensi yang diperlukan pada zaman ini, yakni kemampuan untuk menghadapi fleksibilitas dan ketidakpastian masa depan.   

Melalui artikel ini, penulis hendak berbagi gagasan yang mungkin berguna untuk dikajibandingkan dengan gagasan pembaca sendiri atau informasi yang didapat pembaca dari sumber lain dalam mempersiapkan implementasi Kurikulum 2013. Namun, asumsi penting yang diperlukan dalam ruang diskusi ini adalah pembaca tidak bersikap resisten dalam menghadapi  perubahan seperti disinggung di atas. Dengan perkataan lain, perubahan kurikulum itu diterima.

Gagasan yang hendak didiskusikan di sini berkaitan dengan persoalan perlu atau tidaknya indikator kompetensi sikap dirumuskan secara eksplisit dalam persiapan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Sekadar diingat, dalam Kurikulum 2013 untuk tingkat sekolah dasar dicanangkan empat kompetensi penting, yakni 1) kompetensi sikap spiritual; 2) kompetensi sikap sosial; 3) kompetensi pengetahuan; dan 4) kompetensi keterampilan. Uraian kompetensi secara terperinci seperti ini, menurut Mohammad Nuh (Kompas, 8 Maret 2013) dimaksudkan untuk memastikan bahwa capaian pembelajaran tidak berhenti sampai pengetahuan saja, tetapi harus berlanjut ke keterampilan, dan bermuara pada sikap. Selaras dengan penjelasan ini, diatur bahwa kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial dibelajarkan secara tidak langsung lewat kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Akan tetapi, pengaturan seperti ini tidak cukup untuk meredam perbedaan persepsi tentang perlu atau tidaknya indikator kompetensi sikap dirumuskan secara eksplisit dalam persiapan pembelajaran.

Dari pengalaman yang didapat penulis sekurang-kurangnya melalui perkuliahan, umumnya terdapat perbedaan pendapat tentang persoalan itu. Sebagian orang memandang bahwa sebagai titik tolak dan kerangka acuan pembelajaran, apalagi menjadi salah satu penciri khusus Kurikulum 2013, indikator kompetensi sikap itu perlu dirumuskan secara eksplisit sehingga menjadi tampak jelas kemunculannya dalam pembelajaran. Kelompok ini berpendapat bahwa jika tidak dieksplisitkan, pembelajaran akan jauh dari sentuhan terhadap kompetensi sikap, dengan demikian Kurikulum 2013 tampak sama saja dengan kurikulum sebelumnya. Terlebih lagi ketika disadari bahwa manusia memiliki sifat tunduk pada lupa, yang dinyatakan secara eksplisit saja masih dilupakan apalagi yang tidak dirumuskan secara eksplisit.   

Sebagian lagi memandang bahwa indikator kompetensi sikap itu tidak perlu dieksplisitkan. Buku pegangan guru tentang pembelajaran tematik terpadu yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang beredar di lapangan saat ini mengusung pemikiran seperti ini. Dalam buku tersebut hanya indikator kompetensi pengetahuan dan keterampilan yang dirumuskan secara eksplisit, sedangkan indikator kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial tidak dirumuskan secara tertulis. Jika dicermati, hal ini memang selaras dengan paradigma Kurikulum 2013 seperti dijelaskan Mohammad Nuh (Kompas, 8 Maret 2013) bahwa kompetensi sikap tidak untuk diajarkan atau dihafalkan atau diujikan kepada peserta didik, tetapi sebagai pegangan bagi pendidik bahwa dalam mengajarkan mata pelajaran di bawah payung tema tertentu ada pesan-pesan spiritual dan sosial yang terkandung dalam materinya. Dengan demikian, fokus perhatian sesungguhnya lebih berada pada indikator kompetensi pengetahuan dan keterampilan, dalam aritan bahwa indikator untuk kedua kompetensi ini harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat memanfaatkan secara maksimal peluang bagi diikutsertakannya pesan-pesan spiritual dan sosial di dalamnya.

Dari dua persepsi di atas, menurut penulis, indikator kompetensi sikap memang sebaiknya tidak dinyatakan secara eksplisit. Tentu hal ini bukan suatu loyalitas konyol pada pedoman yang telah dikeluarkan Kemendikbud itu, melainkan suatu pertimbangan yang didasari argumentasi berikut ini. Capaian belajar dalam wujud sikap umumnya diperoleh melalui proses yang panjang, melampaui proses pembentukan pengetahuan dan keterampilan. Maka upaya untuk mengeksplisitkan kompetensi sikap dalam durasi waktu pembelajaran yang sudah pasti terbatas dipandang kurang efektif. Upaya yang lebih efektif adalah memperjelas pembentukan kompetensi pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat menjamin pembentukan kompetensi sikap spiritual dan sosial.

Selaras dengan pandangan di atas, Eisner (1979) memperkenalkan gagasan tentang hasil belajar ekspresif (expressive outcome) yang didefinisikannya sebagai dampak pengiring dari aktivitas formal pembelajaran untuk memperoleh tujuan dan pengalaman pribadi pada siswa. Hasil belajar ekspresif lebih bersifat menggugah (evokatif) dan bukan membelenggu (preskriptif), dalam pengertian bahwa tujuan tidak mendahului aktivitasnya, tetapi justru berkembang dari aktivitasnya. Aktivitas yang membuahkan hasil belajar ekspresif tidak lain merupakan proses belajar itu sendiri, tetapi apa yang ingin siswa pelajari dengan melakukan aktivitas tersebut tidak selalu dapat dirumuskan secara eksplisit sebelumnya. Tujuan-tujuan ekspresif lebih dipahami sebagai arah daripada sebagai sasaran belajar. Senada dengan pendapat Eisner ini, Marsh (1992) menandaskan bahwa tidak semua tujuan belajar yang sifatnya penting dapat dirumuskan secara eksplisit atau operasional. Hemat penulis, pembentukan kompetensi sikap yang didengungkan Kurikulum 2013 mungkin lebih tepat dipahami dalam perspektif pemikiran Eisner dan Marsh ini.

Lebih dari itu, mesti disadari bahwa perlu atau tidaknya indikator kompetensi sikap dirumuskan hanyalah persoalan teknis. Artinya, baik dirumuskan maupun tidak dirumuskan tidak ada garansi bahwa kompetensi sikap akan terbentuk pada siswa. Hal yang paling determinan sesungguhnya terletak pada tataran pelaksanaan pembelajaran. Masuk pada wilayah substansial ini sesungguhnya tidak hanya diperlukan konsep baku seperti yang sudah disiapkan dalam perencanaan pembelajaran; tetapi juga kreativitas, daya seni dan fleksibilitas sang guru dalam mengahadapi kondisi empiris pembelajaran. *

Sumber: Pos Kupang Cetak, Sabtu (17/1/2014)

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved