Opini

Tidak Tepat Marianus Sae Dilabeli Anarkis, Premanis dan Teroris

Perdebatan tentang masalah Marianus Sae (MS) dan Merpati masih hangat `dipergunjingkan' di berbagai media di Indonesia.

Oleh Emilianus Yakob Sese TL
Peneliti di Magister Administrasi Publik UGM Yogyakarta

PERDEBATAN tentang masalah Marianus Sae (MS) dan Merpati dalam aksi yang disebut oleh banyak pihak sebagai `pemblokiran' masih hangat `dipergunjingkan' di berbagai media di Indonesia. Banyak pendapat 'pro' dan 'kontra' terhadap tindakan MS. Yang 'pro' menilai bahwa tindakan MS tidak sepenuhnya salah. Sementara itu, bagi yang 'pro', melihat tindakan MS sebagai tindakan yang ilegal dan 'kontra' terhadap hukum.

Bagi kelompok yang kontra dengan tindakan MS cenderung `melabeli' MS dengan sebutan anarkis, premanis dan teroris. Tulisan ini bertujuan untuk mendeteksi kebenaran dari `labelisasi' yang diberikan kepada MS selama ini. Tujuannya adalah agar kita lebih hati-hati dalam menggunakan kata sehingga tidak sampai mencendrai harkat dan martabat seseorang.

Menelaah Makna Asalinya
Pemahaman terhadap ketiga istilah ini membantu pembaca untuk menilai kembali tunduhan yang selama ini dilemparkan secara sepihak kepada MS. Pertama, kita mulai dengan kata anarkisme. Ketika mendengar kata ini, kita selalu membayakan sekelompok orang atau individu tertentu `yang menebarkan keonaran, kekacuan, kehancuran dan malapetaka' (Fakih 2002: 89). Karena itu, disimpulkan bahwa `anarkisme adalah paham yang menakutkan karena jahat' (ibid., 90).

Namun, dalam pemahaman filosofis dan politis, anarkisme adalah salah satu paham yang menentang terhadap segala bentuk otoritas. Dalam pemahaman ini, otoritas, seperti pemerintah, tidak penting dan menghambat kemajuan individu dan masyarakat. Karena itu, otoritas harus dihapus, ditanggalkan dan ditiadakan. Para penganut paham ini, cenderung melawan otoritas agar memperoleh kebebasan untuk mengatur diri sendiri. Sebab, setiap orang memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri sendiri tanpa bimbingan dan arahan otoritas. Jadi, sesuai dengan arti dalam bahwa Yunaninya, anarkisme mengindamkan suatu masyarakat yang swakelola dan mandiri, tanpa aturan (without a rule) (Fakih 2002: 92-94). Inilah arti asali dari kata anarkisme yang kemudian dibelokan dalam proses perkembangannya sebagaimana sudah dijelaskan di atas.

Kedua, premanisme. Pada tahun 2013, kata ini jamak dipakai. Hal ini disebabkan oleh pemberitaan media tentang pergerakan `Herkules' -komplotan preman yang kebanyakan beranggotakan masyarakat dari daerah Indonesia Timur, termasuk dari Flores dan Timor- dan pemberitaan tentang kasus Cebongan, Yogyakarta, yang menewaskan 4 pemuda asal NTT yang dikriminalisasi oleh media dan publik Indonesia sebagai preman. Karena jamak dipakai, kata ini pun, kadang-kadang diadopsi dan digunakan secara `ngawur', termasuk dalam kasus penutupan bandar udara Turelelo, Soa.

Sejatinya, kata premanisme berasal dari kata bahasa Belanda `vrijman' yang berarti orang bebas atau orang merdeka. Pada masa Belanda, khususnya masa VOC di Indonesia, persis yang pernah diuraikan oleh Henk Nordholt, sejarahwan asal Belanda, `vrijman' digunakan untuk mengamankan bisnis kapitalisme VOC. Para `vrijman' direkrut dari orang-orang kuat atau `para jago' dari masyarakat yang bekerja untuk menjaga keamanan bisnis kapitalisme VOC. Ya, kerja mereka seperti para satpam kapitalisme VOC dalam proses niaga. Jadi, kerja sebagai preman bukanlah hal yang buruk seperti yang dipersepsikan oleh masyarakat sekarang bahwa preman indentik dengan pemerasan dan kejahatan.

Ketiga, teroris. Kata teroris begitu `mendunia' dan meng'Indonesia' setelah peristiwa 11 september 2001 di Amerika dan bom Bali 1 dan 2. Teroris adalah orang yang memberikan teror atau ancaman kepada seseorang atau sekelompok orang secara sistematis-terorganisir. Karena itu, terorisme, diartikan sebagai `serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap seseorang atau sekelompok masyarakat'.

Labelisasi itu Tidak Tepat
Setelah memahami ketiga arti kata di atas, pertanyaannya, siapakah, dalam kasus `pemblokiran' bandara Turelelo, pantas dikategorikan sebagai anarkis, premanis, dan teroris? Dengan merenungkan arti politis dan filosofis dari ketiga kata ini, maka tidak benar bahwa ketiga kata ini dilekatkan kepada seorang MS.

Adapun beberapa alasan sebagai berikut. Pertama, MS tidak anarkis, sebab MS sama sekali tidak berniat untuk menentang otoritas atau menciptakan masyarakat tanpa otoritas, tanpa aturan, ketika MS melarang Merpati landing di bandara Turalelo. MS hanya ingin menunjukkan sikap protesnya terhadap Merpati yang hanya mencari keuntungan dan tidak mendukung pembangunan di Ngada dengan tidak memberikan satu seat kepada MS yang ingin mengikuti pertemuan paripurna di DPRD Ngada.

Halaman
12
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved