Opini

Harmoni dari 'Tong Sampah'

Pos Kupang, 4 Januari 2014, merespons mutasi pejabat di Pemprop NTT dalam judul berita, "Tuba Helan: Gubernur NTT `Main' Halus,

Oleh Rm Antonius Prakum Keraf, Pr
Rohaniwan Katolik, Tinggal di Pukaone-Adonara

POS Kupang, 4 Januari 2014,  merespons mutasi pejabat di Pemprop NTT dalam judul berita, "Tuba Helan: Gubernur NTT `Main' Halus, ...Yovita Mitak Dibuang di `Tong Sampah'. Tulisan ini merupakan satu refleksi balik dengan fokus  spiritual vision,  melihat `Tong Sampah' dari sisi yang lain dan membangun karakter  seorang abdi  negara yang siap bekerja dalam situasi apapun demi  kemajuan bangsanya.

"Tong Sampah"  memiliki hubungan erat dengan sebuah kearifan, sebuah cara hidup, sebuah pola hidup sehat dan selaras alam.  Kelompok pemerhati `PHBS', Pola Hidup Bersih dan Sehat  mempromosikan kehadiran `tong sampah' sebagai tempat paling strategis untuk kesehatan lingkungan.  Di rumah, di kantor atau di lokasi umum manapun  orang membutuhkan tong sampah.

Seorang  Imam Gereja Katolik,  dalam perannya sebagai bapa pengakuan - yang mendengarkan dosa umat Tuhan - bahkan mendapat sebutan `Tong Sampah'.  Ia mendengarkan dosa sekaligus menjaga kerahasiaan pengakuan.. Ada dosa ringan, ada dosa berat. Imam yang setia pada posisi strategis ini  dan  rajin mendengar pengakuan akan mengenal umatnya. Ia akan melihat dengan jelas problem pastoral bahkan terinspirasi menemukan dasar-dasar pemikiran,   metode pewartaan dan pelayanan yang tepat sasar. Begitupula, semakin banyak pendosa  yang peduli pada pengakuan dosa mengalami penyembuhan jasmani-rohani.  Efek pertobatan itu akan sangat berpengaruh pada komunitas dimana mereka hidup.

Dalam  budaya kita lamaholot,  tokoh adat  juga  memiliki peran strategis ini dalam arti sama menjadi `tong sampah' yaitu  orang kepercayaan masyarakat adat. Sesewaktu, tokoh adat  mendengarkan dosa masyarakat adatnya (ribu ratu). Secara bersama merekalalu melakukan  ritus pemulihan relasi terlukayang  dalam bahasa lamaholot disebut: "Kakan dike arin sare opu keru bine baki". `Dike sare' artinya  `kebaikan tanpa batas' di dalamnya kita menemukan kejujuran dan kerendahan hati, sikap mau menerima dan melaksanakan tugas apa saja  untuk kemajuan bersama.  Sedangkan `Keru baki', ritus sejuk dingin, atau disebut  `koda geleten sama keru baki, kirin weleok sama  wai matan',  bertujuan mengembalikan  sikap mental seperti benci, irih hati, atau mencari kesalahan orang lain yang berlawanan dengan `dike sare' dalam membangun komunitas kehidupan. Orang mesti mulai bekerja dan melayani dengan hati.

Di dunia politik,   orang melihat jabatan  tertentu dalam mutasi misalnya  "Staf Ahli",  sebagai `tong sampah', atau `tempat air mata' dan bukan `tempat mata air' (Pos Kupang  Sabtu,4 Januari 2014). Statemen ini sudah memuat sikap pro kontra.  Sikap itu ada, karena siapa mau bekerja di  tempat "air mata". Tetapi bukankah di tempat air mata itu lahir manusia dan pemikiran yang mencerahkan kehidupan.  Bung Karno,  tokoh  Proklamator  mulai membangun bangsa dari tempat pembuangannya di Ende. Ia menyatu dengan alam dan melahirkan ide yang menggemparkan dunia, Pancasila.  Banyak pemimpin   di dunia manapun lahir dari  kondisi kehidupan  yang penuh  perjuangan bukan tanpa `air mata'. Itulah pemimpin  ulet, sejati dan bukan  pemimpin `karbitan".

Tempat `air mata' mesti  menjadi jalan menuju `sumber mata air'.  Dalam budaya Lamaholot ada salib dalam Sabda: " Lein lau werang rae, hikun teti wanan lali".  Itulah Salib air mata Ibu Pertiwiyang giat bekerja memperhatikan semua anaknya di semua tempat yang tersimbol dalam sabda nenek moyang suku Lamaholot: "Lau-rae; teti-lali".  Kata-kata itu mengungkapkan hidup yang penuh dan seimbang. `Lau rae'  tanpa `teti lali'' adalah pilihan yang melawan harmoni kehidupan. Nilai-nilai budaya ini seharusnya menginspirasi sebuah  `spiritual Vision', cara pandang baru dan spiritual membangun karakter abdi negara.

Yovita Anike Mitak (Pos Kupang, Rabu 8/1/2014),  atau yang biasa dipanggil `Niken" misalnya tampil beda dengan cara pandang baru dan spiritual.  Ketika, Tuba Helan  (Pos Kupang, Sabtu, 4/1/2014 ) mensinyalir, Yovita Mitak dibuang ke tong sampah,  Niken sendiri malah degan tegas mengatakan: "Saya Tidak Merasa Dibuang". Ia memandang jabatan staf ahli sebagai satu jabatan sangat strategis. "Posisi kita jelas strategis karena memberikan dasar-dasar pertimbangan kepada Gubernur dalam menetapkan kebijakan".

Akhirnya bangsa yang maju dan beradab  membutuhkan kader pemimpin dan abdi negara yang ulet, jujur dan selalu  berpikir positip berhadapan dengan realitas tugas pelayanan.  Niken adalah  abdi negara yang selalu berani berpikir lain demi kemajuan bangsanya.  Tanpa `tong sampah'  tidak mungkin ada harmoni dari satu kehidupan yang arif dan mulia. *

POS KUPANG CETAK, 15/1/2014

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved