Opini

Bupati dan Merpati

Beberapa waktu terakhir ini kita membaca, melihat, dan mendengar perilaku seorang Bupati di NTT terhadap Merpati Nusantara Airways.

Oleh Pdt. Yuda D Hawu Haba, M.Th
Ketua BPPPPS GMIT

BEBERAPA waktu terakhir ini kita membaca, melihat, dan mendengar perilaku seorang Bupati di Provinsi Nusa Tenggara Timur terhadap salah satu maskapai penerbangan Merpati Nusantara Airways. Bagaimana kisahnya?

Pada hari Sabtu (21/12/2013) pagi sekitar pukul 06.30 WIB, Bupati Ngada, Marianus Sae, menutup Bandara Turelelo SoA, yang berada di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, hanya karena tak dapat tiket. Marianus Sae memerintahkan Satpol PP untuk menduduki landasan Bandara Turelelo SoA sehingga pesawat Merpati tidak bisa mendarat dan terpaksa kembali ke Bandara El Tari Kupang.

Siapa Marianus Sae yang kini menjabat Bupati Ngada? Marianus Sae terpilih sebagai bupati pada pilbup 2010 lalu. Dia mengalahkan tujuh kontestan termasuk bupati incumbent. Saat itu, Marianus Sae menang satu putaran dengan perolehan suara 48 persen. Hasil ini sangat mengejutkan mengingat Marianus bukanlah politisi atau tidak punya latar belakang birokrasi. Dia hanyalah pelaku pariwisata di Bali. Jalan hidupnya juga sangat keras sebelum bekerja sebagai pelaku pariwisata di Bali. Marianus juga dikenal sebagai bupati yang hanya berpendidikan SMA.

Marianus adalah anak pasangan petani Yohanes Da'e dan Virmina Redo, yang tinggal di Bobajo, Kecamatan Golewa, Ngada. Dengan tidak ada dana untuk sekolah, Marianus berusaha sangat keras. Dia juga kuliah dengan biaya sendiri di FKIP Universitas Nusa Cendana, Kupang. Dia lantas meninggalkan bangku kuliah untuk bekerja di Bali.

Marianus cukup sukses di Bali dengan bekerja pada perusahaan kargo yang bergerak di bidang ekspor-impor. Dia lantas mendirikan perusahaan kargo miliknya sendiri. Setelah merasa cukup mengumpulkan modal, dia kembali ke NTT. Sekitar tahun 2006, ia mendirikan PT Flores Timber Specialist dengan bidang usaha penanaman dan pengembangan berbagai jenis kayu bermutu.

Bupati Ngada Marianus Sae, pernah dipuji Menteri BUMN Dahlan Iskan dalam sebuah artikelnya berjudul, 'Tempat Bersandar Harus Kukuh'. Saat itu Dahlan menulis: "Bupati Ngada di Flores yang sampai mengancam mengundurkan diri kalau DPRD setempat menolak pengalokasian dana APBD untuk program pemberian sapi bagi 18.000 penduduk miskin di kabupaten itu." Bupati ini memang istimewa. Mobil dinasnya, Kijang Tua, karena dia memilih APBD untuk mengurangi kemiskinan daripada untuk membeli mobil dinas baru. Dia melihat tidak ada cara lain yang lebih cepat mengentaskan kemiskinan di Ngada kecuali lewat pembagian sapi dan pembangunan bendungan untuk irigasi di Bajawa."

Citra Marianus sebagai bupati yang sederhana kini bertambah buruk akibat memerintahkan Satpol PP untuk menutup bandara gara-gara tak dapat tiket. Marianus memberi contoh arogansi pejabat dan jabatan yang berlebihan.

Padahal, dirinya saat itu tengah berada di Kupang untuk menerima Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) yang diserahkan Gubernur NTT. "Acara itu tidak bisa diwakili," katanya. Sedangkan pada Sabtu itu, Marianus harus menghadiri sidang pembahasan APBD pukul 09.00 Wita di Ngada. "Satu-satunya jalan harus gunakan Merpati," namun ia tidak dapat seat, ujar Marianus. Penutupan bandara hanya berlangsung sebentar, karena sekitar pukul 09.30 Wita, Bupati terbang ke Turelelo menggunakan pesawat TransNusa.

Terhadap kejadian tersebut, Kepala Merpati Kupang, Djibrael de Hock, mengaku sedang melakukan investigasi masalah itu, agar peristiwa itu tidak terjadi lagi di kemudian hari. "Kami tidak tahu masalah di mana, tapi masih investigasi masalah ini," kata dia.

Halaman
12
Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved