Pisau Jagung untuk NTT
MELIHAT ibu rumah tangga lain kerepotan saat memipil jagung muda untuk dijadikan bahan makanan, dia termotivasi untuk berkarya.
Penulis: omdsmy_novemy_leo | Editor: omdsmy_novemy_leo
POS-KUPANG.COM -- MELIHAT ibunya bersama ibu rumah tangga lain kerepotan ketika memipil jagung muda untuk dijadikan bahan makanan, pemuda ini termotivasi untuk berkarya.
Ia mulai memikirkan untuk menciptakan sebuah alat yang bisa memudahkan ibunya bekerja. Ia pun berhasil menciptakan sebuah alat memipil jagung atau 'pisau jagung' sederhana yang bisa membantu pekerjaan memipil jagung.
Pencipta alat memipil jagung itu adalah Viktorinus Alfian Maru. Biasa disapa Viktor, dia adalah mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang.
"Saya sering melihat ibu-ibu begitu repot saat akan membuat sup dari jagung. Mereka susah payah memipil jagung dengan jangka waktu yang lama. Ada juga yang langsung menggunakan pisau biasa untuk mengiris jagung tapi hal itu tidak efektif, karena jagung menjadi tidak utuh dan banyak yang terbuang. Karena itu, saya berusaha menciptakan alat memipil jagung untuk ibu-ibu di NTT," kata lelaki kelahiran Waingapu-Sumba Barat, 15 April 1991 ini.
Dan alat ciptaan lelaki pengagum Alessandro Del Pierro dari tim Juventus itu ternyata sangat efektif untuk 'meluruh' butiran jagung dari tongkolnya secara cepat dan utuh tanpa 'cacat'. Alat itu terbuat dari bahan stainless steel sehingga tidak mudah karat.
"Alat ini sangat efektif digunakan. Hanya dalam waktu 20 detik, Anda sudah selesai memipil satu pulir jagung. Saya bahagia dan bangga karena bisa mempersembahkan alat memipil jagung ini kepada masyarakat NTT," katanya.
Alat memipil jagung itu akhirnya 'mengantar' Viktor meraih gelar sarjana (S1) tanggal 20 September 2013 lalu dengan skripsinya berjudul "Pengaruh jumlah mata pisau terhadap kapasitas alat memipil jagung."
Usai diwisuda, anak pertama dari tiga bersaudara itu memilih mengabdi sebagai dosen pada almamaternya. Kenapa kembali ke kampus?
Anak pasangan Samuel Raga Maru dan Yohana Tamoina itu memberi alasan bahwa saat ini sumber daya manusia (SDM) di NTT masih sangat terbatas. Karena itu sebagai generasi muda, dia ingin menjadi dosen agar bisa membagikan ilmu yang dimilikinya itu kepada orang lain melalui bidang pendidikan.
Siapa mengira, keinginan luhurnya itu langsung diapresiasi oleh pihak universitas. Bahkan lelaki yang gemar membaca itu diberi kesempatan untuk menempuh studi lanjutan di Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2014 mendatang.
"Saya bersyukur karena diberi beasiswa untuk melanjutkan studi di IPB tahun depan. Setelah selesai studi, saya akan pulang ke NTT untuk mengabdi sebagai tenaga dosen pada almamater tercinta," janji Viktor.
Sifat rendah hati dan suka menolong yang dimilikinya membuat Viktor disenangi dosen dan teman dan keluarganya.
"Saya selalu belajar dari semut. Hewan kecil yang suka bergotong-royong dan bekerja untuk kepentingan bersama tanpa menunggu perintah," kata lelaki yang suka bermain gitar dan drum ini.