Rabu, 10 Juni 2026

Jejak Misterius

HARI minggu, merupakan hari yang paling kami tunggu, hari kebebasan kami dari dunia pendidikan, hari kemerdekaan bagi anak-anak kampung

Tayang:
Editor: Alfred Dama

"Ayo Ardi, kita masuk".

Didorong oleh rasa penasaran yang begitu besar, aku dan Ardi mengikuti jejak-jejak
itu. Dan jejak-jejak itu makin jelas. Kurang lebih sudah satu jam kami mengikuti jejak-jejak tersebut,hutan itu semakin lebat, berbagai macam tumbuhan ada di situ dan pohon-pohonnya sangat tinggi dan besar. Nyali kami agak kecut, suasananya sangat sepi. Mulut Ardi tampak komat-kamit  membaca mantra. Kami harus hati-hati agar tidak tergores semak berduri.

Di tengah hutan kami melihat seekor babi hutan dililit ular piton yang angat besar, tanpa di beri aba-aba kami lari terbirit-birit. Kami terus berlari tanpa menghiraukan semak belukar di depan. Ketakutan kami lebih kuat pada goresan semak belukar. Sambil terengah-engah  kami mengatur napas di bawah, napas kami belum teratur, dikejutkan dengan suara sayup-sayup dan suara itu semakin jelas.

Kami mengendap-endap mencari sumber suara itu. Di depan kami ada sebuah goa, disisi kanan dan kiri dibangun gubuk kecil, semacam rumah jaga. Aku dan Ardi saling pandang, dan jelas wajah kami pucat.

" Masih ada keberanian ?." ardi menantangku.

" Karena kita sudah di sini, harus tahu apa yang terjadi".

" Ayo masuk !".

Aku dan Ardi terus masuk dalam goa, suara yang kami dengar sudah lama menghilang, kami semakin jauh masuk kedalam, tidak bisa lagi membedakan malam dan siang, goa itu hanya diterangi beberapa obor dan lampu pelita. Dan hal yang tidak dapat dipercaya, kami menemukan ruangan yang besar, serta altar pemujaan yang besar, altar itu sangat mirip dengan altar di desa kami untuk menyembah arwah leluhur, yang membedakannya altar ini lebih besar dan diapit dua batu pipih yang besar, yang biasanya untuk menyimpan persembahan.

Saat aku dan Ardi mengamati altar, dari kejauhan kami mendengar suara orang,
mungkin sekitar 6 atau 7 orang, mungkin juga lebih. Kami segera sembunyi di batu besar. Selang beberapa saat, kami melihat beberapa bayangan manusia muncul dari sisi kiri dan kanan altar. Gerombolan itu dengan serentak menghadap altar lalu duduk bersila, keadaannya menjadi hening, seorang laki-laki  berdiri dan menyalakan
beberapa obor, ruangan  menjadi terang.

Aku dan Ardi seperti disambar petir di siang bolong dan kami tidak yakin, apa yang disaksikan. Mata kami melotot ke-empat sosok bayangan, wajah mereka tampak berseri-seri. Belum habis rasa kaget, dari belakang altar muncul sosok bayangan manusia penuh dengan wibawa dan karisma yang sangat kuat, aku dan Ardi muncul rasa kagum pada sosok tersebut. Sosok itu tersenyum, lalu duduk bersila menghadap gerombolan manusia itu. Di belakangnya ada beberapa sosok bayangan manusia yang sangat kami kenal. Secara serentak orang-orang mencium tangannya, lalu kembali  tempat masing-masing.

" Rangga, kenapa orang tua kita disini ?".

" Sssttt..bukan Cuma itu, lihat di belakangnya, kepala desa, tua adat dan para rato
juga ada !"

" Jadi ini alasan, kita dilarang mauk dalam hutan ?".

" Entalah".

Sosok itu sangat tenang, wajahnya putih bersih, dan berseri, suasana hening kembali. Secara perlahan menutup kedua matanya, mulutnya komat-kamit, sekitar lima belas menit kemudian, ia membuka matanya, dan tersenyum.
"Hari ini permintaan akan dikabulkan ".
"Hidup yang mulia......".

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved