Selasa, 9 Juni 2026

Cinta 1 April

IAN, gadis belia yang masih duduk di bangku SMA kelas satu. Parasnya ayu, rambutnya lurus, menjadi mahkota pemikat sang arjuna

Tayang:
Editor: Alfred Dama

Lalu kami bertiga menumpang dengan oto itu menuju ke kampung. Ada sepuluh orang penumpang selain kami. Di bangku bagian depanku ada tiga cewek, duanya berbadan besar dan kelihatan lebih tua dariku. Sedangkan yang satunya lagi berbadan kecil. Rambutnya lurus, sesekali hembusan angina mengocar-ngacirkan rambutnya.  Jalan berlubang mebuat oto teroleng. Dan gadis berbadan kecil yang berada di hadapanku turut teroleng dan hampir terjatuh,  tetapi karena kecekatanku ia pun tak jadi jatu, ku menahan kedua pundaknya.

Oh Tuhan inilah dia gadis yang menghantui pikiranku, yang ada di HP mama. Terimah kasih Tuhan Engkau telah mempertemukan kami. Ia mengucapakan terima kasih, sembari menyodorkan tangan kanannya, lalu bersalaman dan berkenalan. Ian, Abu. Jantungku berdetak kencang. Tak menyangka hal ini akan terjadi. Tangannya begtu lembut selembut suaraanya. Beberapa menit kemudian kami tiba di kampung,  lalu bergegas turun dari oto dan menuju ke rumah masing-masing.

Rumah Ian dan saya berdekatan. Sehingga setiap hari kami saling berjumpa dan berbagi cerita bersama. Dari kebersaman ini timbul perasan untuk memilikinya. Namun aku tak berani mengungkapkannya. Tetapi setelah lima hari ku memendamkan perasaanku, saya memberanikan diri untuk menyatakan cinta padanya. Dengan penuh kegirangan ia menerima cintaku. Aku begitu bahagia.

Sekalipun hari ini juga kami akan dipisahkan oleh tempat dan waktu, dia ke Ende dan aku ke Maumere, namun aku tetap percaya akan cinta yang bersemi di antara kami.
Seiriing berjalanya waktu, aku tersadar bahwa aku mengungkapkan perasan cintaku padanya di hari tipu yakni Senin, 1 April 2013.

Maka pikirku; ia menerimaku mejadi pacarnya hanyalah tipuan dan perasaan cintaku padanya dianggap tipuan saja. Lalu ku menghubunginya sekedar membuktikan apa yang ku pikiran. Aku menelfonya. Ia mejawab panggilan ku. Namun baru sekata ku ucapkan "halo", ia lalu menyambungnya, kak apa yang ku katakan kemarin jangan disimpan di hati ya. Sebab itu hanya iseng saja. Kan kemarin hari tipu. Dengan perasaan yang tak menentu, ku menjawab, `ia, kakak juga hanya iseng. Namu yang sesungguhnya hatiku teriris akan perkataan itu. Aku tak rela kehilangannya. *
Puncak Scalabrini, April 2013.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved