Pemilihan Gubernur NTT

Awas! Rivalitas Massa Frans-Esthon

Putaran kedua Pemilihan Gubernur Porpinsi Nusa Tenggara Timur (Pilgub NTT) diwarnai pergeseran orientasi pemilih

Penulis: Apolonia M Dhiu | Editor: Alfred Dama
POS KUPANG.COM, KUPANG -- Putaran kedua Pemilihan Gubernur Porpinsi Nusa Tenggara Timur (Pilgub  NTT) diwarnai pergeseran orientasi pemilih dari politik kultural dan pencitraan ke politik rivalitas massa Frans Lebu Raya (Frenly) dan Esthon Foenay (Esthon-Paul) di arus bawah.

Demikian pengamat politik NTT, Dr. Ahmad Atang, ketika diminta pendapatnya tentang Pilgub NTT putaran kedua apakah masih mengandalkan politik basis atau pencitraan seperti yang diprediksinya pada putaran pertama, 18 Maret 2013 lalu, Kamis (4/4/2013).

Untuk diketahui, Pilgub  NTT putaran pertama pada 18 Maret 2013 lalu diikuti lima paket, yaitu pasangan  Esthon Foenay-Paul Edmundus Talo (Esthon-Paul), Ibrahim Agustinus  Medah-Emanuel Melkiades Laka Lena (Tunas), Christian Rotok- Abraham Paul Liyanto (CristAL), Frans Lebu Raya-Benny Litelnoni (Frenly), dan Beny Kabur Harman-Wellem Nope (BKH-Nope).

Ahmad mengatakan, pada putaran pertama jika Esthon dilihat sebagai rival, maka pada putaran kedua pemilih akan memilih Frenly. Sebaliknya, jika Frenly dianggap sebagai rival, maka putaran kedau pemilih akan lari ke Esthon.

Menurut dia, pertimbangan primordial etnis telah muncul pada putaran pertama. Maka kenyataan yang sama, lanjutnya, akan muncul pada putaran kedua. "Jadi, ada tidaknya isu primordial pada basis pemilih, tapi mindset ini telah terbangun," ujarnya.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK) ini mengatakan,  pada putaran kedua ada pergeseran orientasi pemilih,  lebih pada rivalitas politik di arus bawah.

Ini yang diwaspadai dan diawasi. Rivalitas ini memberi isyarat bahwa ketika pada putaran pertama dia rivalnya Frenly, maka akan memilih Esthon. Sebaliknya, jika dia rivalitas dengan Esthon, maka akan memilih Frenly.

Jadi, kata Ahmad, orang sudah tidak mempertimbangkan primordial etnis dan primordial agama, karena suka atau tidak suka, putaran pertama sudah menggambarkan itu. Isu ini mau dibangun atau tidak pada tataran masyarakat sudah ada mindset seperti itu.  

"Kita lihat kantong kemenangan yang diraih oleh Frenly lebih banyak berbasis Flores dan Katolik, sedangkan Esthon berbasis Timor dan Protestan. Itu artinya di masyarakat sudah terbangun sikap diri seperti itu. Ini model kegagalan dalam membangun politik egaliter. Elit politik dan politisi selama ini gagal membangun model politik egaliter, sehingga cara pandang bersifat simbolik primordial selalu menjadi pilihan," kata Ahmad.

Menurut dia, untuk menang pada putaran kedua, yang pasti kantong kemenangan di putaran pertama tetap dikawal karena sebagai modal dasar. Melihat kemenangan Frenly dengan 600.000 lebih suara, artinya di putaran kedua kerjanya tidak terlampau besar, begitupun dengan Esthon.


Ahmad mengatakan, hari-hari ini  orientasi kedua kandidat adalah memperkuat dukungan dengan cara road show atau safari politik. Tetapi belum mengarah pada marketing politik, bagaimana mempertajam visi misi untuk menarik dukungan.  

Kedua kandidat lebih pada membangun ikatan yang bersifat asosiasi dan aviliasi politik. "Tidak heran mereka sudah mulai mengklaim bahwa paket ini mendukung paket ini. Saya kira model politik yang elitis. Tetapi yang sesungguhnya harus membangun terobosan di tingkat bawah," katanya.*

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved