Kampanye Pilgub NTT
Cris Rotok: Tahu Tugas Gubernur Supaya Tidak Rampas Tugas Bupati
Calon inpenden Gubernur NTT, Drs.Christian Rotok, pulang kampung menggelar kampanye di Kota Ruteng, Manggarai dan di Lembor
Padahal semula, kampanye di Ruteng tidak masuk dalam agendanya. Namun, di tengah hiruk pikuk kampanye berlangsung, Chris ragu dengan kebersamaan warga Manggarai. Apakah mereka masih bersatu hati?
Chris kembali menyampaikan pencerahan kepada rakyatnya sebagai wujuh tanggung jawab moril agar rakyat tidak salah memilih pemimpinnya. Berbagai 'isu miring' yang menjerumuskan warga diluruskan. Sekitar 50.000 massa dari Manggarai Timur dan Manggarai geleng-geleng dan penuh ceria menyimaknya.
Chris menegaskan bahwa menjadi gubernur harus tahu tugas pokoknya. Pemahaman wilayah NTT sebagai satu kesatuan wilayah meliputi 1.192 pulau, yang dihuni lima juta jiwa tersebar pada 48 pulau.
"Harus tahu itu (tugas) dulu. Kalau tidak tahu, apa yang mau diurus. Jangan sampai NTT yang dimaksud itu hanya Kupang, Rote atau Timor. Tanpa wilayah yang lain bukan NTT. Karena NTT merupakan keutuhan yang memiliki 21 kabupaten/kota, 313 kecamatan dan 3.126 desa," tegasnya.
Pemahaman terhadap tugas gubernur itu, lanjut Chris, supaya gubernur tidak merampas tugas yang menjadi kewenangan bupati.
Pengurusan jamkesmas atau jamkesda yang tumpang tindih menjadi tugas bupati merupakan contoh nyata. "Kalau tidak dapat jamkesmas dibayar oleh pemda melalui jamkseda. Itu (jamkesda) urusannya bupati. Bukan urusan gubernur," tandas Chris.
Menurut dia, gubernur tak punya kewenangan mengambilalih kebijakan dan tugas bupati. "Saya perlu beri pencerahan, supaya orang tidak menganggap rakyat Manggarai tidak cerdas. Buktinya mereka mampu pilih pemimpin yang kurus seperti saya," ujar Chris.
Tugas pembina terhadap kabupaten dan kota. Kalau bupati dan wakilnya, berkelahi, menjadi tugas gubernur melakukan pembinaan. Kemudian pengawasan pelaksanaan pelayanan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan dilakukan di kabupaten/kota. "Jangan biarkan kabupaten/kota itu jalan sendiri-sendiri. Kalau ada soal, gubernur harus hadir sebagai pengayom," kata Chris.
Ia mengatakan, tugas gubernur juga mengevaluasi bupati dan walikota dalam pelayanan kepada masyarakat. Chris mengingatkan pemahaman yang sering keliru menyamakan tugas Gubernur NTT atau gubernur di propinsi lainnya dengan gubernur di DKI Jakarta. Ditegaskannya, UU yang mengatur DKI dengan propinsi lainnya beda.
"Tugas Jokowi juga beda dengan tugas gubernur lainnya, termasuk Gubernur NTT. Jokowi mengawasi walikota sampai lurah. Mereka diangkat oleh gubernur. Karena itu, kalau dia mau lantik walikota di tempat sampah juga urusan dia. Jangan disamakan," kata Chris mengundang tawa massa pendukungnya.
Dikatakanya, "Kalau Jokowi periksa lurah itu benar. Tapi kalau Gubernur NTT periksa lurah, wajar kalau dia diusir. Itu salah. Kalau mau datang ke lurah atau desa harus melalui bupati," ujarnya.
Pemahaman tugas itu, tandas Chris, supaya tidak mencampuradukan dengan tugas bupati/walikota. Prinsip-prinsip pengelolaan pemerintahan harus dipahaminya secara utuh. "Tidak bisa gubernur campur tangan sembarangan. Yang tahu itu hanya orang-orang yang punya pengalamanan kelola birokrasi. Yang tidak pengalaman, saya ragu," kata Chris.
Bila terpilih, Chris dan Paul, konsentrasi mengurus tiga program utama di bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan yang menjadi soal besar di NTT. Tiga program itu didukung biokrasi yang tangguh dan tata ruang yang tegas.
"Jangan berpikir, kalau saya terpilih, saya orang Manggarai, maka semua kepala kantor dan kepala bagian orang Manggarai. Atau karena saya beragama Katolik, maka semua pejabat beragama Katolik, tidak seperti itu," tegas Chris. (ius)