Aceng atau Ahok
AAT disuruh pilih Aceng atau Ahok, langsung jawab tanpa pikir, "enak jadi Aceng lah!" Seperti kata Julia Suryakusuma, fenomena Aceng
SAAT disuruh pilih Aceng atau Ahok, langsung jawab tanpa pikir, "enak jadi Aceng lah!" Seperti kata Julia Suryakusuma, fenomena Aceng itu sama dengan fenomena gunung es. Ada banyak kasus sejenis yang sesungguhnya merendahkan martabat perempuan. Fani Oktora itu hanya salah satu yang muncul dari sekian banyak kasus serupa yang ditenggelamkan dalam-dalam.
"Ya, enaklah! Nikah dua bulan, cerai, nikah empat hari cerai, suka-suka dong. Aceng saja bisa kasih alasan, soal tidak perawan, soal bau mulut, he he he apalagi aku, aku bisa kasih alasan macam-macam kalau aku mau. He he he dapat ABG seperti Fani Oktora, siapa takut keruntuhan durian runtuh. Aku masuk dalam fenomena pikiran Julia he he he."
***
"Kamu mau kasih alasan apa untuk cerai setelah sekian hari nikah?"
"Banyak! Kalau fisik ya soal ngorok, ngiler waktu tidur, perut kurang rata, pantat ada bekas cacar, pokoknya body kurang yahud. Kalau non fisik ya, kurang agamis, belum hafal ayat-ayat, agak telmi, terlalu lembut, kurang greget, kurang menggairahkan," Rara mencari alasan.
"Ooooh begitu ya?"
"Ya ialah, Aceng saja bisa kasih alasan langsung, apalagi beliau orang besar pasti banyak pembelanya. Seperti aku, aku juga orang berpengaruh jadi pasti saja banyak pembelaku. Ibarat pepatah, hilang satu ganti seribu. Banyak kok nona-nona yang antrE mau denganku, he he he," Rara pukul dada bangga bukan main. "Kamu pilih mau seperti siapa? Aceng atau Ahok?"
"Siapa ya?" Jaki menimbang-nimbang. "Kalau Aceng enaklah bisa kawin cerai sampai dapat gadis yang superwomen, serba sempurna, serba yahuuuuh. Aduh dapat di mana ya? Aku ini manusia supermen ya? Apakah aku sempurna ya? Ya tentu saja. Kalau Ahok enak juga jadi wagub yang hebat, pendamping setianya Jokowi. Jokowi asyik pantau lapangan, Ahok serius dan tegas di belakang meja bereskan soal birokrasi dan sejenisnya. Tetapi istri hanya satu, aduh seumur-umur lagi. Rugiiiii," begitu jawaban Jaki.
***
"Jadi kamu pilih siapa? Harus tegas!"
"Soal perempuan aku pilih Aceng, soal jabatan aku pilih Ahok!"
"Pilih satu dan tegas!"
"Ahok eh Aceng eh Ahok, eh eh eh Aceng Aceng Aceng aaaaah Aceng!" Rara dan Jaki terkekeh-kekeh.
Rara dan Jaki yakin tidak bakal dipecat MA. Yang penting tutup rahasia rapat-rapat agar tidak ketahuan. Aceng itu persoalannya hanya ketahuan saja. Coba kalau tidak ketahuan, wah pasti lancar ada banyak perempuan antre dan rela jadi kelinci percobaan. Kalau ketahuan, Rara pastikan para pendukungnya akan lawan mati-matian, unjuk rasa, serang MA, serang DPR.
"Tetapi awas ketahuan Nona Mia. Sebagai orang DPR Nona Mia pasti berpegang teguh pada kata-katanya Ketua DPR, "kalau Aceng berani lawan, tangkap saja." Apalagi kata-katanya orang MA, "keputusan ini sudah final, tidak ada soal jawab lagi". MA kabulkan permohonan DPR Garut untuk lengserkan bupatinya. Hmmm Nona Mia pasti ambil kata-kata MA dan kata-kata Ketua DPR untuk mengambil keputusan tegas. Nona Mia pasti cari sampai dapat semua undang-undang, peraturan, kebijakan daerah, nasional, dan internasional untuk mempertegas keputusan. Payah juga ya, berhadapan dengan perempuan seperti Nona Mia," kata Jaki panjang lebar.
"Bagaimana hubunganmu dengan Nona Mia? Kira-kira menurutmu Nona Mia bisa tidak dijadikan kelinci percobaan pasti asyik mati punya!"
"Rara kok dilawan," Rara memukul dada. "Lihat saja tanggal maennya. Nona Mia akan bertekuk lutut di bawah kakiku, setelah dia kujadikan kelinci percobaan."
***
"Hei Jaki Rara, bertekuk lutut di bawah kaki, kelinci percobaan, hebat benar kalian berdua ya!" Nona Mia maju dua langkah tepat beberapa senti di hadapan Jaki dan Rara. "Laki-laki seperti you and you," tonjokkan Nona Mia membuat Rara Jaki termundur beberapa langkah. "Banci kesiangan, cocoknya masuk dapur neraka! Berani benar kalian menghina aku sahabat kalian sendiri. Dasar hidung belang mata keranjang," sekejab saja Jaki dan Rara sudah tersungkur makan tendangan Nona Mia.
"Bangun, ayoh lapor polisi."
"Hei Nona Mia, jangan main hakim sendiri," teriak Benza.
"Biarin aku tidak takut kerkelahi dengan dua banci. Bangun cepat!" perintah Nona Mia. "Jawab! Lu mau pilih Aceng atau Ahok!"
"Ya, tinggal pilih saja!" sambung Benza.
"Sumpah, aku pilih Aceng eh maksudku Ahok!" Jaki gelagapan.
"Sumpah, aku pilih Ahok eh Aceng eh Ahok eh maksudku Aaaaaaa hhccok ceeeeeeg," Rara lebih gelagapan lagi.
"Sudahlah Nona Mia, buat apa pikirin Jaki Rara, soal pilihan mereka. Biar saja. Setiap orang pasti bisa menilai dirinya sendiri bukan? Tidak perlu kamu pikir susah begitu sampai wajah cantikmu jadi empat lima begitu. Dahi mengkerut, bibir mengkerut, bengkok!" Benza berusaha menghibur Nona Mia.
***
"Benar kata Julia Suryakusuma. Fenomena Aceng - Fani Oktora itu fenomena gunung es. Ada banyak kasus pelecehan seksual, perendahan martabat perempuan dengan berbagai wajah di hadapan kita. Komentar Jaki dan Rara itu menyakitkan, namun kupikir ada benarnya juga. Tidak sedikit perempuan yang merendahkan dirinya sendiri. Terlalu lemah, terlalu pasrah, rela dikhianati. Pelajaran berharga bagiku untuk menghargai diriku sendiri."
"Kamu masih pacaran dengan Rara? Mau terima lamarannya?" tanya Benza.
"Melihat dan mendengar betapa gelagapan si Rara, maaf saja ya!"
"Nona Miaaaaa, aku pilih Ahok, Ahok, sumpah, aku berani sumpah!" teriak Rara dari jauh dan Jaki mengekor Rara sambil ikut berlari dan rem mendadak di depan Nona Mia dan Benza.
"Makan itu sumpah!" Nona Mia langsung melangkah pergi dan anti toleh ke belakang.*