Di Timur Adonara

KUPANDANG wajahmu dari lautan biru, saat perahu motorku membelah lautan dari Lewoleba menuju Larantuka.

KUPANDANG wajahmu dari lautan biru, saat perahu motorku membelah lautan dari Lewoleba menuju Larantuka. Tergetar hatiku saat perahuku merapat di dermagamu, kuterkenang Adonara tempat masa kecil para sahabatku. Ketika perahuku berlayar lagi, Adonara pulau impian, aku telah sampai padamu, meskipun telapakku tak pernah menjejak di sana.  

"Itu masalahnya! Seandainya kamu pernah sampai di sana, pasti tidak akan terjadi bencana!" Demikian komentar Jaki "Puisimu indah sekali, tetapi sayangnya hanya puisi menghibur hati. Adonara perlu bukti bukan janji!"

"Apa maksudmu?" tanya Nona Mia.

"Puisi juga satu bukti untuk menghibur hati para saudaraku di Adonara, terutama di lokasi pertikaian. Kenapa ya Benza? Mengapa mesti terjadi?"

                                         ***
Ada apa dengan Adonara? Mengapa Adonara mesti bersimbah darah dan air mata?  Aparat kepolisian gabungan jajaran Polda NTT berhasil menyita ribuan anak panah selama sweeping dua hari di daerah bertikai di Adonara, Kabupaten Flores Timur.

Menurut catatan koran kita polisi men-sweeping di daerah konflik, Dusun Belle, Desa  Lewonara dan  Dusun  Riang Bunga, Desa Lewobunga. Ada parang, senjata api rakitan,  senapan angin, tameng kayu, pipa besi bahan senpira, amunisi senpira, amunisi shot gun, bom pipa,   pipa besi, bahan bom molotov, satu buah mesin potong besi, bambu anak panah. Aduh, mama! Apa yang telah membuat saudara-saudaraku di sana berperang?

Ada apa Adonara? Mengapa warga yang bertikai tidak peduli dengan berbagai himbauan untuk hentikan perang saudara ini?  Pihak keamanan, pemerintah, toga tomas, tim sembilan, dan berbagai pihak sudah lakukan berbagai cara untuk memediasi perdamaian kedua belah pihak. Namun upaya yang dilakukan tidak dihiraukan warga yang bertikai. Ada apa? Apakah tidak ada lagi yang bisa dihormati, disegani, didengar suaranya?

"Mengapa hasilnya tetap perang?"

"Aneh bin ajaib, hari gini masih ada kelompok orang yang angkat senjata dan lukai lawan. Betapa gelap gulita masa depan? Dengan cara apa air mata dan luka disembuhkan?" Nona Mia sangat sedih. "Pada batas kakiku melangkah, Adonara! Dimanakah engkau? Apakah batas antara kita kian membatasi pertemuanku dan kamu?"

                                  ***
"Gara-gara batas!" potong Benza. "Itu karena kamu kurang peka menanggapi batas. Kurang apresiatif memaknai batas. Karena begitu banyak tangan yang membuat tanda jadi tanpa pikiran dan hati. Karena sering kali empati terhadap batas geografis lebih dipegang daripada batas kultural. Orang hanya peduli pada tali, batu, kayu, paku, tembok, dan lupa pada jembatan telepati hati dan kasih."

Halaman
123
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved