Niki-Niki Kota Raja

Menyapa yang Datang (1)

DERETAN toko, kios dan rumah makan di Kota Niki-Niki hampir tak pernah sepi pengunjung. Maklum, kota yang dibelah jalan negara Trans Timor

Menyapa yang Datang (1)
POS KUPANG/THOMAS DURAN
SONAF--Inilah Sonaf Sonbesi atau Istana Besi peninggalan Raja Nesi Nope (alm) masih berdiri kokoh di Niki-Niki. Gambar diambil pekan lalu.

Berbagai jenis kendaraan setiap hari melintasi kota tua bersejarah itu. Bus-bus angkutan penumpang dari Kupang tujuan Kefamenanu dan Atambua, demikian sebaliknya dari Atambua dan Kefamenanu tujuan Kupang, ketika tiba di Kota Niki-Niki pasti beristirahat sejenak. Memberi kesempatan kepada penumpang untuk makan dan belanja oleh-oleh di kota itu.

Kota itu dibangun sejak masa Kerajaan Amanuban (Amanuban Tengah, Barat, Timur dan Amanuban Selatan). Sebagian rumah dan bangunan toko di Kota Niki-Niki adalah sisa peninggalan masa silam.

Nama Niki-Niki diambil dari kata Nik-Nik atau suara anjing saat berburuh. Oleh  Raja Amanuban, Tubani Bill Dinasti Nope, pada tahun 1720 memberi nama wilayah kekuasaannya Nik-Nik. Dalam perjalanan nama Nik-Nik disempurnakan menjadi Niki-Niki.  Di Niki-Niki masih ada istana raja. Dalam bahasa setempat istana raja disebut sonaf.

Salma Nope, putri dari raja terakhir Kerajaan Amanuban, Nesi Nope (alm), saat ditemui di Sonaf Sonbesi, Niki-Niki, Rabu (5/9/2012), menuturkan, nama Niki-Niki berasal dari Nik-Nik.  Pada masa silam, ketika Kerajaaan Amanuban dipimpin Dinasti Nope, ada dua ekor anjing milik pengikut Usif (raja) Tubani Bill memburuh dan menangkap rusa di hutan.


Saat berburuh, kedua ekor anjing itu mengeluarkan suara Nik-Nik hingga didengar sang raja, lalu raja menamakan wilayah kerajaan itu Nik-Nik yang kemudian disempurnakan menjadi Niki-Niki.

Sebagai kota raja, tutur Salma, pada masal silam Niki-Niki dilengkapi beberapa sonaf atau istana raja sesuai dengan masa kekuasaan masing-masing. Uniknya, Kerajaan Amanuban tidak hanya memiliki satu istana, tapi setiap raja memiliki sonaf atau istana masing-masing yang dibangun sesuai  keinginan dan kebutuhan saat itu. Dan, yang terakhir adalah Sonaf Sonbesi milik Raja Nesi Nope (alm).

Disebut Sonbesi atau Istana Besi karena rumah yang ditempati keluarga raja itu dibangun di atas lahan penguburan tengkorak manusia.  Sonaf ini berjarak kurang 100 meter dari jalan raya, letaknya di atas bukit di antara beberapa pohon beringin.

Untuk mencapai sonaf ini harus menapaki 32 anak tangga yang dibuat dari semen. Di pintu gerbang masuk, berdiri kokoh sebuah lopo dan dua rumah darurat yang merupakan sonaf tertua atau Somam Nasi. Sonaf tua ini agak angker.

Di depan kedua sonaf ini ada Sonaf Haumeni milik anak pertama Raja Noni Nope, Sonaf Naek atau besar, Sonaf Sonkollo atau istana burung, Sonaf Noemeto atau kali kering, Sonaf Besa atau pohon kabesak, Sonaf Ukase atau istana pepaya, Sonaf Klus atau istana silang, dan Sonaf Fau atau pohon pelebat rambut.

Salma mengatakan, pada masa kerajaan ada  banyak kekayaan, termasuk cendana dan obyek wisata gua bersejarah di bagian Barat Sonaf Sonbesi.

Halaman
12
Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved