3 Bulan Tak Melaut, Nelayan Namosaen Jadi Buruh Bangunan
Sudah tiga bulan lebih, secara berturut-turut nelayan di Namosaen, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, tak sempat melaut
Para nelayan memilih bekerja di darat sekadar memenuhi kebutuhan sehari hari.
Gideon Henuk (54), nelayan Namosaen di Kupang, Selasa (7/8/2012), mengatakan, sejak Mei-Juli cuaca di perairan laut Timor benar benar sangat mengganggu pelayaran.
"Memasuki bulan Agustus sebenarnya gelombang laut sudah aman, ternyata sampai saat ini gelombang masih tinggi juga. Nelayan yang selama ini berlayar mencari ikan di arah selatan NTT tidak melaut karena takut gelombang tinggi yang sering datang secara mendadak," kata Henuk.
Sebagian nelayan terpaksa bekerja sebagai buruh bangunan, proyek jalan, memperbaiki perahu, mengumpulkan dan menjual barang barang bekas, atau memancing di payau atau teluk dan laut tepi pantai untuk mendapatkan ikan seadanya.
Ia mengaku memiliki sebuah perahu kecil berukuran 1 x 5 m dengan mesin gantung. Tetapi perahu ini jarang dipakai saat gelombang tinggi. Penghasilan Henuk selama melaut rata rata Rp 100.000 per hari, tetapi selama tidak melaut hanya Rp 20.000-Rp 30.000 dari hasil mengojek.
Sepeda motor ojek dia sewa dari orang lain, sehingga ia harus stor Rp 10.000 dari pendapatannya itu. "Kini, penghasilan bersih saya Rp 10.000-Rp 20.000 per hari. Uang itu tidak cukup untuk biaya hidup lima anggota keluarga. Apalagi satu anak di SMA dan satu lagi di SMP sehingga setiap hari harus ada uang jajan, transportasi dan belanja sayur untuk makan minum. Memang sulit," kata Henuk.