100 Thn Sekolah Katolik Ngada/Nagekeo
Sang Guru (1)
SAYA sekolah di SRK/SD Tanalodu, antara tahun 1950 sampai 1953, yaitu dari kelas 4 sampai kelas 6 tamat
Kelima, di balik sifat kerasnya, ternyata Guru Meak memiliki hati yang lembut dan penyayang. Saya harus melanjutkan sekolah ke SMPK Frater di Ndao tetapi setelah 3 bulan di Ndao terpaksa harus pindah sekolah lagi ke SMPK Frater di Kupang karena ibu saya menderita sakit dan harus dirawat di RS Tentara Kupang. Ibu saya meninggal pada tahun 1954 ketika saya masih kelas 2 SMP. Dalam catatan buku induk di sekolah, Guru Meak menulis dengan tulisan tangan bahwa saya melanjutkan sekolah ke Kupang dan ibu saya meninggal dunia tahun 1954 lengkap dengan tanggalnya yaitu 2 Mei 1954.
Beberapa tugas/kewajiban harian yang masih saya ingat adalah,
pertama, setiap pagi menghadiri misa harian dan bergiliran menjadi misdinar/putra altar yang waktu itu masih menggunakan pengantar bahasa Latin. Misa harian di gereja bisa dilakukan di 3 altar oleh beberapa pastor yaitu di altar tengah, kanan dan kiri sekaligus.
Kedua, setelah misa, pulang kerumah dan sarapan pagi untuk siap-siap berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Ibu saya tidak pernah absen menyediakan sarapan pagi dan kami tidak dibiasakan membeli jajan di sekolah.
Ketiga, sambil berjalan kaki ke sekolah saya menyinggahi rumah Guru Meak untuk mengambil buku-buku pelajaran dan persiapan mengajar Guru. Biasanya kami bertemu dengan "Nyora" (sebutan untuk isteri Guru/Signora) untuk menanyakan buku-buku mana yang akan dibawa. Buku-buku ditempatkan dalam semacam kotak yang dianyam dari daun pandan, beratnya lumayan untuk seorang anak SD karena membawa juga buku-buku sendiri. Kotak berisi buku-buku itu dibawa di atas kepala.
Keempat, para murid belajar dengan menggunakan meja dan tempat duduk dari bahan bambu dan alas menulis di atas pelupuh bambu. Penggaris/mistar juga terdiri dari bahan bambu yang dibuat sendiri dengan ukuran dm, cm, mm buatan sendiri dari contoh mistar kayu yang ada. Coretan berhitung atau menggambar di atas alat tulis /bak dari bahan batu lunak berbingkai kayu yang bisa dihapus.
Kelima, semua murid diharuskan membuat sendiri seruling untuk pelajaran musik. Bahan baku seruling dari bambu buluh yang tumbuh agak di luar kota. Setelah mencari ukuran yang cocok dibawa pulang dan mulai membuat lubang-lubang seruling dengan kepala paku yang dipanaskan sampai merah dengan ukuran yang telah ditentukan. Apabila ukurannya salah atau cara melobangi kurang sempurna, maka dipastikan suara yang keluar akan fals dan guru pasti akan mengetahui dari mana suara fals tersebut. Hukumannya adalah pukulan pada jari-jari tangan murid tersebut.
Keenam, guru-guru pada masa itu menerapkan hukuman atas kesalahan atau ketidaktahuan murid dengan pukulan, biasanya dengan mistar atau rotan. Sasaran pukulan biasanya di pantat atau betis, tetapi tidak pernah di kepala. Otoritas guru sangat tinggi dan jarang ada orang tua yang komplain atas perlakuan sang guru. (bersambung)