Surat Tengah Hujan
SELALU demikian di bulan Januari ini. Hujan benar-benar mewarnai hari. Ya. Pukul 11 malam lebih. Hujan seperti sedang mengadakan perlombaan
"Maaf, Gisel."
***
Aku tahu, kamu mungkin sangat kecewa dengan keputusanku, namun aku harap kamu benar-benar cukup dewasa untuk menerima kenyataan dalam hidup yang penuh ketakterdugaan.
Namun apakah kamu juga tahu bahwa aku sangat menyayangkan kejujuran tentang perasaanku padamu saat keputusanku untuk berhenti mengejar dan menggapai cintamu? Tapi tak apalah, aku memang sudah berpikir matang-matang dan siap menghadapi resikonya walaupun perih. Aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun karena kamu adalah cinta pertamaku.
Aku kesepian. Apa yang harus kulakukan untuk mengusir sepi ini? Oh ya. Aku membayangkanmu. Sosok yang baru lima kali kutemui. Dalam genggamanku ada foto yang kamu berikan kepadaku saat hari Valentine tahun lalu yang melengkapi imajinasiku. Seorang wanita berparas cantik dan menarik. Berambut panjang. Bermata indah.
Senyum menggetarkan. Sedang duduk manis di kursi plastik dengan anggunnya. Saat itu aku merasa bahwa diri kita ini bagaikan intan, perasaan kita adalah ikatan yang menonjolkan dan menyemarakkan warna sisa-sisa intan itu.
Hujan masih terus pada aktivitasnya. Kini aku kedinginan. Apakah di tempatmu juga sedang hujan? Kamu sedang apa? Duduk membungkus badang dengan jaket dan kain tebal? Ataukah sedang menulis puisi, cerpen atau surat?
Apakah kamu sedang membaca novel horor kesukaanmu? Ataukah kamu sedang melihat foto berukuran kecil yang kuberikan padamu tempo itu sambil mendengar lagu cinta dari handphone-mu? Atau jangan-jangan kamu sedang tertidur pulas? Hmm... ya. Kurasa kamu sedang tertidur pulas. Aku bisa merasakan dengusan nafasmu yang perlahan menyapa rasaku yang sedang sepi ini.
***
Tempias hujan tidak deras lagi, namun kesedihan itu masih terus menghantam ruang hati yang terdalam. Aku butuh kawan. Aku butuh cinta yang sanggup mengobati luka hatiku. Kamukah orangnya? Tidak. Kamu mungkin sudah berharap agar aku tidak hadir lagi di kehidupanmu. Semudah itukah hatimu tertutup rapat untukku?
Atau, kamu hanya ingin menguji ketangguhan hatiku? Apakah perkataanku dulu akan kutepati? Tidak, aku tak ingin berharap apa-apa darimu. Aku memang ingin kau, dan aku akan kembali seperti dulu. Namun kini aku hanya ingin menjadi sahabatmu. Sahabat biasa, bukan pacar. Tapi, jika takdir menginginkan agar kita kembali menyatu, aku pasti tak akan menolaknya. Aku percaya, orang yang kita cintai selalu mempunyai tempat khusus di hati kita. dan kamu punya tempat khusus di hatiku, walaupun sekarang telah kosong.
Aku berjanji. Tak akan ada yang mampu mengisi tempat ini. Meski aku ingin punya pacar, sebagaimana pria kebanyakan. Seseorang yang mampu membuatku jatuh cinta sungguh-sungguh. Seseorang yang mencintaiku apa adanya, bukan ada apanya. Seseorang di mana aku bisa berbagi dunia dengannya. Naifkah?
***
Hujan telah berhenti. Namun kodok-kodok yang berderet di kolam ikan masih terus bernyanyi riang gembira. Indah sekali malam ini. Tanpa terasa sudah tengah malam. Aku sudah menghabiskan banyak waktuku bersama hujan dan imajinasiku tentang kamu. Aku mesti istirahat, banyak hal yang harus kulakukan di awal hariku esok.
Sebelum beristirahat, aku berdoa,
"Tuhan, jagalah selalu orang yang paling aku cintai dalam hidupku ini. Amin."
Sepoi Kupang, 1 Februari 2011, 01.00
*) San Juan Community, SMASSTRA