Dewan Berani Cabut
INI kejadian di Kampung Paccora, Kelurahan Balocci Baru, Pangkep. Tambang galian C
"Bukankah bencana belum terjadi?" sambar Rara.
"Jadi mau tunggu bencana datang dulu?"
"Kalau bencana ya bencana namanya! Apa boleh buat, di luar kehendak kita semua," sambung Jaki yang membuat Benza dan Nona Mia telinga merah karena marah.
"Kamu tega benar ya!" kata Nona Mia. "Kamu pergilah ke Pangkep dan belajarlah dengan serius mengapa DPRD merekomendasikan cabut ijin tambang yang dikeluarkan Bupati. Belajar baik-baik dan pulanglah kemari, selamatkan tanah leluhurmu, selamatkan kita semua, selamatkan anak cucumu."
"Maaf saja ya Nona Mia yang cantik dan Pak Benza," Rara pasang aksi. "Apa kamu kira aku tidak baca berita yang kamu baca diinternet? Bukankah sebelumnya, Bupati Pangkep, mengisyaratkan agar warga di daerah tersebut tidak mempersoalkan kegiatan pertambangan.
Termasuk soal kekhawatiran akan jebolnya bendungan serta jalan yang rusak. Sebab, menurutnya, hal tersebut adalah tanggung jawab Pemkab Pangkep. Bupati Pangkep saja tenang-tenang saja, kok kamu yang repot. Memangnya kamu orang Pangkep?"
***
"Ooooh begitu ya? Kalau bencana juga tanggung jawab bupati? Yang jadi korban, yang kehilangan keluarga, yang kehilangan masa depan lingkungan, yang kehilangan martabat local juga bupati ya? Bukan rakyat?" sambung Benza.
"Itu urusan orang-orang Pangkep!" teriak Rara sambil melotot.
"Urusan kita juga," Nona Mia juga melotot. "Kita pun izin tambang seenaknya keluar. Bedanya DPRD Pangkep bertindak cepat, sedangkan kita tidak. Jangan kamu kira Bupati Pangkep tidak bisa diperiksa dan jadi tersangka karena kebijakannya.
Bupati kita-kita saja sudah diperiksa kok. Kalau kamu tidak cermat pikiran dan cermat hati, tunggu saja kapan kamu diperiksa."
"Ooooh begitu kah?" *