Cincin Emas Gyges
RIBUAN tahun yang lalu. Jarak antara nirwana dan bumi masih mudah dijangkau.
RIBUAN tahun yang lalu. Jarak antara nirwana dan bumi masih mudah dijangkau. Dewa- dewa masih banyak berseliweran di dunia. Tetapi manusia tidak bisa terbang ke nirwana.
Ada dewa yang datang menghantarkan api untuk manusia, ada yang datang menghantarkan makanan, ada juga dewa yang rupanya kecanduan tertarik dengan gadis- gadis dekat telaga sehingga mereka tak hendak kembali ke nirwana.
Ada dewa yang datang sekedar menikmati nyanyian alam manusia, bahkan ada juga yang datang hanya untuk mabuk- mabukan dekat kuil lalu melampiaskan amarahnya itu kepada siapa saja yang ditemuinya, menggertak- gertak gemunung dan lautan hingga bergemuruh, bahkan membuat dunia ini jungkir balik sesukanya.
Pada waktu itu di Lydia, berdaulatlah seorang raja yang kaya- raya. Raja itu bijaksana, ramah terhadap rakyatnya, dermawan, dan karena itu jumlah upeti yang dikumpulkan dari seluruh penjuru, semakin hari semakin melimpah. Sawah ladang dan padang rumput penggembalaan membentang hijau, diairi aliran sungai yang tiada ujungnya.
Panenannya berlimpah ruah. Rakyat tak pernah kelaparan. Domba- domba piaraan tak terhitung kawanannya. Mereka tak pernah kekurangan bulu untuk jubah pakaian, tidak juga kekurangan daging, sum- sum, dan susu. Lydia adalah tanah berlepotan madu, berkalung emas, tanah bersolek permata putih berseri di dasar- dasar samuderanya.
Tetapi ada masalah yang membuat raja kalang kabut. Mufakat para patih, para menteri dan seluruh petinggi istana pun tak dapat menemukan jalan keluar yang ampuh. Bahkan hulubalang dan para panglima perang beserta prajurit- prajurit tak kuasa membendung muntahan amarahnya. Dia adalah dewa Aspa, turunan dewa amarah yang selalu geram meggoncang- goncang bumi sehabis mabuk.
Dalam situasi tak menentu itu ada juga seorang lelaki tua bernama Gyges. Gyges adalah seorang gembala yang bekerja untuk raja Lydia. Konon, sebelum menemukan orang yang bisa dipercaya untuk menggembalakan kambing dombanya, sang raja mengadakan sayembara mencukur bulu domba untuk menemukan orang yang tepat sebagai gembala.
Berkat ketangkasannya mencukur bulu domba itulah, raja terpikat dan menunjuk Gyges sebagai salah satu gembala kawanan ternak sang raja. Raja tertarik karena penampilannya yang sederhana, tutur bahasanya yang santun, pola gerak yang lincah tetapi tenang, serta sorot matanya yang dalam menyelidik. Inilah orang yang tepat, yang bisa menjaga kawanan dari pencuri, dari kelaparan, atau dari serigala- serigala buas.
Pagi itu cerah. Kawanan sudah penuh menyelimuti padang rumput di daerah selatan kerajaan. Dekat situ ada sebuah telaga jernih yang cukup untuk minum bagi kawanan gembalaanya. "Aku tak perlu repot mencari sumber air di daerah yang jauh. Sekarang sebaiknya aku beristirahat, sambil mengamati domba- domba memamah rumput" demikian pikir Gyges.
Ia menyandarkan tengkuk diatas tumpukan tanah sambil sesekali memperhatikan domba- domba itu. Terpaan angin membuat matanya semakin berat dan ia tertidur.
Gyges terbangun dari tidurnya ketika domba- dombanya berhamburan kian- kemari. Suara embikan domba memenuhi dataran padang rumput itu. Bumi mulai bergetar. Domba- domba terlempar kesana- kemari. Demikian juga Gyges yang terperangah ikut terseret kemiringan bumi.
"Dewa Aspa mengamuk..dewa Aspa mengamuk, selamatkan diri kalian!" demikian pekikan pasukan berkuda kerajaan yang berhambur menyebarkan berita ke seluruh kerajaan. Sang gembala tak punya banyak waktu untuk mengamankan diri. Ia ikut terseret kemiringan bumi yang digoncang- goncang oleh dewa Aspa. Suara laut semakin dekat menggelora. Muncul juga badai hebat, dan gempa bumi yang dashyat.
Gyges terdampar hingga ke suatu padang yang tak ia kenal. Ia yakin itu bukan wilayah kekuasaan rajanya. Tubuhnya nyaris remuk. Hanya tulang- tulangnya yang masih kuat memapah. Dengan sempoyongan ia berusaha berjalan, mencari jalan pulang, pulang ke Lydia, ke domba- domba gembalaanya.
Dalam perjalanan pulang, ia mendapati sebuah lubang ternganga di tanah. Sejenek ia heran. Karena terpesona dengan apa yang dilihatnya, dia menuruni lubang tersebut. Astaga, di dalam lubang ia menemukan berbagai keajaiban. Ia melihat seekor kuda palsu berwarna kuning keemasan yang memiliki pintu.
Ketika dia membungkuk dan menjengukkan kepalanya kedalam, ia melihat mayat yang melebihi ukuran rata- rata mayat manusia biasa. Mayat itu tak mengenakan apapun kecuali sebuah cincin emas. Penuh perhatian, ia mencoba mengambil cincin emas dari jari mayat itu, lalu bergegas kembali kepermukaan, dan mencari jalan pulang menemui domba- dombanya.
Setahun setelah dewa Aspa memporak- porandakan bumi, seperti kebiasaan, bahwa semua gembala harus berkumpul bersama di kerajaan, untuk melaporkan seluruh ternak yang mereka gembalakan kepada raja. Gyges turut masuk ke perkumpulan itu dengan mengenakan cincin emas yang ia temukkan tadi di jari tangannya.
Ketika ia sedang duduk di antara para gembala yang lain, secara tidak sengaja ia membalikkan mata cincin itu ke bagian dalam telapak tangannya. Dan saat itu, dengan sangat cepat sekali ia tidak bisa dilihat oleh raja, dan semua orang yang berkumpul dalam pertemuan itu.
Gembala- gembala itu mulai berbicara seolah- olah dia tidak lagi berada di tempat itu. Mereka sama sekali tak melihat dia. Gyges sendiri terheran- heran dengan kejadian itu. Dan sekali lagi dia menyentuh cincin itu lalu mengarahkan mata cincin ke luar. Dia menjadi tampak lagi. Gyges melakukan percobaan beberapa kali dan hasilnya selalu sama. Ia bisa muncul. Bisa menghilang. Tergantung arah mata cincinnya.
Sejak bencana dewa Aspa, dan terlebih setelah Gyges mulai bisa muncul dan menghilang dengan bantuan cincin emas itu, pribadinya mulai berubah- ubah. Ia tak lagi setia menjaga kawanan domba raja. Hidupnya mulai beralih dengan cincin emas itu. Ia bisa makan di dalam kedai tanpa ada yang tahu.
Ia bisa mengambil pakaian- pakaian terbaik yang disimpan orang lain tanpa ada yang tahu. Ia juga mulai mengincar harta kerajaan, bahkan menngincar mahkota sang raja.
Suatu malam, saat semua penduduk dan seisi istana kerajaan sudah tertidur pulas, Gyges mulai mengarahkan mata cincinya ke tangan bagian dalam, berjalan melewati gerbang dan prajurit yang berjaga, memasuki pintu istana, mengelabuhi para dayang yang tak tahu apa- apa, lalu sampai kepada tujuannya, Kamar sang raja. Ratu terkejut mendengar langkah kaki mendekat. Ia tidak bermaksud membangunkan raja. Ratu terheran- heran melihat Gyges yang tengah berdiri menghunjukkan belati kearahnya.
"Kamu gembala itu?" ujar ratu perlahan kepada Gyges.
"Ya, aku Gyges gembala Miskin itu".
"Niat apakah yang menghantarmu kemari?"
"Takhta raja!" ucap Gyges sambil mendekatkan belati ke arah ratu.
Ratu begitu panik. Namun Gyges mengancam untuk tidak bersuara membangunkan raja, atau memanggil pasukan. Gyges lalu menunjukkan cincin emas itu kepada sang ratu, lalu mengajak ratu untuk berkonspirasi menggulingkan raja, membunuhnya, dan merebut tahta kerajaan. Ratu tidak membantah.
Demikianlah Gyges dan ratu mengambil alih kekuasaan dari raja dermawan itu, dan berdaulat atas kerajaan Lydia tanpa satu orang pun yang tahu. Tidak ada menteri, patih, hulubalang, ataupun panglima kerajaan yang tahu.
Demikianlah asal muasal cincin emas Gyges itu. Cincin itu tidak diketahui seorangpun selain Gyges dan ratu. Setelah Gyges mangkat dari takhta kerajaan, keberadaan cincin itu simpang siur. Tiada seorangpun yang tahu.
Beribu- ribu tahun setelah menghilang, keberadaan cincin itu mulai terkuak oleh beberapa gejalah di berbagai belahan bumi ini. Rupanya Cincin itu pernah dicuri dan dijual ke Eropa lewat seorang cukong pengembara, bahkan ada juga yang mengatakan cincin itu pernah disimpan selama 32 tahun di sebuah kepulauan (entahkah itu kepulaun Hindia), Tiada seorangpun yang tahu.
Akhir tahun yang lalu, seantero surat kabar di Kepulauan Hindia(sekarang Indonesia), memberitakan tentang seorang tahanan polisi yang bisa keluar dari penjara dan menonton pertandingan tenis di Bali, tanpa seorangpun yang tahu. Bisa jadi, cincin emas Gyges sedang diproduksi ulang secara masal dan diobral- obral di tanah kepulauan itu.
Penfui, 14 februari 2011,
(Terinspirasi dari Plato, Republik)