Cincin Emas Gyges
RIBUAN tahun yang lalu. Jarak antara nirwana dan bumi masih mudah dijangkau.
Setahun setelah dewa Aspa memporak- porandakan bumi, seperti kebiasaan, bahwa semua gembala harus berkumpul bersama di kerajaan, untuk melaporkan seluruh ternak yang mereka gembalakan kepada raja. Gyges turut masuk ke perkumpulan itu dengan mengenakan cincin emas yang ia temukkan tadi di jari tangannya.
Ketika ia sedang duduk di antara para gembala yang lain, secara tidak sengaja ia membalikkan mata cincin itu ke bagian dalam telapak tangannya. Dan saat itu, dengan sangat cepat sekali ia tidak bisa dilihat oleh raja, dan semua orang yang berkumpul dalam pertemuan itu.
Gembala- gembala itu mulai berbicara seolah- olah dia tidak lagi berada di tempat itu. Mereka sama sekali tak melihat dia. Gyges sendiri terheran- heran dengan kejadian itu. Dan sekali lagi dia menyentuh cincin itu lalu mengarahkan mata cincin ke luar. Dia menjadi tampak lagi. Gyges melakukan percobaan beberapa kali dan hasilnya selalu sama. Ia bisa muncul. Bisa menghilang. Tergantung arah mata cincinnya.
Sejak bencana dewa Aspa, dan terlebih setelah Gyges mulai bisa muncul dan menghilang dengan bantuan cincin emas itu, pribadinya mulai berubah- ubah. Ia tak lagi setia menjaga kawanan domba raja. Hidupnya mulai beralih dengan cincin emas itu. Ia bisa makan di dalam kedai tanpa ada yang tahu.
Ia bisa mengambil pakaian- pakaian terbaik yang disimpan orang lain tanpa ada yang tahu. Ia juga mulai mengincar harta kerajaan, bahkan menngincar mahkota sang raja.
Suatu malam, saat semua penduduk dan seisi istana kerajaan sudah tertidur pulas, Gyges mulai mengarahkan mata cincinya ke tangan bagian dalam, berjalan melewati gerbang dan prajurit yang berjaga, memasuki pintu istana, mengelabuhi para dayang yang tak tahu apa- apa, lalu sampai kepada tujuannya, Kamar sang raja. Ratu terkejut mendengar langkah kaki mendekat. Ia tidak bermaksud membangunkan raja. Ratu terheran- heran melihat Gyges yang tengah berdiri menghunjukkan belati kearahnya.
"Kamu gembala itu?" ujar ratu perlahan kepada Gyges.
"Ya, aku Gyges gembala Miskin itu".
"Niat apakah yang menghantarmu kemari?"
"Takhta raja!" ucap Gyges sambil mendekatkan belati ke arah ratu.
Ratu begitu panik. Namun Gyges mengancam untuk tidak bersuara membangunkan raja, atau memanggil pasukan. Gyges lalu menunjukkan cincin emas itu kepada sang ratu, lalu mengajak ratu untuk berkonspirasi menggulingkan raja, membunuhnya, dan merebut tahta kerajaan. Ratu tidak membantah.
Demikianlah Gyges dan ratu mengambil alih kekuasaan dari raja dermawan itu, dan berdaulat atas kerajaan Lydia tanpa satu orang pun yang tahu. Tidak ada menteri, patih, hulubalang, ataupun panglima kerajaan yang tahu.
Demikianlah asal muasal cincin emas Gyges itu. Cincin itu tidak diketahui seorangpun selain Gyges dan ratu. Setelah Gyges mangkat dari takhta kerajaan, keberadaan cincin itu simpang siur. Tiada seorangpun yang tahu.
Beribu- ribu tahun setelah menghilang, keberadaan cincin itu mulai terkuak oleh beberapa gejalah di berbagai belahan bumi ini. Rupanya Cincin itu pernah dicuri dan dijual ke Eropa lewat seorang cukong pengembara, bahkan ada juga yang mengatakan cincin itu pernah disimpan selama 32 tahun di sebuah kepulauan (entahkah itu kepulaun Hindia), Tiada seorangpun yang tahu.
Akhir tahun yang lalu, seantero surat kabar di Kepulauan Hindia(sekarang Indonesia), memberitakan tentang seorang tahanan polisi yang bisa keluar dari penjara dan menonton pertandingan tenis di Bali, tanpa seorangpun yang tahu. Bisa jadi, cincin emas Gyges sedang diproduksi ulang secara masal dan diobral- obral di tanah kepulauan itu.
Penfui, 14 februari 2011,
(Terinspirasi dari Plato, Republik)