Radiogram
TRAVEL ini terlalu cepat untuk jalan berkelok seperti ini.Riel sibuk menahan mual, sudah hampir tiga jam terhimpit di antara....
Kami menyebutnya perang tanding," cerita itu dituturkan sepanjang perjalanan menuju RSPD yang adalah studio radio milik pemerintah daerah setempat.
"Lalu kenapa kita ke radio Pak? Bukannya harus ke kantor Polisi?" tanya Riel bingung.
"Polisi sudah ke lokasi. Kita ke Radio karena saya harus bikin radiogram. Kami di Manggarai, biasanya pakai radiogram untuk memberitakan kematian ke anggota keluarga yang lain," kata Pak Domi.
***
"Selamat pagi Pak. Ada yang bisa saya bantu?" seorang gadis muda menyambut. Ini dia gadis yang kemarin di travel yang sama dengan mereka. Dan dia mengenali Riel.
"Lho... yang kemarin sama-sama di travel kan?" katanya.
"Iya," Pak Mikael dan Riel serempak menjawab.
"Dunia itu sempit ya," sapanya ramah. Masih ada headset di telinganya.
Dan di sinilah pencarian Riel berakhir. Saat Pak Mikael sedang sibuk mengurus radiogram dengan gadis headset di ruangan lain, Riel duduk di samping radio monitor di ruang depan. Sedang mengudara program berita pagi. Nama ayahnya disebut di radio, Mikael Sendo, salah seorang korban perang tanding dari kampung Beo. Keterangan lain tentang Mikael Sendo adalah berumur 40 tahun dan belum menikah.
***
"Nama lengkapmu pasti Gabriel. Ironis. Gabriel itu nama malaikat pembawa kabar sukacita. Bagaimana nanti kau bercerita tentang ayahmu pada ibumu?"
"Bukan Pak, nama saya Al Riel, Anak Lelaki Sundari dan Mikael. Ini yang akan saya ceritakan pada ibu; ayah tidak pernah berhenti mencintai ibu, sampai dia mati."
Mereka sedang menunggu travel yang akan mengantar Riel ke Labuan Bajo dan kembali ke Malang. Perang tanding telah beberapa hari berlalu. Riel akan segera pulang.
Ranselnya bertambah berat, ada kopi Manggarai oleh-oleh dari Pak Domi, Songke Manggarai dari keluarga ayahnya, koran lokal dengan headline: Lagi, Manggarai Diguncang Perang Tanding, dan CD koleksi lagu Broery yang didapatnya dari si gadis headset penyiar radio, ada lagu Pamit di dalamnya.
Travel sudah menjemput. Riel bergegas naik setelah memberi salam perpisahan, "Saya pamit Pak Domi, terima kasih untuk semuanya."
Ada air mata yang menggenang, entah untuk siapa. Travel melaju, sopir yang sama seperti ketika dia datang dan seorang ibu entah siapa yang tertidur sejak perjalanan baru dimulai. **