Selasa, 9 Juni 2026

Radiogram

TRAVEL ini terlalu cepat untuk jalan berkelok seperti ini.Riel sibuk menahan mual, sudah hampir tiga jam terhimpit di antara....

Tayang:
Editor: Alfred Dama


"Dulu, bapak kalau main ke kos-an ibu, pasti bawa gitar dan selalu nyanyi lagu-lagu Broery," cerita ibunya suatu ketika. Riel masih kecil dan bukan anak generasi Broery. Dia hanya mengangguk seolah tahu, lalu bertanya, "Broery sama Sheila On 7 bagusan mana, Bu?"

Ibu hanya tersenyum lalu meneruskan cerita lain tentang ayahnya, namun selalu nampak canggung kalau ditanya tentang di mana ayahnya kini. Riel kecil hanya bisa menyimpulkan, ayahnya sudah meninggal saat ia masih dalam kandungan ibunya.

Kisah itu bertahan, sampai suatu saat ketika Riel sudah tamat SMA, ibu bercerita tentang ayahnya yang pulang ke kampungnya di Manggarai Flores, saat Riel masih dalam kandungan.

"Ayahmu pergi, bukan mati. Dulu kisah cinta kami tak direstui. Beda agama. Orang tua ayahmu, tidak setuju kalau anak lelaki mereka satu-satunya menikah dengan ibu. Mereka memaksa ayahmu pulang, bahkan sebelum kuliahnya selesai," Ibu mulai bercerita.

"Eyangmu di Blitar juga tak setuju. Ketika tahu ibu hamil, mereka menolak mengakui ibu sebagai anak mereka. Sejak itu, ibu tak pernah pulang ke Blitar. Dan yang kau panggil Eyang selama ini, sebenarnya adalah pemilik rumah kontrakan kita ini."

Ibu lalu berkisah lengkap tentang hidup mereka yang sederhana saat ini. Dari ibunya, Riel tahu nama ayahnya Mikael. Nama ibunya Sundari. Maka dia diberi nama Ahmad Al Riel; Al Riel: Anak Lelaki Sundari dan Mikael.

Kisah berlanjut. Mikael pulang ke Manggarai Flores, Sundari berhenti kuliah karena ayah ibunya di Blitar tak lagi membiayai kuliahnya. Setelah sempat terkatung tak jelas, Sundari diijinkan membuka warung di sebuah rumah kecil di kawasan Pisang Candi Malang.

Sejak saat itulah Sundari resmi menjadi warga Malang, mengurus hidupnya sendiri dan anaknya dan mengenalkan pemilik rumah kontrakannya sebagai Eyang.

"Kau pergilah ke Manggarai, cari ayahmu dan pulang ceritakan ke ibu bagaimana dia sekarang," kata ibunya setelah semua kisah itu terungkap.
                    ***
Maka di sinilah Riel sekarang, di dalam travel yang membawanya ke Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, tempat ia akan mulai mencari ayahnya.
"Nah, kita sudah sampai di Ruteng," kata Pak Domi memecah hening.

"Sudah sampai ya, Pak?"
"Iya. Nanti nginap di mana?

"Nggak tau Pak. Mau cari penginapan yang murah saja."
"Di dekat rumah saya ada."
                    ***
Di penginapan, di sebuah losmen kecil di tengah kota dengan jumlah tamu yang tak banyak tak satupun terkumpul informasi kecil tentang Mikael Sendo, ayah Riel. Ketika diberitahu tentang cirinya pun mereka hanya tersenyum.

Sebagian besar laki-laki Manggarai itu kulitnya hitam manis, bisa main bola, suka lagu-lagu Broery Marantika dan punya suara bagus. Itu kata mereka, tamu losmen itu. Riel tidur dengan pasrah.
                    ***
Suhu yang dingin menyapa menusuk. Sudah pagi. Ini hari pertama mulai mencari. Dia ingin memulainya dari rumah Pak Domi, tak jauh dari losmen. Sekedar mempersempit kategori pencarian dengan bertanya banyak kepada bapak yang ramah dan semoga mengenal Manggarai dengan sangat baik. Jika beruntung, Riel berharap bisa dapat sarapan pagi dan kopi Manggarai yang mereka bilang nikmat.

Lagi-lagi ibunya benar. Manggarai itu ramah dan menyenangkan. Suatu ketika ibunya pernah bilang, "Orang Manggarai itu senang berkumpul.

"Pagi ini, kata-kata ibunya terbukti. Rumah Pak Domi terlihat ramai. Riel perlahan memasuki halamannya lalu mematung sejenak di depan rumah sebelum si pemilik rumah muncul dengan tergesa-gesa dan wajah yang kusut masai.
"Pagi, Pak Domi," sapa Riel ramah.

"Eh, kamu Riel. Pagi juga. Saya mau ke RSPD, ikut saya ya," jawab Pak Domi cepat lalu menuju sepeda motornya. Riel seperti terhipnotis, tak sadar sudah ada di boncengan.
"Adik saya di kampung Golo, 10 kilometer ke arah selatan, meninggal. Ada sengketa tanah dengan warga kampung Bea, itu kampung tetangga. Mereka terlibat bentrok berdarah di lokasi sengketa jam 6 pagi tadi, dua warga kampung Bea tewas dan dari kampung Golo ada tiga orang. Adik saya salah satunya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved