Tempeleng Saja
TERNYATA harga sembako naik juga gara-gara rencana kenaikan BBM 1 April 2012 tidak dibatalkan tetapi ditunda.
TERNYATA harga sembako naik juga gara-gara rencana kenaikan BBM 1 April 2012 tidak dibatalkan tetapi ditunda. Hasilnya sama dengan bukan?
Bedanya harga BBM ditunda kenaikannya, harga sembako tidak pusing peduli, alias tetap naik. Pada hal pendemo sudah lumayan puas sebab demo tolak kenaikan harga BBM diterima. Eh, apa bedanya diterima dan ditunda, kalau kenyataannya sembako tetap tancap naik harganya? Hasilnya lagi-lagi sami mawon alias sama dengan.
"Aku sudah bilang berkali-kali, BBM belum naik jadi sembako pun tidak boleh naik harga," Rara bicara sambil cakar pinggang.
"Aku ini bos, pimpinan kalian. Tidak ada yang boleh berani lawan perintahku! Tahu kamu!"
"Tahu betul Bos bilang begitu," sambung Jaki. "Tetapi bos, harga tetap naik!"
"Saya tendang sapa saja yang berani kasih naik harga!"
"Harga tetap naik, Bos!"
"Saya tempeleng itu manusia yang coba-coba kasih naik harga!"
"Harga tetap naik, Bos!"
"Itu manusia yang kasih naik harga turut dia punya suka saya hajar sampai bengkok!"
"Bagaimana jalan keluarnya, Bos?"
"Hajar!"
"Jadi hanya itu jalan keluar nya, Bos?"
"Bila perlu, kamu juga saya jotos! Soal harga saja kamu mesti lapor saya! Kasih tahu itu orang-orang ya! Berani kasih naik harga, saya hajar!" Si Bos langsung bangun jalan dengan wajah merah padam.
***
Ternyata Si Bos Rara ini tetap seperti dulu. Telinga tipis, gampang tersinggung, dan main ancam sana sini. Soal listrik, ancam. Soal panen gagal, ancam. Soal banjir dan bencana alam, ancam.
Soal kerja proyek, ancam. Soal persiapan UN dan UN, ancam. Soal apa saja, Si Rara suka sekali ancam. Gayanya seperti jagoan. Seolah-olah semua orang akan tunduk padanya hanya kerena kebiasaannya untuk ancam sana ancam sini.
"Ya, apa boleh buat sembako naik harga, dan kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengendalikannya!" Jaki tampak putus asa. "Rara tidak dapat diharapkan!"
"Bukankah dia itu Bos?"
"Bos yang sedang berkuasa, bukan Bos yang sedang memimpin!" Sambung Benza.
"Kalau dia bisanya hanya ancam, bagaimana jalan keluarnya?"
"Ya, biar saja harga sembako pada naik turut suka!" Jawab Jaki.
"Tanya bagaimana kebijakan pengendalian harga. Suruh dia langsung turun lapangan untuk survei harga langsung di pasar.
Dialog langsung dengan pedagang dan pembeli. Cari jalan keluar yang bijak untuk kepentingan rakyat!" Protes Nona Mia.
"Kalau kamu mau, ya langsung saja bicara dengan Si Bos! Aku tidak sanggup lagi menghadapinya. Bahkan, aku hampir ditonjok gara-gara sembako naik harga!" kata Jaki.
***
"Halo Nona Mia! Halo Benza!" Si Bos menyambut kedatangan Nona Mia dan Benza dengan kedua tangan terbuka.
"Halo Pak Rara!" Nona Mia dan Benza pun menyapa sambil duduk di hadapan Rara.
"Sudah kusampaikan ke staf saya supaya kendalikan harga sembako di pasar-pasar. Tidak bisa itu mereka kasih naik harga turut suka. Saya suruh mereka catat itu harga-harga. Tidak ada satu pun dari mereka yang boleh melawan perintah. Semua harus turut perintah saya. Kalau tidak saya usir mereka dari pasar!"
"Kebijakan pengendalian harganya bagaimana Pak? Langkah-langkah apa yang perlu diambil?" Tanya Nona Mia.
"Tidak perlu kebijakan ini itu. Pokoknya harga harus turun. Jadi staf saya sudah turun ke pasar untuk kendalikan harga!"
"Ada regulasi tertentu yang dijadikan patokan untuk disepakati bersama Pak?"
"Tidak perlu itu!" Tangkis Rara. "Saya suruh staf catat semua manusia yang melawan. Nama-namanya diserahkan kepada saya. Minggu depan, panggil semua mereka ke lapangan upacara. Kumpul dan saya akan tempeleng satu persatu!"
"Setelah tempeleng harga turun Pak?"
"Ya! Pastilah!"
"Kalau harga sembako tetap tidak terkendali bagaimana Pak?"
"Kita tunggu saja laporan dari staf saya. Nah, itu sana salah satu staf saya sudah datang. Bagaimana kondisi lapangan? Semuanya turut perintah?"
***
Jaki, tipe staf yang telan bulat-bulat perintah bos, tertunduk-tunduk waktu memberi laporan. Intinya, harga sembako sulit dikendalikan. Para pedagang mempunyai berbagai argumen yang mendukung keputusan mereka untuk naikan harga sembako. Pedagang pun tanya soal kebijakan stabilkan harga serta aturan yang jelas tentang pengendalian harga. Sayangnya Jaki tidak dapat menunjukkan itu.
"Jadi harga sembako tetap naik? Saya hajar mereka nanti," Rara cakar pinggang lagi. Entah siapa yang melangkah duluan, sekejab saja Jaki dan Rara sudah melesat ke pasar. Benza diam membisu. Nona Mia hanya bisa geleng-geleng dan menarik nafas panjang. Tidak dapat dimengertinya, bahwa ada orang seperti Rara. Rara sungguh-sungguh bukan pemimpin. Rara adalah penguasa yang sangat arogan karena tidak punya kepala dan hati. Apa yang akan dilakukan Rara di pasar? Kita lihat saja nanti.*