Rabu, 10 Juni 2026

Tempeleng Saja

TERNYATA harga sembako naik juga gara-gara rencana kenaikan BBM 1 April 2012 tidak dibatalkan tetapi ditunda.

Tayang:
Editor: Alfred Dama

"Halo Nona Mia! Halo Benza!" Si Bos menyambut kedatangan Nona Mia dan Benza dengan kedua tangan terbuka.
"Halo Pak Rara!" Nona Mia dan Benza pun menyapa sambil duduk di hadapan Rara.

"Sudah kusampaikan ke staf saya supaya kendalikan harga sembako di pasar-pasar. Tidak bisa itu mereka kasih naik harga turut suka. Saya suruh mereka catat itu harga-harga. Tidak ada satu pun dari mereka yang boleh melawan perintah. Semua harus turut perintah saya. Kalau tidak saya usir mereka dari pasar!"

"Kebijakan pengendalian harganya bagaimana Pak? Langkah-langkah apa yang perlu diambil?" Tanya Nona Mia.
"Tidak perlu kebijakan ini itu. Pokoknya harga harus turun. Jadi staf saya sudah turun ke pasar untuk kendalikan harga!"

"Ada regulasi tertentu yang dijadikan patokan untuk disepakati bersama Pak?"

"Tidak perlu itu!" Tangkis Rara. "Saya suruh staf catat semua manusia yang melawan. Nama-namanya diserahkan kepada saya. Minggu depan, panggil semua mereka ke lapangan upacara. Kumpul dan saya akan tempeleng satu persatu!"

"Setelah tempeleng harga turun Pak?"
"Ya! Pastilah!"

"Kalau harga sembako tetap tidak terkendali bagaimana Pak?"
"Kita tunggu saja laporan dari staf saya. Nah, itu sana salah satu staf saya  sudah datang. Bagaimana kondisi lapangan? Semuanya turut perintah?"
                                            ***

Jaki, tipe staf yang telan bulat-bulat perintah bos, tertunduk-tunduk waktu memberi laporan. Intinya, harga sembako sulit dikendalikan. Para pedagang mempunyai berbagai argumen yang mendukung keputusan mereka untuk naikan harga sembako. Pedagang pun tanya soal kebijakan stabilkan harga serta aturan yang jelas tentang pengendalian harga. Sayangnya Jaki tidak dapat menunjukkan itu.

"Jadi harga sembako tetap naik? Saya hajar mereka nanti," Rara cakar pinggang lagi. Entah siapa yang melangkah duluan, sekejab saja Jaki dan Rara sudah melesat ke pasar. Benza diam membisu. Nona Mia hanya bisa geleng-geleng dan menarik nafas panjang. Tidak dapat dimengertinya, bahwa ada orang seperti Rara. Rara sungguh-sungguh bukan pemimpin. Rara adalah penguasa yang sangat arogan karena tidak punya kepala dan hati. Apa yang akan dilakukan Rara di pasar? Kita lihat saja nanti.*

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved