Rabu, 10 Juni 2026

Kabut di Tengah Bukit

HAMPARAN rumput hijau sore itu bak sebuah permadani. Dengan malas aku merebahkan tubuhku dan memanjakannya di atas permadani alami itu.

Tayang:
Editor: Alfred Dama
zoom-inlihat foto Kabut di Tengah Bukit
Net
Ilustrasi

"Dulu suami kakakku tidak berbuat seperti itu. Entah karena mengikuti tantangan kawan - kawannya dia akhirnya terlarut dalam kehidupan yang salah, pernahkah kamu memikirkan efeknya pekerjaannmu bagi orang lain?"

Rina menatapku tajam. Kutahu dia marah tapi aku juga berhak marah. Dia dan kawan - kawannya kuanggap sebagai pemicu segala masalah yang ada dalam keluarga kakakku. Aku jadi benci dengan kehadirannya kini. Rina bangun mengibaskan rok mininya dan pergi meninggalkanku sendiri.

Sejak saat itu aku melalui senja di kaki bukit sendirian. Hingga aku merasa bosan dan merasa kehilangan seorang sahabat yang pernah mengisi senjaku di sini. Ada rasa sesal akan ucapan yang pernah terlontar. Mungkin aku salah. Tapi sebenarnya aku ingin sekali dia bisa menemukan pekerjaan lain yang lebih baik.

Tekadku akan terus melalui senja di kaki bukit ini dan akan kuakhiri apabila aku bisa berjumpa dengan Rina untuk mendapatkan maaf darinya.

Hujan terus menerus. Dari kejauhan kulihat bukit itu tertutup kabut tebal. Dua minggu sudah aku tidak bisa menuju bukit itu lagi. Koran lokal sore ini kubaca tanpa minat namun ketika berita seorang PSK tewas terjatuh di kaki bukit membuat aku tersentak. Sekilas kubaca dan selanjutnya kupacu sepeda motorku dan pergi ke kaki bukit itu lagi.

Petugas yang mengamankan lereng itu menghalangi langkahku. Katanya tempat itu untuk sementara tertutup untuk umum. Dari petugas itu aku mengorek keterangan bahwa lima orang PSK melarikan diri dari tempat kerjanya.

Empat berhasil meloloskan diri namun satu orang tewas karena tergelincir dan masuk jurang. Ketika kugambarkan ciri -ciri Rina pada petugas itu dia memastikan bahwa bukan Rina yang bernasib naas itu.  

Seorang perempuan tua muncul dari antara petugas yang ada. Perempuan itu datang mendekat dan menyapaku. Tanpa basa basi dia menyerahkan sepucuk surat.

 "Dari Rina," katanya singkat ketika surat itu kuterima. Perempuan itupun pergi.  

Di dalam kamarku surat dari Rina kubuka perlahan.
Dear Anastasia. Maafkan aku untuk pertemuan kita yang terakhir. Aku tahu tak sepantasnya aku marah padamu. Aku minta maaf untuk apa yang terjadi pada keluargamu. Kamu tak akan pernah lagi menjumpai aku di kaki bukit itu.

Aku akan pergi. Aku berterima kasih untuk saranmu yang sangat berarti bagiku. Kusadari jalan yang kupilih ini salah. Harapanku aku bisa bertemu kamu lagi suatu hari nanti dan saat itu kamu bisa merasa bangga memiliki sahabat seperti aku.
                                                                                            Rina.
Sepucuk surat itu membuat aku tahu bahwa Rina telah keluar dari jalan yang telah dipilihnya. Permintaan maafku tak sampai padanya. Hanya doa yang terucap dalam hati semoga pelarian mereka berhasil dan mereka boleh menjalani hidup ini sebagai manusia bebas seperti manusia lainnya.

(Special to my lovely husband and daughter : Alex and Amanda Porat).

Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved