Rabu, 10 Juni 2026

Kabut di Tengah Bukit

HAMPARAN rumput hijau sore itu bak sebuah permadani. Dengan malas aku merebahkan tubuhku dan memanjakannya di atas permadani alami itu.

Tayang:
Editor: Alfred Dama
zoom-inlihat foto Kabut di Tengah Bukit
Net
Ilustrasi

Aku ingin bertemu dan bercakap - cakap lebih lama lagi dengan Rina. Rasa penasaranku hilang ketika dari kejauhan kumelihat sosok Rina. Rina tersenyum ketika motorku mendekat.

Mengambil tempat yang cukup nyaman untuk duduk sambil menikmati keindahan kota dari ketinggian dan selanjutnya kamipun terlarut dalam obrolan panjang. Yang membuat aku kagum ternyata pikiran Rina cukup maju. Berbicara menyangkut apa saja nyambung, walaupun dia hanya berijasahkan sekolah menengah pertama.

"Mengapa kamu tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi?"tanyaku ingin tahu. Mata Rina berkaca - kaca. " Maaf'"kataku lagi. Rina mengambl tissue dan menghapus air matanya yang mulai jatuh. " Hidupku pahit"kata Rina sambil menghapus air matanya.

Rinapun mulai bercerita. Keluarganya merupakan keluarga miskin. Ayahnya seorang buruh pabrik dengan gaji yang sangat minim. Ibunya juga pernah menjadi buruh pabrik. Ayah dan Ibu Rina bertemu pertama kali pada saat keduanya menjadi buruh pabrik sepatu.

Ringkas cerita keduanya jatuh cinta, menikah dan memiliki 5 orang anak termasuk dirinya. Setahun bekerja ibunya di PHK. Harapan hidup keluarga bertumpu pada penghasilan ayahnya. Rina tidak berpikir panjang ketika Helena tetangga Rina menawarkan pekerjaan di kota  dengan penghasilan menjanjikan.

Bermodalkan tiga potong pakaian, sandal jepit dan uang puluhan ribu berangkatlah Rina bersama Helena ke kota tempat Helena bekerja. Besar harapan Rina kehidupannya akan sama dengan Helena selain menghidupi dirinya sendiri juga bisa membiayai adik- adiknya di desa. Wajah ayah, ibu dan adik - adiknya terlihat sedih ketika Rina meninggalkan desa.

Helena bisa menyakinkan orang tua Rina bahwa pekerjaan yang digelutinya selama ini adalah pekerjaan yang halal dengan upah lumayan. Orangtuanya hanya bisa mengiyakan ketika Rina pamit.

Pekerjaan dikota tidak seperti yang Helena janjikan. Dengan berat hati Rina menjalankannya. Ingin pulang namun ketika wajah orang yang dicintainya muncul di ingatannya membuat langkahnya terhenti. Setahun menjalani profesinya, Rina dan kawan - kawannya dipindahkan tugas ke daerah ini.

Tempatnya bekerja membuka cabang usahanya di sini. Rina tak pernah mengabarkan pekerjaannya apalagi kepindahannya kepada kedua orangtuanya.

" Begitulah ceritanya", kata Rina dengan muka sembab. " Mencari pekerjaan jaman sekarang sangat sulit. Apalagi untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah yang lumayan seperti pekerjaanmu," sambung Rina. Aku tersentak. Begitu dalam aku mengikuti alur ceritanya. Aku terdiam dan dalam hati aku mengiyakan ucapannya  serta bersyukur kepada Tuhan akan apa yang aku miliki sekarang.

"Aku tidak pernah membayangkan akan bekerja seperti sekarang ini .Pekerjaan hina. Menjadi PSK. Tapi apa boleh buat aku tidak mempunyai pilihan lain. Dulu pernah punya cita -cita jadi perawat, tapi mana ada pendidikan yang gratis, dimana- mana harus mengeluarkan uang."

"Apa tidak ada profesi lain yang bisa kamu tekuni? Banyak orang dari daerah lain merantau ke daerah ini tanpa ijasah bermodalkan ketekunan akhirnya menjadi orang sukses. Pekerjaanmu bisa membuat hidup orang lain menderita.

Banyak keluarga yang sedang mengalami konflik mengalami pelarian ke tempat yang salah, tempatmu,"kataku selunak mungkin menutupi rasa keterkejutanku mengetahui profesinya.

"Kamu mau menyalahkan aku? Ini pekerjaanku. Bukan salahku bila mereka datang padaku mencari hiburan. Aku tidak pernah memaksa," jawab Rina dengan muka ketus. Wajahnya merah menahan amarah.

"Aku tidak sepenuhnya menyalahkan kamu tapi profesi kamu membuka peluang bagi orang untuk berbuat diluar aturan norma agama. Kamu tahu aku jenuh berada di sini karena apa? Itu karena aku bosan dan marah melihat kakak perempuanku satu - satunya harus menangis terus melihat suaminya setiap hari pulang dalam keadaan mabuk. Yang membuat dia mabuk adalah kamu dan teman - temanmu," kataku dengan nada tinggi yang tak bisa terkontrol. Aku sudah tak peduli dengan perasaannya lagi.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved