dr. Bobby Koamesah
Bicara Profesi Dokter Hingga Peternakan
Karena itu, kualitas seorang dokter sangat dibutuhkan dalam memberi pelayanan. Kuantitas pun demikian.
Penulis: maksi_marho | Editor: Sipri Seko
Kalau pengetahuan saya kira hampir sama, karena yang namanya pendidikan dokter ini ada yang namanya standar pendidikan kedokteran Indonesia. Kamu sekolah di universitas mana saja, nanti harus diuji dengan standar itu. Kalau tidak lulus ya tetap tidak lulus. Jadi tidak main-main. Sekarang ini kita masih baru, tapi dosen kita sudah 26 orang. Tapi ada 14 yang sekolah. Sekarang ini kita masih kerja sama, partnership dengan Unhas (Universitas Hasanuddin) Makassar. 80 dosen itu dari Unhas. Tiap hari ada dosen terbang yang datang ke sini untuk mengajar. Dan, penilaian semua diberikan oleh Unhas. Kita hanya memfasilitasi mereka saja. Hanya beberapa yang kita beri penilaian. Jadi yang datang itu profesor, doktor, profesor. Jadi tidak sembarang. Kalau tidak begitu, maka kita tidak boleh buka fakultas kedokteran. Semua nama pengajar itu. Spesialisasinya apa, kalau yang mengajar tidak jelas ya tidak boleh. Kita bekerja sama dengan Unhas dan itu kita bayar mahal itu.
Anda juga peternak ya? Sebenarnya usaha ternak ini sekedar usaha sampingan, hobi atau...?
Hahahaha....Kalau soal usaha ternak ini ceritanya panjang. Baru-baru ini saya dapat penghargaan dari Forum Akademia NTT (menunjukan penghargaan). Ini penghargaan dalam bidang kewirausahaan. Setahun sekali Forum Akademia NTT memberi penghargaan kepada orang NTT yang berprestasi. Saya sebenarnya memulai usaha ternak dari hobi. Mari kita melihat tempat produksi pakan ternak di belakang. Saya mulai dari hobi tapi kemudian terus berkembang seperti ini. Tapi sebenarnya yang mendorong saya untuk menjadi begini adalah karena ada rasa prihatin. Prihatiannya begini: Pemimpin-pemimpin kita di NTT ini sering bicara, NTT dulu gudang ternak tapi sekarng tinggal gudang. Kita ini dulu terkenal sapi-sapi kita, sekarang sapi kita tidak lebih besar dari kambing, babi juga begitu. Kita punya babi kampung ini kalau orang bule datang lihat sama dengan tikus.
Begitu ya...?
Nanti kalau sempat kita bisa lihat babi saya. Saya punya babi besar-besar, babi ras, babi pedaging. Saya coba pelihara dengan teknologi yang baik. Dan, kita ini begini pak, kita ini masih punya mental terjajah. Coba bayangkan, kita ini selama sekian puluh tahun usaha peternakan kita selalu bergantung dari luar. Bibitnya dari luar, makannya dari luar. Sampai sekarang. Jadi bagaimana kita bisa berjaya mengembangkan industri peternakan kalau kita masih bergantung dari luar? Nanti bisa lihat, lagi sedikit peternak kita akan menangis karena harga sudah mulai naik dan begitu harga minyak (BBM) naik, biaya ternak akan naik lebih tinggi lagi.
Bahan makanan ternaknya diambil dari mana?
Bahan lokal, tapi ada juga yang karena tidak ada di sini jadi kita datangkan dari Makassar dan Surabaya. Prinsip saya begini, gizi ternak itu kan mirip dengan gizi yang dipelajari di ilmu kedokteran. Hitung kebutuhan gizinya. Kita bisa merancang dia punya komponen-komponen gizi makanan yang dibutuhkan. Hitungannya, babi umur sekian kebutuhan gizinya berapa, umur sekian lagi berapa. Lalu saya coba buat dan pakai sebanyak mungkin bahan lokal. Tapi sekarang ini walaupun kita propaganda propinsi jagung, tapi baru sekarang jagung di Kota Kupang mencapai harga Rp 7 ribu perkilogram. Jadi jagung ini saya datangkan dari Surabaya dan dari Makassar. Usaha peternakan babi saya ini sudah mendapat kunjungan dari orang Australia dan orang luar negeri lainnya. Mereka katakan usaha ternak saya ini sudah sama dengan usaha peternakan di luar negeri. Prinsip-prinsipnya sudah sama.
Berapa jumlah ternak sekarang dan bagaimana dengan bibitnya?
Sudah 300 ekor. Bibitnya kita masih pakai sistem kawin suntik. Kunci usaha peternakan itu, pertama dari bibitnya, kedua dari pakan, dan ketiga dari manajemen kandang. Kalau dari bibitnya tidak bagus, kau biar berkorban berapa banyak pakan pun tidak akan jadi. Kita punya ini sudah coba, dengan bibit yang bagus, dalam waktu lima bulan beratnya sudah mencapai 100 kilogram.
Jualnya berapa?
Saya masih konsentrasi jual anakan. Tapi sudah mulai uji coba untuk penggemukan karena mulai produksi pakan sendiri. Belum kami pasarkan secara komersial. Mimpi saya adalah membebaskan peternak NTT dari penjajahan secara tidak langsung oleh produsen peternakan besar. Selama kita tidak bebas, pemerintah omong itu bagi saya nonsens. Tidak masuk akal. Kalau gubernur omong, mestinya dinas-dinas itu langsung bergerak. Ini tidak demikian.Gubernur bicara tapi stafnya diam saja. (maksi marho)
Pintar Beternak
BANYAK dokter buka klinik, buka praktik untuk melayani pasien. Tapi berbeda dengan Dokter Bobby Koamesah. Meski istrinya juga seorang dokter, namun ia dan istrinya, dokter Idawati Trisno, tidak buka praktik ataupun mendirikan klinik sendiri. Yang terjadi saat ini justru Dokter Bobby Koamesah memiliki usaha peternakan babi. Bahkan, saat ini ternak babinya telah berjumlah 300 ekor dan telah mampu memproduksi sendiri pakan ternaknya.
Ternyata, selain pintar ilmu kesehatan atau kedokteran, Dokter Bobby Koamesah juga pintar beternak. Pengetahuannya tentang usaha budidaya ternak pun tidak kalah dengan ahli peternakan atau kedokteran hewan dan sarjana peternakan. Bicara praktek beternak babi apalagi, pasti dokter Boby lebih pintar dari seorang sarjana peternakan. "NTT dulu gudang ternak tapi sekarang tinggal gudang. Kita ini dulu terkenal sapi-sapi kita. Sekarang sapi kita tidak lebih besar dari kambing. Babi juga begitu. Kita punya babi kampung ini kalau orang bule datang lihat sama dengan tikus," kata Dokter Bobby Koamesah ketika ditemui di kediamannya, Minggu (11/3/2012) sore.
Dokter Bobby merintis usaha ternak babi miliknya sejak tiga tahun lalu. Tetapi ternyata usahanya terus berkembang. Pengetahuannya sebagai dokter yang mengerti tentang obat, ilmu gizi dan lainnya menjadi dasar yang kuat untuk belajar tentang usaha ternak babi. Tidak sedikit pula buku-buku pengetahuan tentang beternak babi dibeli dan dibacanya supaya lebih memahami bagaimana beternak itu bisa berhasil.
Apalagi, antara ternak dan manusia memiliki beberapa kemiripan sehingga memudahkannya memahami. Ketika diwawancarai wartawan Pos Kupang pun, ayah empat anak ini langsung mengajak wartawan Pos Kupang melihat langsung tempat produksi pakan ternak miliknya. Hal itu supaya apa yang diceritakannya bisa langsung dilihat wartawan.
Di dalam gudang pakannya, ada tumpukan karung berisi makanan ternak. Produksi makanan ternak di gudang itu sehari-hari dilakukan empat orang pekerja. Bahan dasar untuk memproduksi makanan ternak yang berbentuk pelet itu adalah bahan lokal seperti jagung dan sebagainya. Pakan ternak itu diproduksi menggunakan sebuah mesin yang tampak berdiri kokoh di dalam gudang seluas kira-kira 10 X 15 meter. "Hari ini hari Minggu, jadi tenaga kerja tidak masuk. Banyak orang termasuk dosen peternakan sudah sampai ke tempat ini. Teori tentang ilmu peternakan mungkin mereka lebih tahu, tetapi kalau mau omong praktiknya pelihara ternak belum tentu," katanya.
Master bidang manajemen kesehatan ini bahkan telah melatih para tenaga kerjanya tentang bagaimana menolong ternak babi yang bersalin atau melahirkan, bagaimana mengukur kadar gizi bahan yang diolah menjadi makanan ternak. "Ilmu ini kan bisa dipelajari. Apalagi dasar pengetahuan tentang kedokteran sudah ada. Ternak babi itu adalah binatang monogastrik. Sistem pencernaannya tidak jauh beda dengan manusia," kata suami dari dokter Idawati Trisno ini.
Dokter Bobby lahir dan besar di Kupang. Setelah menamatkan pendidikan di SMA Negeri I Kupang, ia lalu melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Di kampus FK Universitas Brawijaya Malang inilah, Dokter Bobby bertemu dengan dokter adik semesternya bernama Dokter Idawati Trisno, yang kini sudah menjadi istrinya.
Kini pasangan dokter ini sudah memiliki empat orang anak, tapi anak mereka yang pertama justru masuk jurusan teknik di sebuah universitas di Pulau Jawa. Belum ada yang mengikuti jejak kedua orangtua mereka untuk menjadi dokter.
Kini, Dokter Bobby Koamesah telah menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Undana dan ikut bertanggung jawab terhadap lahirnya dokter yang memiliki integritas tinggi. Sehingga nantinya diharapkan bisa memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat di wilayah NTT.
Sementara istrinya, Dokter Idawati Trisno adalah senior consultant kesehatan di LSM internasional AusAID. Dalam keseharian, mereka memang tergolong orang yang sibuk karena memiliki pekerjaan yang menumpuk. Karena itulah, keduanya memilih untuk tidak membuka praktek dokter pada sore atau malam hari. Dengan harapan sepulang dari kerja, mereka bisa bergabung dengan anak-anak di rumah. (mar)
Data Diri
Nama : Dokter Bobby Koamesah
TTL : Kupang, 16 Oktober 1961
Istri : Dokter Idawati Trisno
Anak : Yosua Timoti Koamesah (kuliah Fakultas Teknik)
David Stefen Koamesah (SMA Negeri I Kupang)
Jeremy Mudi Koamesah (SMP)
Grace Tesabela Koamesah (SD)
Pendidikan dan Karir :
- SMA Negeri I Kupang
- Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang
- Dokter di Puskesmas Oesao
- Lanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran UGM
- Jadi dokter di RSUD Ruteng-Manggarai
- Pindah ke Kupang jadi Wadir Pelayanan RSU Prof. Dr. WZ Johannes Kupang
- Kasubdin Penanganan penyakit menular Dinkes Propinsi NTT
- Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran (FK) Undana sampai sekarang